Beberapa orang suka mengingat-ingat sebagai bentuk rasa syukur atas segala perih yang dilewati. Karena dengan begitu, mereka telah belajar untuk berusaha untuk tidak mengulangi rasa itu lebih baik lagi selanjutnya. Adapula yang mengingat untuk meratapi penyesalan akibat kegagalan atau keterlambatan menyadari akibat dari masalah sejak dini. Terlepas dari duka atau suka, lebih dari sekedar fungsi otak yang bekerja. Ingatan adalah sebuah candu.

Hai gadis anggun.

Apakah konsiliasi sudah menjadi kebiasaan kita? Memang bukanlah hal yang buruk. Tetapi karena terlalu sering, akhirnya kita menganggapnya remeh. Meminta maaf malah menjadi sebuah formalitas, bukan untuk menyesali kesalahan dan berusaha memperbaikinya. Terlepas dari sesuatu yang tidak sengaja, kesalahan memang kadang tak terhindarkan. Mungkin bukan bermaksud untuk menyinggung, tapi kadang memang terasa.

Sedikit koheren dengan gagasan Marx yang mengatakan “Agama adalah candu masyarakat” yang dimaksudkan karena pada masanya kaum proletar yang enggan bangkit karena sudah merasa takdirnya tertindas dengan seyogianya.

Seperti kataku tadi “Ingatan adalah sebuah candu” karena dengan mengungkitnya kita terjebak dalam jurang yang bernama konstan.

Hai gadis cerdas.

Tahukah kamu bahwa orang akan kesal terhadap seseorang karena melakukan banyak kesalahan, tapi akan lebih kesal jika seseorang itu melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Saat konsiliasi terbentrok dengan ungkitan hal lama yang membuat diriku atau dirimu tak bisa berkata-kata, disitulah keresahan terbesarku. Aneh sekali, ketika mempunyai sebuah masalah yang masih hangat lalu sengaja dikaitkan dengan masalah lama yang tidak berhubungan. Entah aku tak tahu lagi hasilnya.

Hai gadis manis.

Mengenai ungkapan sayang atau cinta. Sebuah rasa yang sangat abstrak namun selalu kita coba untuk menggambarkanya. Apakah itu adalah sebuah denotasi yang memberi definisi objektif atau hanya sebatas konotasi dalam ruang lingkup perspektif tertentu.

Aneh sekali jika kita begitu sering mengungkapkanya tanpa tahu esensi makna ungkapan tersebut. Jujur akupun belum mengerti. Mungkin memang pandangan kita sangat berbeda dan pada dasarnya memang tidak bisa untuk disimetriskan. Lalu pertanyaannya adalah apakah itu bisa disinkronkan?

Das ding an sich.

Memiliki arti "Benda pada dirinya sendiri”. Sebuah gagasan terkenal dari filosof Jerman, Immanuel Kant. Kenapa aku selalu menyinggung tentang dia. Ya, aku adalah fans beratnya. Bukan terhadap sosoknya melainkan terhadap gagasan cemerlangnya itu. Lalu apa hubunganya?

Dengan itu kita bisa memahami bahwa Cinta itu bisa menjadi 3 pengertian. Cinta menurutku, cinta menurutmu, dan cinta menurut cinta itu sendiri. Sesuatu hal yang sangat berbeda, yang jelas aku tak tahu bagaimana Cintamu kepadaku, apakah dari hati atau hanya sebuah ucapan dan ketikan saja atau mungkin itu tidak ada.

Hai gadis baik.

Aku sedang lelah. Aku belum bisa memahamimu lebih jauh, sungguh. Tak tahu lagi harus bagaimana. Banyak sekali kekuranganku. Maafkan aku. Aku pernah berkata “Yang kita bicarakan baru sedikit sekali. Masih banyak hal yang ingin ku sampaikan, lebih tepatnya aku membutuhkan tanggapan darimu”.

Aku berharap itu akan terwujud, hari dimana kita berdua berbincang tentang Sang mbah filosof. Kaum Sofisme dan Helenisme. Jika itu terlalu kuno, kita bisa bahas yang lebih modern yaitu Skeptisismenya Rene Descrates, Psiko-analisisnya Sigmund Freud atau Cinta Eksistensialismenya Jean Paul Sartre. Jika kamu menganggap itu terlalu westernisasi, kita bisa pindah ke timur yaitu Ahimsanya Mahatma Ghandi, Tafahu al-Filsafahnya Ghazali, atau Tafahut at-Tafahut nya Ibn Rusyd. Jika kamu menganggap itu semua dari luar negeri, kita akan masih bisa membicara Madilognya Tan malaka, Marhaenismenya Soekarno, atau Alam Pikiran Yunaninya Moh. Hatta. Jika kamu menganggap itu mengapa lelaki semua, kita akan bahas mengenai feminisme juga yaitu Betty Freidan, Fatima Mernissi, atau R.A Kartini dan masih banyak lagi yang bisa kita bicarakan.

Namun Jikalau semua itu memang tidak sempat, maafkan aku. Mungkin aku terlalu rumit untukmu.

Aku tahu kamu memiliki kehidupan yang menyenangkan. Jangan menyangkal. Aku hanya tak mau sedikit merusak itu. kamu juga mempunyai banyak teman curhat, jangan sungkan. Mungkin kamu bosan bercerita denganku, jadi lakukanlah dengan mereka. Aku ungkapakan ini dengan mudah karena aku tak memilik gengsi sebesar yang kamu punya. Maaf telah lancang.

Kamu yang cantik dengan segala keunggulanmu.

Sakit hati ada untuk kita nikmati, agar semakin mengerti.

Bahwa merelakan jauh lebih baik dari bertahan dalam kesakitan

-Wira Nagara-

Sekarang sedikit lebih baik, guncangan itu menyadarkanku. Bahwa tak pantas sekali diriku. Sangat naif. Aku sudah tidak tahu lagi.

Jujur, aku tak tahu juga pandanganmu terhadapku. Jadi jika memang ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, katakan saja. Aku tidak akan sakit hati karena itu. Malah aku sangat siap mendengarnya.

Dalam kesepian aku mengumpulkan rasa agar tercipta sebuah asa.

Sebuah tumpukan keresahan yang disusun sedemikian rupa supaya enggan untuk memberi antipati, sehingga dapat mengerti guncangan yang dahsyat ini dalam perasaanku. Seperti itulah risalah ini bercerita.