Penghujung akhir pekan di awal candra. Almanak berbilang ganjil warna merah, aroma bersuka ria. Tulat, hingga esok lusa, lini masa pembantaian puncak bayangan di Gunung Penanggungan siap menanti.

Sebuah pentas penutupan warsa yang seram. Arogansi sebuah pakansi panjang, berteriak lantang. Puncak bayangan akan diinjak, terus diinjak, sedang puncak sejatinya, si Pawitra tunggu giliran.

Bilur-bilur puncaknya nampak berandang usang. Membekas goresan kasar pendakian massal. Bak penjagal, gagal rapal kode etik pecinta alam poin ke-2, memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

Mereka sudah tak peduli, menggiring perjamuan lacur di puncak Pawitra yang nampak mancung nan calak. Sebuah stratovolcano suci bagi kitab Negarakartagama.

Gunung Pawitra atau Penanggungan di Jawa Timur kini kritis, penggerusan oleh pendakian massal dan pengambilan sebagian tanahnya untuk landasan baja dan beton dari pabrik-pabrik milik korporat.

"Usahakan tidak berkemah," saran Lumen.                         

"Kenapa kak?" tanya Mariska.

"Kita tektoker, lahir dari rahim ecocriticism," jawab Lumen.

“Baiklah, aku berikrar detik ini. Tektoker!” seru Mariska

“Saya juga,” kata si Lucid enteng tanpa pekik.

Hurrah!”  

Detik-detik sebelum keberangkatan pendakian, dua dara, Mariska dan Lucid mendapat wejangan dari Lumen. Menyimak kritik pedas tentang membludaknya pendakian massal akhir pekan. Dua puncak akan tergerus, puncak bayangan dan puncak Pawitra gunung Penanggungan. Akankah terus habis terkikis?

Jika kau tetap jalang, tega membuat lapang, tanpa peduli norma pendakian hijau, bersiaplah. Rerumputpun tak sudi, enggan datang, pestamu selalu berulang. Kau bawa puluhan tapak kaki untuk membuat repetisi tanpa alasan.

Kini puncak Pawitra tak mampu lagi menampung ratusan pendakian massal akhir pekan. Mereka dengan buas mendirikan perkemahan yang semestinya tak perlu.

"Nanti rasakan rohnya," Lumen berkata berbau profetik.

"Wah urusan roh segala," ucap Lucid membuyarkan sabda religi. Sambil melipat rapi kain bandana bermotif gunungan, Lumen membaca sadurannya dari kitab Tantu Panggelaran kepada dua dara itu,

Brahmana titahkan dewa

Cabut Himalaya usung ke Jawa

Tercecerlah Pawitra

Meru suci sabda pandita

Wahai para muda Majapahit

Pawitra sakit

Gersang terjepit

Tiada wingit

"Kak Lumen," ucap Mariska mesra, sedikit merepek. Seakan memberi konjungsi, aroma keberpihakan. Entah karena suara Lumen yang berat berwibawa, atau karena sadurannya. Sedang Lucid, di sampingnya mendengus, nampak beroposisi bak banteng ketaton.

"Bertanggungjawab adalah ketika kita para pendaki menolak hedon.”

“Memberi ruang napas bagi Pawitra, menghindari repetisi pendakian yang tak perlu."

“Serta selalu beradab saat mendaki, agar sembuh lukanya.” papar si Lumen sambil menyiapkan logistik pendakian.

Sepertinya Lumen hiraukan si Lucid, ia pandangi Mariska terus. Terlihat dari nakal ekor matanya. Entah karena simpati atas kebulatan tekad Mariska yang berikrar menjadi seorang pendaki ramah lingkungan, tektoker.

Berbarengan dengan nakalnya ekor mata Lumen, tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik. Ternyata sebuah lembaran kertas di tangan Lucid sudah kusut teremas, sepettinya ia membuat sebuah interupsi atas ekor mata yang liar itu. Mungkin kalau yang digenggam Lucid sebongkah batu, tak akan tertahankan lagi api cemburunya. Wah!

