Mahasiswa
2 tahun lalu · 431 view · 6 menit baca · Lainnya pedofilia.jpgr1hkhc.jpg
Cakrawala Susindra

Katakan Tidak Pada Mereka

Menarasikan Ulang Tragedi Kemanusiaan

Banyak muncul perasaan bersalah (guilty feeling) ketika mendengar kabar bahwa ada saudara kita yang mendapatkan perlakuan keji dari saudara kita sendiri pula. Tengoklah apa yang terjadi di sekeliling kita saat ini. Salah satu dari sekian banyak informasi memilukan itu adalah tragedi kejahatan seksual. Publik dihebohkan dengan kasus yang melanda Yuyun, seorang gadis remaja yang mendapatkan perlakuan kejahatan seksual hingga pembunuhan.

Yuyun diperkosa dan dibunuh bukanlah oleh seorang penderita Skizofrenia secara langsung, mengejutkannya 14 orang pria dengan tujuh diantaranya mereka yang dibawah umur adalah pelakunya (dikutip dari Tribata News Online : Bengkulu, 2 Mei 2016, Pukul 22:11).

Bukankah apa yang terjadi pada Yuyun adalah sesuatu yang benar-benar membuat batin kita ini menjadi terpukul. Bukan karena Yuyun telah meninggal dengan perlakuan keji tersebut, melainkan kesadaran kita sebagai manusia sama halnya seperti Yuyun yang hanya bisa mendengar, terharu, dan kesal dengan apa yang terjadi without any action.

Belum sampai pada tahapan solutif terhadap kasus Yuyun. Korban selanjutnya adalah Eno Fariah (18) yang menjadi objek pelampiasan kekerasan seksual yang tidak biasa. Bisa dibayangkan apa yang terjadi pada  jasad Eno dengan sebuah pacul dalam posisi berada di dalam tubuhnya yang diduga dimasukan oleh pelaku lewat saluran kelamin korban (dari Kompasiana Online : 28 Mei 2016, pukul 09:30). Lagi-lagi pelaku adalah mereka tiga orang pria yang secara psikososial berada dalam kondisi Identity Versus Identity Confusion.

Miris memanglah miris, marah sudah tentu marah, sakit itulah yang terjadi sesungguhnya. Banyak pihak bahkan dari pemerintah sendiri yang sudah geram dan jelas-jelas menganggap bahwa negeri kita sedang berada dalam darurat kejahatan seksual. Namun apakah kondisi tersebut hanya akan menjadi sebuah peringatan atau kampanye politik semata, entahlah memang itu yang sering terjadi di negeri ini.

Berkaca pada konteks kejahatan seksual yang sesungguhnya, berkaca pula pada sejarah terjadinya pelecahan dan kejahatan seksual di dunia ini, bahwasannya wanita adalah mayoritas objek kejahatan yang seringkali mendapatkan perlakuan di luar nalar kemanusiaan.

Fakta ini tidak perlu dijelaskan secara eksplisit, karena sudah menjadi rahasia umum dan dipersepsikan karena ketidakberdayaannyalah, wanita sering menjadi objek pelampiasan mereka para pejahat seksual. Namun yang menjadi nilai terpenting saat ini untuk dibahas bukan kepada karakteristik korban, melainkan treatments yang harus dengan keras diberikan pada mereka pelaku kejahatan seksual.

Itulah selayang pandang yang benar-benar terjadi saat ini. Bukan dibahas hanya untuk diketahui, tetapi juga ditegaskan untuk disadari. Kalimat pengandaian seperti itu seyogyanya memberikan self awareness kepada masyarakat sebagai suatu sistem yang hidup.

Sistem yang hidup didefinisikan sebagai munculnya partisipasi dan kontribusi terhadap setiap fenomena yang dianggap abnormal dalam masyarakat. Pelaku kejahatan seksual dan pembunuhan, mereka adalah kumpulan identitas yang dapat menganggu pola kehidupan menuju masyarakat madani, sehingga keberadaanya harus secara tegas dimusnahkan.

