2 tahun lalu · 225 view · 7 min baca menit baca · Lainnya img-20140430-00185.jpg
Pemandangan

Katakan Tidak pada Pacaran

Siapa yang tidak pernah pacaran?? Sudah berapa kalikah Anda bergonta-ganti pacar?? Atau mungkin Anda pernah mempunyai pacar lebih dari satu orang dalam satu waktu??? Hhhm, memang pacaran itu indah, sangat indah. Tidak jarang kita akan tersenyum sendiri bila mengingat sang terkasih. Tidak jarang juga kita tidak sabar menanti hari esok untuk sekedar kembali berjumpa dengan the special one. Namun, masa-masa manis itu hanya berlaku di awal waktu saja.

Yah, tema yang ingin Saya bawakan pada esai kali ini adalah tentang fenomena berpacaran. Siapa coba yang gak mau pacaran? Anak SD saja sudah bisa pacaran lho. Emang bener anak SD sudah bisa pacaran? Iyah bener, karena memang Saya sendiri sudah memulai debut Saya dalam dunia perpacaran sejak masih duduk dibangku SD.

Sejak masih SD saya sudah ikut serta ke dalam dunia ini. Akan tetapi, namanya saja pacaran gaya anak SD, pacarannya gak nyampe dua hari. Parahnya, kebiasaan berpacaran ini pun terus berlanjut ke bangku SMP, dan terus Saya tekuni hingga sampailah Saya dimasa putih abu-abu.

Iman Saya benar-benar semakin diuji dimasa SMA ini. Banyak sekali wanita-wanita cantik yang membuat Saya tergoda. Usaha untuk PDKT terhadap lebih dari satu wanita dengan gencar terus Saya lakukan. Namun, selama di kelas X, belum ada satu pun wanita yang dapat Saya taklukkan hatinya.

Frustasi, itulah yang Saya rasakan. Bagaimana tidak frustasi, teman Saya terkadang mengejek Saya karena status jomblo ini. Tidak jarang, Saya merasa status jomblo ini adalah status yang rendah, status yang membuat harga diri Saya lengser dan ditimbun oleh rasa malu. Oleh sebab itu, Saya harus berusaha mendapatkan pacar untuk menghilangkan status “hina” ini dari hidup Saya.

Perjuangan terus Saya lakukan dan sampailah Saya di kelas XI. Ternyata Saya semakin buas. Insting Saya untuk berpacaran semakin terasah. Rasa malu Saya untuk mendekati wanita perlahan-lahan hilang dan perjuangan Saya tidak sia-sia.

Saya berhasil mendapatkan pacar perdana Saya di bangku SMA. Tentu Saya merasa senang sekali, sangat senang. Akan tetapi, rasa senang itu hanyalah di awal waktu saja. Dalam hitungan hari, kami putus. Setelah putus, seperti ada jarak yang sangat jauh diantara kami berdua.

Dalam waktu yang cukup lama, kami tidak bertegur sapa. Akan tetapi, it’s okay. Toh, masih banyak juga kok wanita-wanita lain yang telah Saya “kunci” untuk menjadi target pacar Saya selanjutnya.

Saya berhasil mendapatkan pacar yang kedua di SMA. Namun, kisahnya tidak jauh berbeda dengan pacar yang pertama. Hubungan kami tidak bertahan lama. Kami putus dan ada rasa sakit hati yang Saya rasakan. Akan tetapi, it’s okay. Saya optimis akan mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari pada pacar Saya yang lalu.

Setelah itu, Saya pun sering bergonta-ganti pacar. Akan tetapi, semuanya sama. Setelah terikrar kata putus, maka disaat itu juga rasa benci akan tercipta. Yang dulunya dia adalah wanita yang Saya kasihi, cintai, dan kagumi, setelah putus berubahlah dia menjadi sosok yang Saya benci, benci, dan benci. Namun, hal tersebut tidak membuat Saya jera. Saya masih ingin mencari pacar yang lebih istimewa dari pada pacar-pacar Saya yang lalu. Hingga pada akhirnya, Saya pun menemukan wanita itu.