“Mendaki gunung boleh-boleh saja, namun jangan untuk memuaskan hasrat dan nafsu swafoto dan sejenis rumpang narsisme lainnya,” lanjutnya bersemangat.

“Usahakan untuk selalu galang kegiatan konservasi di tengah hasrat mendakimu.”

“Bukan hanya rekreasi dan hura-hura pindah makan dan tidur.”

“Bukan pula untuk menggemukkan pemasukan loket-loket serakah dengan tarip-tarip yang memberatkan bagi sesiapa yang ingin berziarah di puncak-puncak perkasa !”

Kini kedua dara nampak nyenyat, lanyak tak acuh, sibuk dengan portofon yang sedang menderau, gapai-gapai frekuensi ambang tepat, satunya lagi sibuk dengan gawai nirkabelnya.

"Kak Lumen," panggil Mariska sengaja mesra. Kini bukan lagi kertas yang diremas Lucid, namun sebuah kacamata hingga remuk dan ripuk.

"Cukup!" interupsi lasak si Lucid.

"Ayo berangkat!" serunya bedegap, berbarengan dengan rongsok kacamata remuk jatuh ke lantai.

Dua gadis gagal bujuk Lumen untuk berkemah nanti malam di puncak bayangan, Gunung Pawitra. Lumen bersikeras setelah mencapai puncak Pawitra langsung turun, tentunya setelah mencatat semua paparan polutan bagi biologi hutan proyek terbarunya.

Peralihan pendakian camper ke pendakian tektoker sungguh berat bagi Lucid dan Mariska. Mereka berdua masih berselera berlama-lama berkemah di lapang-lapang tanah yang disediakan. Jelas ramai, penuh, dan tejadi repetisi injakan ke tanah. Rumput-rumput tergilas, akar sekarat!

"Biar aku yang bayar semua," ucap si Mariska menyerobot, halangi tangan Lucid yang sudah duluan tersodor di loket pembayaran pintu masuk pendakian Pawitra yang bertarip mencekik.

Nampak beberapa lembar uang kertas basah oleh warna merah, bukan luntur uangnya, namun akibat telapak tangannya yang berdarah. Pastinya tertusuk gagang kacamata yang diremasnya tadi.

"Sudah aku saja," kata Lucid sambil menggeser lengan Mariska di lubang loket tersebut. Dalam benaknya kali jangan sampai kalah, seperti tadi. Lucid berpameo dalam hati, akulah Candrakirana! 

Sepertinya si Lumen tersenyum puas, merasa jadi Raden Panji yang sedang nonton pagelaran adu budi dua dara. Keikhlasan sudah kabur, antara simpati dan sehati.

Pukul enam pagi nampak cerah, beberapa pendaki berdesakan di antrian loket tiket pintu masuk jalur Tamiajeng. Ini adalah pintu masuk paling tenar untuk pendakian Pawitra. Nampak petugas loket memberi instruksi untuk tertib antri, dengan wajib entry cost tentunya.

Beberapa lainnya memberikan summit attack briefing. Petugas-petugas gabungan antara pihak yang terkait beserta swakarsa desa kaki gunung nampak bersemangat. 

Membuncah, berbarengan dengan naiknya kuota pendakian yang melebihi ambang batas konservasi. Disinilah permasalahannya, jumlah yang massal tanpa kontrol kuota, seperti riuh karnaval.

“Nanti jangan sampai turun berlarian di pos Watu Tikus”.

“Hati-hati dengan longsoran batu, jangan bergurau, tetap waspada!” pesan si Petugas dengan antusias bak seorang sersan kawak memberi peringatan kepada cecunguknya. Ironis pak! Ketika kuota pendakian tanpa batas, rupiah membanjir, sedang Pawitra sekarat!

Fenomena trend setter, pendaki kekinian lahir dari rahim peramban media sosial, sebuah akademi instan untuk jadi pendaki, bukan pecinta alam sepertinya. Tongkat narsis dan tongkat pendakian, kini sulit dibedakan.

