"Aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu, hingga cinta datang karena tlah terbiasa."

Aku terus menyanyikan lagu itu. Lagu asli milik Dewa, yang dulu dinyanyikan oleh Once. Namun, lagu yang sudah di banyak didaur-ulang penyanyi baru dan muda, baik laki-laki dan perempuan. Semuanya terdengar indah, mendayu-dayu, dan positif. Ya, positif untuk membuka hati seseorang.

Lagu ini mensugestiku untuk melakukan sesuatu dengan segera. Aku ingin membuat dia mencintaiku. Dia harus mencintaiku. 

Aku segera menyusun rencana, bagaimana cara mendapatkannya. Aku begitu terobsesi padanya. Atau mungkin karena aku punya visi dan misi khusus untuk mendapatkannya. Apa harus membuat kegiatan bersama lagi. Mengapa aku begitu terobsesi?

Awalnya, mungkin karena aku merasa didekati, kemudian dicuekin. Seperti kata pepatah, habis manis sepah dibuang. Aku awalnya kagum kemudian jatuh cinta padanya, ketika kami dekat, teman tapi mesra, dia tiba-tiba hilang dariku, tepatnya menghindariku, dan kabarnya, dia pacaran dengan Sari sekarang.

Siapa yang tidak sakit hati? Setelah kami akrab, dan dekat. Setelah kami bersama-sama menyelenggarakan pergelaran lomba Literasi itu. Tiba-tiba dia menghilang. Tidak pernah mencariku, menghubungiku lagi, dan menyapaku lagi. A

Asem, emang enak dicuekin?

Padahal, dulu hampir setiap hari kami diskusi di kampus untuk menghelat acara itu walaupun kadang bersama teman-teman BEM yang lain. Dia pun terkadang hadir di kostku, mencariku hanya untuk menanyakan sesuatu. Di media sosial pun, dia rajin me-like statusku baik di FB dan Ig, dan mengirimi pesan di mesengger atau chat secara japri di WA.

♡♡♡

Setelah ujian mid semester, aku pulang kampung liburan satu minggu ini. Ibuku heran, mengapa mukaku tidak mulus lagi.

"Jerawatmu banyak sekali, nak. Apakah kamu stres belajar di kampus?" Tanya ibuku khawatir.

"Tidak juga, bu. Aku menikmati kuliahku, pelajaranku, kegiatanku sebagai anggota BEM jurusan, kostku yang tenang, dan ..." aku belum melanjutkan kata-kataku karena ibuku tiba-tiba berkata,

"Pacaran?" Tanya ibuku lagi buru-buru.

"Tidaklah, bu." Kataku deg-degan, wajah Nando terbayang, si ketua BEM jurusanku yang angkuh itu.

"Ibu kira, jerawat cinta." Kata ibu tertawa menggodaku.

Apakah jerawat selalu tanda jatuh cinta? Bisa saja karena aku sekarang malas cuci muka karena ketika capek pulang malam, aku langsung jatuh tertidur di kasur. Aku juga selalu makan mie goreng instan di kost sehingga membuat jerawat muncul. Memang bukan gaya hidup sehat. Atau karena aku memang jatuh cinta? Pada Nando yang membuatku uring-uringan sehingga hormonku tidak seimbang?

♡♡♡

Aku ke rumah Nenek Kapi, sekitar lima kilo meter dari rumahku. Setelah naik kendaraan umum sekitar lima menit. Aku harus menaiki kendaraan lain, yaitu bendi. 

Rumah Nenek Kapi berada di bawah bukit, beliau terkenal sebagai pembuat bedak basah untuk muka yang bermasalah. Ibuku telah mengenalnya sewaktu dia muda. Ketika mukanya juga bermasalah dengan jerawat walau telah diobati bermacam-macam. Ketika dia memakai bedak basah dari nenek Kapi, ajaib, jerawatnya hilang. Dia pun menyuruhku harus ke sana.

Cantik, awet muda, dan selalu tertawa. Begitu gambaran Nenek Kapi. Beliau hidup sendiri dengan sederhana di rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di teras rumah atas itu, ada alat penumbuk beras dari kayu yang sudah jadul. Ada beberapa baskom besi berisi bunga-bunga dan beras yang terendam.

Aku menceritakan maksud kedatanganku. Aku bilang, aku disuruh ibuku ke sini, karena beliau sangat khawatir dengan mukaku yang tidak lagi mulus. Nenek Kapi sangat mengerti, beliau sudah berpuluh tahun mengerjakan pekerjaan membuat bedak basah, dan melayani banyak pelanggan.

Beliau menyuruhku datang minggu depan. Aku bilang, aku sudah harus ke kota minggu depan. Beliau lalu menyuruh datang kembali hari Jumat, hari yang baik karena di malam jumat, beliau akan melakukan ritual khusus untuk bedakku.

♡♡♡

Hari Jumat, aku sudah di rumah Nenek Kapi lagi. Beliau memberikan bedak yang terbuat dari campuran beras, bunga-bunga, dan rempah-rempah khusus. Lalu, memberikanku sebuah mantra ketika memakai bedaknya yang dicampur air biasa sebelum tidur. 

"Wahai cahaya muka, kembalilah seperti sediakala." Kata nenek Kapi sambil meniup bedak yang hanya sepiring kecil itu. "Semoga mukamu segera cantik kembali." Kata nenek Kapi tersenyum.

"Nek, apakah nenek punya mantra lain, aku sedang menyukai seseorang, tapi aku tidak tahu perasaannya." Kataku pelan. Aku ingat kata ibu, bedak nenek Kapi juga manjur untuk mendapatkan jodoh.

"Baca mantra ini juga ketika memakai bedak, wahai angin sampaikan salamku padanya... sambil menyebut namanya, ya." Nenek Kapi berkata sambil memamerkan gigi putihnya yang masih bagus di usianya yang menjelang seratus tahun.

"Terima kasih, nek." Kataku berbinar, kucium tangannya, beliau memelukku seperti cucunya.

♡♡♡

Setiap malam, bedak basah itu kupakai dan mantra itu kurapalkan. Baru tiga malam jerawatku kempes, sebentar lagi, mukaku akan mulus kembali. Tapi, Nando, si teman tapi mesra belum kembali.

Aku pun punya strategi merapalkan mantra "Angin" setiap saat agar angin segera menyampaikan salamku pada, Nando.

♡♡♡

Di kampus, aku melihat Nando berjalan menuju basecamp BEM. Aku ingin menghindar, karena aku juga menuju kesana. Kami sudah saling berhadapan. Aku panik, aku tak tahu harus bagaimana, tapi aku berusaha tenang, dan membaca mantra.

"Angin sampaikan salamku pada Nando." Kataku dalam hati penuh harap. Angin tiba-tiba berhembus dengan kencang, daun-daun dari pohon yang tumbuh di depan BEM berjatuhan. Rambut panjangku sampai terbongkar.

"Ria? Apa kabar?" Kata Nando ramah, sepertinya suprice melihatku.

Dan aku terdiam, hanya melihatnya sekilas, lalu melengos masuk duluan ke basecamp.