Untuk menaklukkan hatinya, Saya menyatakan cinta Saya kepadanya di depan umum, didepan kawan-kawan SMA saat jam istirahat. Saya telan rasa malu saya dalam-dalam, Saya berlutut di hadapannya seraya mengacungkan segenggam bunga kepadanya untuk membuktikan kesungguhan dan keseriusan cinta Saya.

Kami berdua menjadi bahan tontonan, mental Saya tidak bergeming, Saya optimis bahwa cinta Saya akan diterima. “TERIMA…!!! TERIMA…!!! TERIMA…!!!” terdengar riuh suara kawan-kawan yang tidak lupa memberikan sorakan dan semangat agar sang wanita berkenan menerima cinta Saya.

Namun, wanita itu menggelengkan kepalanya seraya membuang tatapannya dari hadapan Saya. Dug! Bunyi jantungku yang berdebar. Kenapa dia menggeleng??? Aduuhh, rasanya badan ini mulai lemas. Apakah itu suatu bentuk indikasi penolakan terhadap cintaku??? Optimis, optimis, dan optimis.

Saya tidak boleh kalah sebelum berperang. Saya tetap menanti jawaban resminya sambil memaksakan Senyum di wajah ini. Tanpa disangka-sangka, ternyata wanita tersebut mengambil bunga yang ada di genggaman Saya dengan gerakan seperti ular menerkam mangsanya. SAYA DITERIMA!!

Selebrasi yang Saya lakukan bagaikan pemain sepak bola yang barusan saja mencetak gol di ajang piala dunia. Ada juga kawan Saya yang menyiramkan air ke kepala Saya sebagai bentuk ucapan selamat. Sungguh bahagia perasaan Saya pada saat itu, benar-benar bahagia.

Kami resmi menjadi sepasang kekasih. Cintaku teramat besar terhadap wanita ini. Semuanya menjadi terasa lebih indah. Hujan rindu selalu menguyuri batinku bila tak berjumpa dengannya. Terkadang pacarku cemburu bila Saya bersama sahabat-sahabat wanitaku.

Lalu Saya pun rela menjaga jarak dengan sahabat wanitaku, sebagai pembuktian akan besarnya cintaku padanya. Apa yang terjadi selanjutnya? Hubungan Saya dengan sahabat wanita  Saya yang sudah terjalin cukup lama tersebut menjadi renggang dan tidak seakrab seperti dulu lagi. Cinta, cinta dan cinta.

Karena terlalu cinta terhadap pacar, Saya rela nyaris meninggalkan sahabat karib Saya. Apakah Saya menjadi lebih bahagia setelah itu??? Jawabannya tidak! Saya mengira dengan menjaga jarak terhadap sahabat Saya, hal tersebut akan memberikan kebahagiaan lebih bersama pacar Saya.

Namun, perkiraan Saya salah besar. Masalah demi masalah sering sekali menghampiri hubungan kami berdua. Kami juga sering  bertengkar dan putus-nyambung. Inilah saat yang sulit. Saat-saat yang tidak ingin Saya alami. Hingga,  tibalah waktunya hubungan pacaran kami pun putus permanen.

Perasaan itu menghampiri benak ini. Saya rindu sahabatku. Sahabat yang sangat sering memberikan Saya semangat dalam keadaan genting seperti saat ini. Sahabat yang dapat menemani Saya disaat senang dan juga sedih. Sahabat yang tidak cemburu bila Saya dekat dengan wanita lain.

Akan tetapi, dia sudah pergi. Saya sendiri yang telah mengusirnya secara halus dari zona pergaulan Saya. Saya merasa menjadi sangat bodoh pada saat itu. Saya telah melakukan kesalahan yang teramat fatal. Kebahagiaan yang kuharapkan ternyata hanyalah harapan palsu belaka.

Ibaratkan es susu soda dengan tambahan krim coklat di atasnya. Terlihat begitu menarik, tampak begitu menggugah selera, dan terasa amat manis di tegukan pertama. Namun, itu hanya berlaku di awal waktu. Saat es mulai mencair, maka susu yang terasa manis, lambat laun akan mulai terasa hambar.