Keduanya mencocok hidung para pelaku ecovandalism. Para pemburu tagar dan selasar swafoto! Para pencoret-moret batu gunung dengan cat-cat semprot. Menuliskan nama mereka atau nama kelompok mereka di batu-batunya agar tenar, agar terbaca oleh yang lain, sebuah mental inlander!

"Frekuensi base camp jangan lupa," perintah si Lumen menunjuk ke papan dengan tulisan sebuah frekuensi HT tim SAR Penanggungan di pos loket itu.

“Siap!”respon si Lucid. Dengan sigap jemarinya pencet tombol reset moda UHF pesawat HT-nya. Kalau jeli, terlihat sangat keras memencetnya, nampak sebuah ronde awal pelampiasan api cemburu..

"Selain kemah konservasi, jangan dirikan untuk yang lain, kecuali darurat", ucapnya awali pendakian.

“Untuk gunung-gunung di bawah 3000 meter, tak perlu camp.”

“Selain jejak, jangan tinggalkan yang lain, termasuk sampah.”

“Jangan petik apapun, selain cinta.”

Nah ini, ini dia makin bikin panas. Akhirnya mereka bertiga mulai melasak deru, bergerak dengan logistik dan peralatan minimalis. Beberapa potong ketela goreng, penganan kolo pendem nonbungkus plastik. Dan tak lupa botol verdples metal yang berisi amunisi dehidrasi, teh wangi manis.

Beberapa rombongan pendaki camper ceria dilewati. Pergerakan melaju, sedang mereka pendaki camper ceria sarat dengan logistik dan peralatan yang berat, bersiap untuk ngendon, makan-makan, tidur serta memperbesar volume buang hajat.

 "Kau lihat, seperti pindah makan dan tidur, " ujar Lumen.

" Tanpa meninggalkan sampah dan longsoran?" tanyanya sendiri.

“Gak mungkin!”

Lucid dan Mariska, tiada kata, pengap dengan buru napas, ingat kawan, ini gaya pendakian tektok. Rute cepat kaki gunung-Puncak-aki gunung. Sebuah konsep pendakian ramah lingkungan, light hiking, ziarahi puncak lalu turun.

Sepuluh menit mereka bertiga bermanuver, sampailah di pos dua. Beberapa warung berdiri, lengkap dengan pembelinya. Rautan bisnis tajam! 

Membidik pangsa pendaki yang akhir-akhir ini melonjak drastis. Mengenai harga, jelas kita akan menjura murah, berterima kasihlah kepada rakyat kaki gunung yang ramah harga.

"Cuma bertiga dik?" Seorang pendaki paruh baya menyapa.

"Iya pak," jawab Mariska, karena si bapak tadi terlihat menodongkan pertanyaan kepadanya. Lumen dan Lucid, sibuk dengan gelegak air teh manis. Pilih verdples logam agar tak berplastik, sampah!

“Hati-hati dik!”

“Baik pak, terima kasih.”

“Mari.”

“Sampai jumpa di puncak!”

Memang nampak janggal jika beberapa, kalau rombongan hal biasa. Gunung Pawitra dihajar tanpa ampun, mulai kanak hingga manula, menggerayang hingga puncak. Ketinggiannya yang cebol, membuat mudah digapai, tanpa susah payah, cuma 1639 meter dari atas pemukaan air laut.

Kontras dengan tetangganya, Gunung Arjuno dan Welirang, menjulang, yang tak semua umur sanggup menziarahinya. Sebuah seleksi alam. 

Pendakian berlanjut, beberapa kali antri jalur, penuh oleh pendaki yang berpose di photobooth alami, seperti pohon berbatang besar, bongkahan batu hingga apapun yang bisa laku untuk komoditi notifikasi dan like di media sosial.

