Puisi Moh. Faiz Maulana 


Kau Masih Ingin Jadi Penyair?

Kenapa masih kautulis banyak puisi
sedang luka di dadamu masih kau biarkan
menganga?
puisi yang mana yang akan
kaubacakan untukku?

Kau ingat saat angka kelahiranku tanggal,
tengah malam kau ketuk pintu jendelaku
kau kayuh sepedamu dengan sekuat rindu
deraknya mendebarkan jantung
tubuhmu diselimuti dingin udara
dengan selembar kertas di tangan kirimu
kau datang mendongengkan puisi

sepasang kekasih yang saling mencintai
mati dibunuh jarak
dan membungkusnya dengan rapi
kedalam laci pikiranku.
aku menguntit di balik tirai
mendengarkan rindu bernyanyi.

Aku suka salah satu baitnya,
kau bilang akan mencintaiku dengan tidak sederhana
kau tahu, mencintai tidak sesederhana
apa yang dipikirkan orang-orang tua
kau ingat berapa usia kita waktu itu?

kau mengajakku menulis puisi bersama
tapi kau menulis namaku berkali-kali di dadamu
sedang aku tak menulis apa-apa

katamu puisi seperti pohon beringin
yang tumbuh besar di depan kantor kecamatan
daunnya yang rimbun melindungi tubuh kita dari hujan
rantingnya kau jadikan sampan kecil
untuk berlayar menuju hatiku
kau suka menyendiri di bawahnya
warna akarnya yang kecoklatan
mengingatkanmu pada kulitku.

Apakah kau masih ingat?
aku suka melihatmu menulis puisi
dan membacanya untukku.

Aku masih menyimpan satu puisimu
kelak akan kubacakan kepada anak-anakku
akan aku ceritakan tentangmu
penyair yang tidak menangis
saat ditinggal kekasihnya pergi.

Apakah kau masih ingin menjadi penyair
saat perempuan yang kau cintai
telah disetubuhi cinta yang lain?
puisi yang mana yang akan kaubacakan untukku?