Mahasiswa
5 bulan lalu · 186 view · 4 menit baca · Politik 25958_12139.jpg

Katanya Infrastruktur untuk Rakyat Kecil?

Akhir-akhir ini musim penghujan membuat Embah harus bersusah payah mengangkut rumput dari sawah. Bersaing dengan lumpur, kubangan air, dan batu gragal di jalan. Ancaman kepleset dan risiko kecemplung kali yang dalam di kiri jalan kampung. Ini jalan atau bajakan kerbau, tak ada beda.

Embah tiba di rumah. Perhatian yang sontak kepada berita di layar televisi. Pembangunan jalan Tol Trans Jawa sangat membantu mempercepat pembangunan, kata pembawa berita . Embah hanya bisa bergeming dan menyembunyikan kekecewaannya. Ia hanya berkomentar dengan ungkapan andalannya, asu tenan.

Pembangunan Tol Trans Jawa telah diresmikan oleh Pakdhe Jokowi. Ramai diberitakan berbagai media. Pemerintah mengklaim geliat ekonomi dapat ditingkatkan dengan dibangun jalan ini. Justru ini berbalik pendapat dengan Embah saya. 

Bila Embah saat ini Menteri, mungkin ia menyarankan Pakdhe Jokowi untuk bangun jalan aspal di kampungnya. Kelakuan Embah tak kalah dengan netizen yang suka nyinyir di media sosial. Kritiknya sama pedasnya dengan cibiran mulut tetangga.


Efek dari jalan aspal di kampung yang diharapkan ini kelak diperkirakan tidak kalah dengan Tol Trans Jawa. Selain menjadi akses utama warga kampung pergi ke sawah, juga akses mencari rumput dan bercocok tanam di ladang. Jalan ini juga digunakan mobilisasi angkut panen kampung. Bukankah ini termasuk menciptakan percepatan ekonomi dari kampung ke kampung?

Proyek Tol Trans Jawa ini sebenarnya sudah lama digagas 23 tahun yang lalu. Namun baru era Pakdhe Jokowi dapat terealisasi, meski belum selesai sepenuhnya. Targetnya bukan main, 1.150 km menghubungkan Merak sampai Banyuwangi. Saat ini sudah berhasil menghubugkan Jakarta-Surabaya dan sampai di Pasuruan.

Lantas saya juga teringat dalam pelajaran sejarah tentang pembangunan Jalan Anyer-Panarukan. Dalam pembangunannya banyak memakan korban. Namun tidak ada media yang mencari tahu kira-kira ada tidak korban dari Proyek Tol Pakdhe Jokowi. Ya, siapa tahu ada.

Panjangnya bukan main, lebih dari 1.000 Km. Dibangun oleh Herman Willem Daendels. Boleh juga bila menyandingkan Pakdhe Joko dengan Mas Daendels. Cuma perbedaan tentu pribumi dan Londo. Kulit sawo matang dan putih.

Kalau 1.150 km ini mie ayam, berapa besar mangkuk yang harus dibuat untuk menampung mie ini? Jawabannya tidak ada. Abang penjual mie ayam yang sanggup menyediakan? Ngayal aja

Miris jalan kampungku dan Embah keadaan rusak tidak karuan. Kadang hasil panen tidak bisa diangkut apabila hujan turun. Hasil panen terpaksa harus segera dipikul bila kendaraan roda dua tidak bisa masuk. Bila mau nekat, motor bisa tinggal kerangka saja. Sebab medan mirip arena off road. Hujan yang datang membuat tanahnya bletok (licin berlumpur). 

Saya hanya kasihan, Embah bisa saja kepleset. Kasihan terhadap nasib kawan-kawan Embah di kampung. Padahal kebutuhan pangan nasional bermuara dari sawah Embah di kampung bersama Pak Bejo dan kawan-kawanya. Tak kalah beban dan tanggung jawab yang besar diemban oleh Embah di sawah. 

Beliau harus mengatur kebutuhan stok beras tiap panennya bersama Pak Slamet dan Pak Bejo. Bagaimana pula Pakdhe Jokowi memandang sebelah mata hal ini? Saya bisa memandang Nawacita dan swasembada pangan hanya omong kosong saja. Pak Bejo hanya bisa pasrah. Pak kades juga tidak terlalu peduli dengan kondisi ini, masih asik berdua dengan istri muda; eh.

Bila jalan aspal ada di kampung, para peternak bebek pun dapat dengan mulus jalannya bila ada jalan yang lebih baik. Bebeknya jauh lebih tertib, tak takut terkena tilang ketika mencari makan ke sawah. Emak dengan mudah mencari elpiji ke warung Embak Ima tanpa takut ban motor terselip. Ayam-ayam jadi sungkan mau berak di jalan, soalnya jalan sudah mulus, bahkan mungkin akan lebih mulus dari paha artis drama Korea.


Embah masih saja membayangkan jalan trans kampung yang ia idam-idamkan. Tak perlu menerobos semak dan ilalang bila ingin cepat ke sawah. Tak perlu kerepotan bila musim panen datang. Aspal saja, Pak Joko, cukup 500 meteran, tidak sampai 1.000 km kok, ucapannya didepan televisi garuk-garuk punggung sesekali mengumpat kotor ojok omong tok sambil menggerutu.

Ini adalah cerminan bagaimana pembangunan memang masih belum merata. Kesenjangan masih dapat dirasakan. Tidak usah berbicara dalam konteks wilayah perbatasan. Sebab di wilayah Jawa pun masih banyak kendala dan kekurangan. Wah, kok jadi serius seperti ini? Oke, lanjut.

Meskipun kampung saya dan embah di Jawa, lalu ada dan tiada Jalan Trans Jawa, saya dan embah tak ada dampak berarti. Panen ya panen, cari rumput yang cari rumput, ngopi ya ngopi, jalanya ya tetep bletok. Jalannya itu ancur kayak batu ginjalnya Pak Kades. Licin berlumpur apalagi deket kali. Kepleset sedikit, kecemplung kali. Hadeh.

Menurut analisis Embah yang setajam clurit, jalan trans kampung ini akan menguntungkan dan bermanfaat. Tak ada mafia di kampung kecuali para tengkulak nakal. Sayang sekali Pakdhe Jokowi masih tetap pada programnya, bahkan akan meneruskan sampai Banyuwangi. 

Namun Embah turut membayangkan bila Tol Trans Jawa ini melewati kampung. Akan lebih enak kalau lewat kampung. Banyak pedagang color atau bakso di pinggir jalan. Tak harus pergi kampung sebelah untuk membeli bakso.

Kampung jadi ramai banyak kendaraan. Budhe, kalau mau mencari rumput, tak perlu blusukan lewat semak-semak. Cukup lewat jalan tol masuk gerbang dengan e-Tol. Namun Budhe akan sedikit mengeluh harus memakai helm tiap berkendara lewat Tol untuk mencari rumput di sawah.

Namun embah getol. Gampang katanya bikin jalan beton kayak gitu kalau ada uang. Uangnya pinjaman orang asing. Jauh gampang pinjam duit, urusan balikin, eh lupa. Sekarang mah gitu.

Embah masih terus berharap akan ada Jalan paving atau aspal di kampung, itulah harapnya. Tidak butuh sampai 1.000 km. Tapi Embah hanya bisa pasrah bila tak kunjung dibangun. Ia menikmati jalan rusak berbatu, sekali kepkeset bundas langsung kecemplung masuk kali. wkwkwk.


Artikel Terkait