Pertanyaannya, bagaimanakah sekelompok itu ditiadakan dengan mau menyadari bahwa merekapun adalah sistem hidup yang membentuk masyarakat itu sendiri. Dilematis memang jika membicarakan hukum sosial, namun setidaknya hukum Negara yang telah ada saat ini menjadi tumpuan kita untuk mengganjar mereka atas perbuatan kebinatangan tersebut.

Ketika hukum itu diberikan, lantas ada reaksi tidak puas dan kesal karena hukuman yang diberikan seringkali dianggap tak layak dengan apa yang dilakukan pada korban. Mau tidak mau masyarakat hanya bisa mengetuk hati bahwa “this is law country”, itulah yang sering terjadi pada masyarakat Indonesia khususnya.

Masih ingatkah ketika baru-baru ini banyak aksi menentang berbagai kejahatan seksual yang terjadi di negeri ini, sampai-sampai pemerintah sendiri pun merasakan bagaimana hukum Negara itu nampaknya dirasa kurang berefek terhadap mereka para pelaku.

Lalu munculah keinginan untuk menggunakan hukum tambahan, salah satunya adalah dengan kebiri dan menyebarluaskan identitas pelaku secara umum sebagai hukum sosialnya. Secara tujuan dan harapannya memanglah begitu terampil, namun dalam pelaksanannya harus selalu mempertimbangkan aspek material, aspek konformitas, dan waktu pula.

Mari berbicara lebih keras pada mereka, bukan dengan cara yang seperti mahasiswa lakukan di kerumunan jalan hingga menghancurkan dinding-dinding kokoh tempat orang-orang yang dianggap terhormat menjalankan tugasnya. Bisa dibayangkan kondisi negeri kita selanjutnya jika para generasinya adalah mereka yang mempunyai perasaan angkuh dengan segala keterbatasannya.

Banyak di antara mereka adalah generasi muda yang sedang mengalami krisis identitas, krisis moral, bahkan mungkin krisis spiritualitas. Watak-watak keras yang mengedepankan nilai kebersamaan kelompok atau faktor konfirmitas (ikut-ikutan) yang menjadikan mereka melakukan perilaku-perilaku kejahatan tersebut.

Jika ada sekelompok anak yang secara terang-terangan menindas temannya tanpa rasa bersalah memungkinkan dikatakan sebagai kebenaran atau kesalahan. Dikatakan benar karena mereka berada dalam krisis identitas (Identity) , dimana serangkaian aktivitas yang dilakukan individu untuk menemukan kekuatan dirinya, tidak hanya untuk berdiri sebagai someone special tetapi juga bergabung untuk membentuk suatu masyarakat yang hidup.

Tentunya hal itu jelas-jelas salah, karena perilaku seperti itu adalah perilaku-perilaku kebinatangan. Jauh dari fitrah manusia yang diciptakan mulia, maha toleran, dan kecintaan terhadap sosial dan alam itu tinggi. Sekali lagi, apa yang sedang terjadi di kita adalah suatu bentuk kegagalan dalam pembinaan karakteristik.

Lalu dimanakah peran keluarga sebagai lambang kehormatan mereka para perusak kebahagian orang lain. Sudah jelas mereka keluarga korban bukan hanya merasakan sakitnya buah hati mereka diperlakukan keji hingga akhirnya tiada dengan cara yang tidak biasa.

Dalam aspek lain, bisakah kita percaya bahwa orang tuanya gagal dalam mendidik mereka karena kelalaiannya dalam menjaga dan mengajarkan nilai-nilai kemandirian dan kejujuran dalam pola pikir anak mereka. Rasionalisasi seperti itu nampaknya hanyalah sebuah penyesalan yang kadang tak tahu kapan penyesalan itu datang.