Hanya butuh satu setengah jam untuk sampai di puncak bayangan. Kenapa 'bayangan'? Bukan sejati tentunya. Sebuah lapang di pertengahan badan Pawitra, terbuka yang asalnya rimbun, tiap hari ada saja semak yang tercabut, perluasan camp! Alasan yang tak ramah.

"Orang kuno Majapahit cukup jeli," Kata Lumen.

"Menjadikan Gunung Pawitra sebagai mercusuar,” lanjutnya.

"Maksudnya kak?" Tanya Mariska.

"Pawitra dijadikan tempat peribadatan para resi, gunung suci penuh candi," jelas Lumen.

"Kok gak ada hubungan dengan mercusuar?" Lucid protes.

"Anggap saja mengeluarkan cahaya rohani, memberi petunjuk," jawab Lumen enteng.

"Mercubuana kali kak", kilah Mariska, beranikan diri debat sang senior.

"Intinya Majapahit memperlakukan Pawitra berimbang, membuat sakral, tak sembarangan merusaknya," balas Lumen.

"Tidak menjadikannya sebagai TPA, tempat pembuangan akhir sampah serta ponten umum," sahut Lucid mengakhiri.

Dan benar terlihat ada kisaran 60 tenda berdiri di pelataran puncak bayangan. Jika saja masing-masing tenda punya enam titik tancap pasak, maka ada 360 lubang yang menusuk badan Pawitra, 360 titik akan merusak pengakaran rumput dan perdu.

Belum lagi paparan limbah perkemahan, yang itinerarinya hanya makan dan tidur. Lainnya, semisal tekanan hasil rebahan berat badan di dalam tenda dan titik-titik injak hilir mudik penghuninya yang akan memperluas padatan yang halangi persemaian vegetasi. Membuat tanah makin botak.

Jika tiap tenda berisi 4 orang, maka sehari saja akan ada berliter-liter limbah air kencing yang tumpah-ruah di bumi Pawitra. Belum lagi limbah feses, yang pasti  berkilo-kilo serta menggunungnya sampah rumah tangga sebuah perkemahan massal.

Tinggal kalikan berapa hari, dimana rata-rata akhir pekan mereka berkemah selama dua hari. Fantastis! Sebuah perkemahan massal yang kurang bermanfaat bahkan merusak! 

Belum lagi kerusakan yang lain, muda-mudi yang berasyik masyuk di dalam tenda, karena di bawah sana, di perkotaan, takut digerebek satpol PP. Ladang maksiat tanpa kontrol masyarakat.

Beriring dengan sang bayu menyapu keras, meluru tajam. Petala langit cerah, tiada awan dan kabut. Sang baskara gagah dan sinarnya kukuh. Lumen, Lucid dan Mariska sampai di pos Watu Tikus.

Sebuah gua sakral yang banyak telan korban, para pendaki yang ugal-ugalan turun. Kepala pecah, patah tulang hingga cedera ringan akibat terpeleset bebatuan labil. Pos Watu tikus terletak di jalur tengah yang kondisinya parah tergerus oleh intensitas jejakan dan tapakan serta friksi kaki-kaki pendakian massal.

"Ris ambil jalur kanan," Lumen mulai cemas melihat Mariska melaju di jalur tengah yang penuh bebatuan labil yang siap longsor.

“Siap kak,” respon Mariska.

“Jalur tengah bahaya Ris, arus balik dari puncak gunung padat.”

“Bentar kak cari yang landai.”

“Iya santai saja.”

“Kak Lumen, tunggu!”

Sedang di sana ada Lucid, kelihatannya Lumen tak acuh, terbukti meninggalkannya sendirian menapak jalur pendakian. Kini Lucid terus mantap melangkah di jalur kanan, sebuah jalur yang berupa trek kontur padatan namun licin.

Tiba-tiba terdengar suara batu runtuh, jalur di tengah dipenuhi batu yang menggelinding, sebesar bola golf. Lumayan kalau menggelinding dari atas, penuh daya tumbuk tinggi karena mengalami percepatan dan potensial gravitasi. Prakk hantam tubuh jika tak waspada dan fatal akibatnya.

