Penulis
2 tahun lalu · 75 view · 2 menit baca · Puisi 4290784933_312dfbb2ed_b.jpg

Kau dan Neraka Yang Lenyap di Perantauan

Manusia adalah dinamika, katamu menyambutku. Dikelilingi botol-botol minuman keras yang telah kosong, dan poster-poster band punk rock yang menghiasi dinding di belakangmu, kau seakan ingin mengatakan bahwa dirimu sudah benar-benar berubah. Benar-benar dinamis.

“Kau tahu aku terinspirasi oleh siapa?” tanyamu seraya menuangkan bir ke dalam gelas. Pikiranku teralihkan. Otakku tak mencari jawaban atas pertanyaanmu – yang kutahu hanyalah pertanyaan retoris. Tetapi aku tertarik pada bir yang ada di tanganmu. Bagaimana mungkin anak kuliahan sepertimu meminum begitu banyak minuman keras?

“Kau tahu aku terinspirasi oleh siapa?” kau ulangi sambil menyodorkan gelas padaku.

Aku menggeleng.

“Bagaimana mungkin kau lupa tentang secarik kertas yang kau tulis padaku?” dahimu berkerut. Lalu kau menepuk bahuku “Ya, kau lah orangnya!”

Aku berusaha mengingat di surat kapan kata-kataku menginspirasimu. Tetapi itu terlalu sulit. Suratku sudah begitu banyak. Dan sudah lama aku tak menulis surat padamu. Lagipula, aroma tubuhmu berhasil membuyarkan konsentrasiku.

Malam itu rasanya aku ingin memelukmu. Mengenang semua yang telah kita lalui ketika saling mendekap. Tetapi kau sedikit terasa asing bagiku. Bahkan ketika kau mendekatkan wajahmu, seakan mengatakan ingin mengulang kisah kita yang dulu, tak ada getaran sedikit pun dalam hatiku. Dan kita hanya berbicara kutipan-kutipan filosofis – yang dulu pernah kukirimkan kepadamu, untuk melalui malam di kamarmu.

“tuhan sudah mati” kau mengutip Nietsche untuk menjawab kegelisahanku atas gaya hidupmu kini “Dan uang yang membunuhnya” wajahmu sendu.

Aku mencoba memasuki lubuk hatimu lewat tatapan nanar matamu. Kupikir tatapan nanat itu adalah pertanda kau membuka diri. Tetapi aku tak bisa. Kau semakin terasa asing bagiku. Ada apa denganmu?

Kita akhirnya larut dalam diam. Merenungi hidup yang telah membawa kita menjadi orang yang berbeda dan sulit menyatu. Menyatu dalam kegembiraan. Menyatu dalam perjuangan.

Aku semakin yakin untuk diam ketika sadar kata-kataku yang kutulis padamu, yang ternyata mengubahmu terlalu jauh. Memang kita tak yakin betul, apa itu suatu kemajuan atau kemunduran dalam perkembangan diri. Tetapi kita yakin, kita telah berada di jalan yang berbeda.

“Bisakah kita di jalan yang sama lagi tanpa tuntunan moral?” kau memecah keheningan. Matamu menatapku lembut. Tetapi aku tetap diam.

“Bisakah kita di jalan yang sama bila tujuan kita berbeda?” kau memejamkan mata “Rasanya kau masih ingin menuju surga atau apapun namanya. Sedang aku tidak. Surga telah kunikmati dalam hidup ini, dan neraka telah lenyap.”

Aku masih diam. Meski kutahu harus berbicara apa, aku memilih diam.

“Aku hanya ingin bersamamu dalam hidup ini. Kelak setelah hidup di dunia ini, mungkin  kita tak akan bersama lagi. Meskipun aku mengikuti jalan hidupmu, toh yang punya otoritas bukan kau. Aku hanya ingin kita bersama lagi. Siapa tahu, kebersamaan kita akan melenyapkan neraka dimana pun. Sebab, apa yang lebih kuat dibanding cinta?”

Artikel Terkait