Meratapi apa yang terjadi without any action sudah menjadi hal yang biasa masyarakat kita lakukan. Lihatlah kembali strukturalitas yang terjadi pada kasus sebelumnya. Kebanyakan dari korban adalah mereka wanita, generasi remaja perempuan yang secara filosofis ditampilkan sebagai besorgend welt atau yang memelihara (Kartono, Psikologi Wanita: 2006).

Lantas kenapa wanita menjadi penting untuk disebutkan. Mereka adalah yang memelihara anak-anak mereka, mendidik anak-anaknya hingga mampu berdiri dan menemukan identitasnya. Seharusnya hal itu disadari oleh mereka para pelaku kejahatan seksual dan pembunuhan yang menjadikan wanita bukan sebagai surga dunia yang harus dijaga dan dimuliakan, sisi negatifnya mereka menjadi korban agresivitas naluri kebinatangan.

Adakah yang salah dengan gambaran seperti itu. Memang cukup pelik jika harus mencari intisari dari kesalahan hanya untuk memunculkan informasi kebenarannya. Seharusnya keluarga mampu memberikan kehangatan di dalamnya, sehingga anak-anak mereka merasakan penuh kebahagian berada di antara mereka.

Pernahkan kita mencari informasi seperti apa latarbelakang keluarga baik itu korban atau pelaku. Mungkin itu dinilai terlalu kompleks, karena permasalahannya bukan lagi pendidikan yang diberikan melainkan lingkungan sebagai salah satu faktor pembentuk perilaku itu.

Bukankah ketika anak menjadikan orang tua panutan mereka, secara sadar dan terpuji orang tua pun telah berhasil menanamkan perilaku-perilaku penolakan terhadap kejahatan. Namun, sangat disayangkan jika anak melakukan perilaku-perilaku seperti itu sebagai dampak ketidaknyamanan mereka dalam keluarga.

Indah rasanya jika kita mengutip saran-saran bijak dari seorang Dorothy Law Nolte (dalam Mashudi, Psikologi Konseling: 2012), “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki”, “Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi”, “ Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar meragukan diri”, “Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri”, dan “Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam hidupnya”.

Permasalahan lainnya adalah takkala kehidupan dalam keluarga berjalan sangat harmonis, konsep lingkungan memberikan tantangan kepada orang tua dan anak tentang stimulus yang akan mereka dapatkan di masyarakat. Baik buruknya informasi yang diperoleh anak itu salah satunya bergantung pada siapa dan pada apakah lingkungan mereka bergantung. Lingkungan akan memberikan setengah porsi dalam perilaku anak sama besarnya dengan apa yang mereka miliki sebelumnya. Sudah saatnya kita bergegas dengan keras dan mengatakan tidak pada hal-hal yang bernuansa keburukan.

Mengatakan tidak pada hal seperti itu sudah sepatutnya kita manifestasikan dalam bentuk perilaku yang terpuji atau bahkan memperbanyak kegiatan-kegiatan keagamaan dan penghayatan tentang mau menjadi apa mereka di kemudian hari. Lingkungan yang baik mewadahi anak untuk memunculkan nilai-nilai kebaikannya.

Karena dengan semakin besarnya kekuatan positif yang anak tunjukan, maka keinginan untuk melakukan perbuatan yang buruk dan di luar nalar kemanusiaan pun akan semakin tertutup. Disinilah peran lingkungan sebagai pembentuk perilaku itu.

Suatu pemandangan yang menentramkan kalbu kita jika melihat anak-anak bisa berkumpul bersama membahas suatu hal sederhana namun memiliki nilai kebaikan yang tinggi. Kegiatan-kegiatan tersebut nampaknya harus semakin diteriakan supaya para petinggi sepakat dan bersatu untuk selalu mengadakan kegiatan yang memuliakan fitrah mereka para generasi muda. Sudah saatnya bukan hanya rintihan penyesalan yang ditunjukan masyarakat ketika ada kasus muncul, tetapi juga teriakan penolakan sejak anak-anak mereka kecil hingga anak-anak mereka mampu mengetahui identitas mereka.

#LombaEsaiKemanusiaan