Sepuluh tahun yang lalu jalur ini belum ada, hanya ada dua pintu masuk pendakian Pawitra, jalur Jolotundo dan Jalur Kali putih. Pembukaan jalur baru adalah salah satu bentuk perusakan hutan.

Sebaran sampah akan bertambah, area vegetasi yang terusik makin luas serta kans kebakaran hutan makin tinggi. Sekarang jalur pendakian penanggungan majemuk, ada lima jalur siap menggurat-gurat tubuh si Pawitra.

"Kak Lumen, tunggu," teriak sekali lagi dari Mariska manja. Lumen hampir tiba di Puncak. Tidak ada aturan "lady first" di sebuah sebuah pendakian ultralight atau tektok. Ini bukan gaya pendakian insan yang mabuk kepayang, saling gandeng tangan lewati trek terjal.

Berjalanlah satu satu, depan belakang sama-sama beresiko, hadapi resikonya. Prinsip itu mendarah daging bagi para tektoker. Lain siang ini, adegan roman picisan dari para pendaki dadakan banyak dipertontonkan, mulai saling pangku beristirahat, hingga paparan kurang beradab lainnya.

 "Ayo. Dikit lagi puncak."

"Capek."

"Semangat!"

“Ah..”

Sedang jalur kanan sepi. Senyap dari percapan romantis. Lucid dalam kesendirian. Salah ambil jalur? Memang ada tiga, tengah yang beresiko, kiri Lumen dan Mariska serta kanan Lucid dengan cemburunya.

Sedang jalur tengah pergerakan pendakian ramai. Rata-rata di dominasi pemula yang takut kesasar dan takut ketinggian yang membuntut saja pada trek botak. Kemiringan jalur tengah sangat curam.

Kontur ini membuat pendaki yang defisit nyali lebih pilih ngesot ketika turun. Dari ngesot hingga keasyikan menjadi seluncuran, ini yang membuat petaka, jalur terkikis, batu berjatuhan.

 Tiba-tiba Lucid hilang pandangan dari Lumen. Beberapa bongkahan batu halangi pandangannya. Berharap terlihat setelah lewati halangan. Namun, Lucid tak tampak juga, kemanakah? Lalu lalang pendaki yang naik turun menambah kekaburan posisinya.

“Lucid!” terdengar Lumen cek posisi Lucid via HT di genggaman tangannya.

Receiver hanya berdesis, pertanda tak ada jawaban.

“Lucid!”

"Stop!" seru Lumen.

"Ada apa kak?" tanya si Mariska.

"Lucid," jawab Lumen sambil celingukan, berharap Lucid muncul dari balik bebatuan yang lain.

"Kita susul aja kak."

"Yuk.”

Keduanya menyeberang jalur yang dipisahkan cekungan. Cukup sulit juga perpindahan dari jalur kiri ke kanan, harus melewati jalur tengah yang rawan longsor!

Lumen dan Mariska kali ini harus benar-benar harus jaga keseimbangan.

Arah daki mereka tidak ke atas lagi, namun menyamping, titik terawan oleh pengaruh gaya gravitasi. Sekali terpeleset habis sudah.. Setelah beberapa kali melewati cekungan nampak di atas mereka sosok terduduk, mengerang sambil memegangi keningnya..

"Kak Lumen, lihat, itu kan...Lucid!" teriak Mariska.

"Luciiiiid.....! jerit Lumen histeris.

Darah mengucur dari kepala Lucid, merah mengotori tangannya yang berusaha menghentikan kucurannya. Beberapa pendaki juga nampak mengerumuninya, berusaha untuk evakuasi si Lucid. Tapi si korban tenang-tenang saja. Lumen dan Mariska meringsek dekatinya.

"Jatuh?" tanya Lumen.

"Ndak," jawab Lucid tegar, tiada rasa sakit yang nampak ditahan, mungkin pengalihan tentang rasa itu.

"Terus?"

