Mahasiswa
1 tahun lalu · 762 view · 3 min baca menit baca · Budaya 33029_90846.jpg
https://m.liputan6.com/citizen6/read/2140560/6-penulis-indonesia-yang-mendunia

Twitwor Bumi Manusia: Siapa Lebih Berhak Atas Sastra

Rasa-rasanya baru kali ini dalam sejarah twitwor Indonesia, sebuah karya sastra menjadi topik pertikaian para netizen. Sejauh pantauan saya, hampir selama satu minggu "Bumi Manusia" awet bertengger di trending topic, tak selesai-selesai dipersoalkan. Alhamdulillah perdebatan udah majuan dikit soal Bumi Manusia. Biasanya kan soal Bumi Bulat atau Bumi Datar. Demikian salah satu cuit guyonan Zen RS di twitter.

Sekilas saja, Bumi Manusia adalah buku pertama dari tetralogi buru mahafenomenal karya Pramoedya Ananta Toer. Pram menulis bukunya ketika mendekam di penjara di Pulau Buru. Meskipun dalam kondisi demikian, ia tak berhenti menulis. Bahkan pernah suatu waktu ketika tak ada kertas Pram tetap menulis di atas kertas bekas kantung semen.

Buku-buku karya Pram dicekal dan dilarang terbit, bahkan kerap dibuang dan dibakar lantaran dianggap meresahkan para penguasa pada saat itu. Dari sini, setidaknya kita bisa sedikit memahami reaksi para pembaca Pram tatkala tersiar kabar salah satu mahakaryanya akan difilmkan.

Twitwor yang bekembang di jagat maya tersebut mula-mula dipicu oleh Hanung Bramantyo yang mengumumkan akan mengadaptasi novel Bumi Manusia ke dalam bentuk film. Tokoh sentral dalam buku itu, yakni Minke, lantas akan diperankan oleh Iqbaal Ramadhan yang sebelumnya sukses membuat jutaan penggemarnya klepek-klepek lewat film adaptasi lain berjudul "Dilan". Maka tak perlu menunggu waktu lama, usai konferensi pers itu diadakan internet pun menjelma menjadi medan pertempuran sengit, antara mereka kalangan bumi datar yang setuju versus mereka yang tidak terima (sama sekali).

Saya tak ingin membahas motif di balik keputusan Hanung dan timnya yang memilih Iqbaal sebagai Minke, ataupun repot-repot membuat prediksi analitis mengenai bagaimana wujud filmnya kelak (sebab sudah banyak kritik yang beredar tentang itu). Untuk informasi saja, bahkan sudah ada loh netizen yang bikin petisi untuk "memboikot" Iqbaal. Ya siapa tahu, negara ini kan selalu punya kejutan. Ingat pepatah Yunani, netizen bersatu semua bisa dikalahkan. Sebab kedaulatan negara ada di tangan netizen. 

Di sela-sela keributan itu, yang tak luput dari amatan saya ialah kemunculan geng-geng banal yang sama-sama keras kepala. Yang pertama kelompok awam tapi begitu percaya dirinya menyulut api pertikaian. Di mana dari kubu tersebut tercetus satu firman netizen yang cukup hits: "Siapa sih itu Pram? Cuma numpang tenar saja!" Ini sebuah ujian kesabaran.

Di lain pihak, kubu yang satu lagi juga tak mau kalah. Dari sana muncul jargon-jargon merasa paling nyastra. Setiap kali tahu ada yang belum baca Bumi Manusia, dihajar habis-habisan. Atau jika ada yang mau mulai membacanya, langsung dicekal: "Kemana aja baru baca. Dasar alay!"

"Yang paham ngalah." Kata bijak itu barangkali cukup tepat dalam konteks persoalan ini. Toh, lagipula momen ini sebenarnya bisa dijadikan sebagai ajang untuk saling merangkul, bukannya malah lantang memaki mereka yang awam tentang buku. Bukankah banyak membaca seharusnya membuat kita mampu memahami, bukan justru merasa paling tahu?


Ucapan Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu seminar yang saya ikuti rasanya masih relevan, bahwa seharusnya sastra jangan malah menciptakan jarak. Sastra boleh dimiliki siapa saja, tanpa pandang umur, tanpa pandang bulu. Tak perlu pula dibuat pengkotak-kotakan, seperti misalnya bacaan "berat" hanya milik kelompok tertentu, yang alay minggir saja. Kalau begitu terus, stigma bahwa sastra hanya milik kelompok-kelompok elit yang gemar menatap senja akan terus kekal selamanya.

Bagaimana kita mampu meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang konon anjlok itu, apabila melihat seseorang membaca novel Dilan langsung dinyinyiri, dikucilkan, dan dilabeli tidak nyastra. Atau misalnya di lain kesempatan, kita asyik betul mencemooh orang-orang yang menggandrungi Fiersa Besari karena dianggap alay. Padahal, toh kita tidak pernah tahu bahwa barangkali buku-buku yang dianggap tidak nyastra itu malah bisa menjadi pintu gerbang bagi mereka untuk mengembangkan minat bacanya ke fase yang lebih jauh.

Sastra semestinya inklusif, bukan malah sebaliknya. Tetapi untuk mampu menyentuh segala kalangan, sastra tentu saja amat bergantung pada penikmatnya. Bagaimana mungkin itu bisa tercapai apabila kita sebagai para penikmat sastra malah berupaya memisahkan diri dari yang lainnya, menciptakan kubu-kubu eksklusif, bahkan arogan tak mau menerima orang-orang yang selera bacaannya dianggap picisan?

Saya tentu tidak bermaksud mengharamkan kritik atas sebuah karya, karena itu soal lain. Tetapi lewat tulisan ini, saya cukup berharap supaya kita tak lelah untuk terus saling memahami satu sama lain. Toh pada akhirnya, saya pikir keberhasilan sastra justru ketika ia mampu membuat penikmatnya menjadi lebih peka pada sekelilingnya, bukan justru menjadikan seseorang merasa lebih eksklusif dan superior dibanding yang lainnya.



Artikel Terkait