Bagaikan zat psikotropika, menjanjikan kebahagiaan dan kenikmatan pada awalnya, tetapi pada akhirnya malah akan memberikan penyakit. Yah, itulah perumpamaan-perumpamaan yang cocok di berikan kepada proses berpacaran. Saya rela merendahkan martabat Saya di depan umum hanya untuk membuktikan besarnya cinta Saya kepada wanita yang belum tentu menjadi jodoh Saya.

Saya rela menjual kemerdekaan Saya dalam bergaul demi menjaga perasaan pacar Saya yang belum tentu menjadi kekasih halal Saya. Dan Saya rela mengorbankan sahabat Saya demi memperoleh kebahagiaan bersama pacar yang belum tentu menjadi pendamping hidup Saya.

Rasa menyesal selalu datang belakangan. Saya harus bangkit. Saya jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran berharga untuk menempuh kehidupan saya dikemudian waktu. Sudah cukup untuk menyesal. Saya harus berpikir positif, mungkin inilah  bukti cinta Alloh subhanahu wa Ta’ala terhadap Saya.

Mungkin inilah jalan yang ditunjukkan Alloh subhanahu wa Ta’ala untuk membuat Saya berhenti berpacaran. Memang Banyak sekali cikal bakal dan bibit-bibit dosa yang biasa terkandung didalam proses berpacaran. Disaat kita curiga terhadap pacar kita yang menampakkan gejala-gejala sedang selingkuh, maka disitu kita telah berpikiran negatif terhadap pacar kita.

Disaat kita telah membuat cemburu pasangan kita, maka disitu kita telah menyakiti hati pacar kita. Disaat kita berduaan dengan pacar kita, maka berhati-hatilah akan ada setan yang sedang mencari strategi untuk menjerumuskan kita.

Disaat sepasang kekasih yang tidak halal tidak dapat menahan nafsu dan pandangan mereka, maka sesungguhnya perbuatan zina akan kian mendekat untuk menghampiri mereka, dan memang perbuatan-perbuatan zina sebagian besar banyak dilakukan oleh orang-orang yang sedang menjalin hubungan berpacaran. Dan juga disaat kita putus dari pacar kita, maka persiapkan diri juga untuk menerima dosa bila bendera permusuhan dikibarkan.

Alhamdulillah, Engkau telah menyadarkan hamba ya Alloh. Hamba bersyukur Engkau telah menyelamatkan hamba dari lobang dosa yang mengatasnamakan dirinya sebagai “hubungan berpacaran.” Insya Alloh hamba akan istiqomah untuk tidak berpacaran sebelum waktunya tepat. Bila seorang wanita diberi dua pilihan, yaitu:

ingin ditembak oleh pria yang dicintainya, di depan 1000 orang manusia, sebagai bukti kesungguhan cinta pria tersebut untuk menjadi pacarnya, atau ingin dilamar oleh seorang pria yang dicintainya, langsung di depan orang tua wanita tersebut, sebagai bukti kesungguhan cinta si pria untuk menikahi wanita tersebut???

Maka pilihan mana yang akan wanita itu pilih??? Bila wanita tersebut seorang muslimah sejati, Saya yakin wanita tersebut akan memilih pilhan yang kedua, dan insya Alloh, Saya akan menjadi pria pada pilihan kedua tersebut, yang meminang calon kekasih halalnya lewat cara melamar langsung di depan orang tua si wanita, serta tanpa diawali  dengan proses berpacaran sebelumnya.

Jadi, kapan donk waktu yang tepat untuk pacarannya??? Insya Alloh nanti setelah resmi menjadi sepasang suami istri. Berpacarannya dengan istri setelah menikah. Untuk calon istriku yang belum Saya ketahui identitasnya, tunggulah Saya yang insya Alloh akan melamarmu, menikahimu, dan menjadi ayah dari keturunan kita kelak.

#LombaEsaiKemanusiaan

Artikel Terkait