"Pendaki ugal-ugalan, turun berlarian kecil di jalur tengah".

"Longsor? Dan batu menghantam ?"

"Benar longsor, namun di bawah kosong, gak ada pendaki."

"Dahimu?

“Resiko.”

“Maksudnya?”

Lucid tak menjawab. Lumen penuh tanda tanya. Nampak di kejauhan Mariska sibuk berbicara dengan salah seorang dari kerumunan pendaki. Sepertinya mencari tahu. Lumen membasuh luka Lucid dengan sebotol air mineral yang dimintanya dari beberapa pendaki yang berkerumun.

"Lucid berkelahi!" kata Mariska setengah menjerit.

“Apa?”

Lumen tercengang, sambil mengguyurkan air di luka gores tersebut. Untuk apa Lucid berkelahi? Dengan siapa ? Roh testosteron dari tomboy? Amarah cemburu? Anti vandalisme? Perlawanan fisik? Semua berkecamuk saling silang.

"Ris tolong kain bandanamu," pinta Lucid sambil tangannya menunjuk ke kain bandana motif gunungan itu.

Mariska dengan cepat merespon, membalut kening yang terluka. Sepertinya jenis luka robek kecil, namun darah deras mengucur.

“Biar aku saja yang balut,” tawar Mariska.

"Aku damai dengan ini" kata Lucid gemetar

“Gunungan di kepalaku.”

“Terbayar sudah.”

Bak ratapan seorang martir konservasi. Lantang beradu darah dengan para penikung kelestarian. Walaupun terlihat seperti kekanak-kanakan, sepele berantem. Namun Lucid langsung mempraktekkan di lapangan. 

Tegar dan siap menerima segala resiko. Ini bukan perlawanan zona nyaman di forum-forum simposium. Ini praktek langsung di lapangan. Perlawanan terhadap pola pendakian massal!

Lumen memperhatikan bandana yang menjadi pembalut keningnya, sepertinya telah menjadi jawaban atas semua pertanyaan yang ada di kepalanya. 

Gunungan adalah wayang berbentuk gambar gunung beserta isinya. Biasanya sering disebut dengan kekayon berasal dari kata kayu artinya pohon. Kekayon diartikan sebagai pohon hidup atau pohon hayat. Sebuah pesan resistensi.

Kini kain bandana motif gunungan itu merah oleh darah. Gunungan di pewayangan alam melambangkan berbagai hal seperti gunung, pohon besar, api, ombak, samudra, angin ribut, gua dan lain-lain. Kekayon juga melambangkan kehidupan, lambang dari sangkan paraning dumadi.

Sementara dari arah puncak, nampak pemuda belia, seumuran adik Mariska yang duduk di bangku SMA. Turun perlahan pincang dan gontai menunduk penuh penyesalan. Mendekat ke Lucid, bersimpuh sujud, pecah tangis berat dan dalam.

"Maaf kak, saya khilaf," pinta si pemuda.

"Maaf," ia mengulangi sambil pecah tangis. Bak sekuel sebuah roman elegi, si pemuda membuncahkan rundung dukanya.

"Sudahlah," jawab Lucid.

Sangkan paraning dumadi,” ucap Lucid berwibawa.

Tiba-tiba seorang saksi mata insiden berdarah itu maju. Ingin jelaskan kepada Lumen, Mariska dan beberapa pendaki lain yang mulai berdatangan membentuk koloni. 

Mereka berusaha tenang dan tetap dingin. Terlihat juga teman-teman si pemuda belia nampak mengikutinya, kalau dilihat dari emblem yang terjahit di lengan baju mereka adalah sebuah kelompok Sispala, Siswa Pecinta Alam.

"Begini, tadi saya lihat si mbak cakep ini menyeberang jalur, mengarah ke si mas pemuda ini yang turun ugal-ugalan," katanya bak seorang diplomat.

Lumen dan Mariska menyimak tegang. Sementara yang lainnya cuma mematung, berusaha pasang kuping, angin menderu, penjelasan terdengar lamat-lamat disapu angin.

"Si mbak sepertinya menasehati si mas ini, agar turun santai saja, gak perlu berlarian, bahaya."

“Terus terjadi perang mulut, dan saya tak dengar apa yang diperdebatkan,” kata si saksi.

“Saya yang salah maafkan saya,” potong si Pemuda.

“Mbak ini benar, dia menasehati untuk pelan-pelan agar tidak menggelinding batunya,” lanjut si Pemuda.

“Terus kami adu argumen, dan saya emosi, merasa digurui” si pemuda berterus terang.

“Si mbak juga emosi, dan saya dorong si mbak, kami saling dorong, maafkan saya,” pintah sang Pemuda memelas.

“Lucid,” tiba-tiba Lucid bergerak sambil menyodorkan tangannya untuk digenggam oleh sang pemuda.

“Aryo,” ucap pemuda itu terperanjat sambil menyalami erat tangan Lucid.

Keduanya tertegun, khusuk dengan perkenalan oleh hikmah, perkelahian tak berimbang, walau Lucid tomboy.

Tak dapat disangkal, emosi mudah tersulut di sebuah pendakian. Heroisme yang tak pada tempatnya, gengsi kelompok dan bendera perhimpunan, rasa sok kuat, individualisme, arogansi level adrenalin, berkumpul jadi satu.

Pawitra memberi pelajaran hari ini. Tentang kesabaran, tentang pohon hayat, seperti beberapa pujangga yang mengartikan Pawitra sebagai kehidupan yang tiada habis atau yang disebut nunggak semi, patah tumbuh hilang berganti.

“Mari turun ,” tawar si Lumen.

“Yuk,” sahut Lucid ceria, perubahan mimik drastis yang sulit dipraktekkan.

“Mari mas Aryo,” ajak Mariska yang sedari tadi dikerubuti teman-teman Aryo. Bukan untuk resistensi, namun tak lebih sebuah atraksi, cantik memang Mariska.

Teman-teman si Aryo berjalan beriringan di belakang.

Mereka mengamati tiga pendaki ramah lingkungan, ultralight hiker. Mulai dari outdoor gear yang dipakai Lucid, Lumen dan Mariska tak luput dari mata mereka. 

Cara menapak jalur yang hati-hati serta berbagai adab pendakian ramah lingkungan juga mereka perhatikan. Simpel dan minimalis. Sebuah edukasi learning by doing, sangkil dan mangkus!anatara pembelajar dan pebelajar.

Walau konsep pendakian ramah lingkungan mereka susah menembus batas kepentingan ekonomis di pintu-pintu masuk beserta loketnya, paling tidak mereka memulai dari diri sendiri yang ditularkan secara langsung di area yang bermasalah dengan problem perusakan alam oleh pendakian massal.

Regulasi kuota pendakian perlu dipopulerkan, batasi! Hedonisme penikmat puncak-puncak tertinggi harus dikendalikan. Penikmat puncak-puncak tertinggi harus bertoleransi dengan tuan rumahnya, gunung.

“Kak Lumen kapan-kapan saya undang untuk acara Diklatsar Sispala kami ya?,” pinta si Aryo.

“Siap!”

“Sekaligus kampanye pendakian ramah lingkungan.”

“Ide bagus.”

“Kami tertarik.”

Rombongan Lumen dan Aryo tiba di bawah, melewati loket pembayaran yang masih ramai saja mendulang rupiah. Tahukah mereka apa yang baru saja terjadi di atas sana? Itu rahasia para martir!

Kami akan terus berusaha dan berjuang dengan tauladan dan perlawanan khas, akan terus mempopulerkan ultralight hiking yang ramah lingkungan. 

Kami dengan perlawanan khas, akan selalu berusaha mencetak penerus yang tidak asal naik gunung. Kami anti pendakian massal. Kami selalu berharap dukungan semua pihak untuk kelestarian puncak-puncak tertinggi yang tercinta.