Staf Pengajar
1 bulan lalu · 38 view · 3 min baca menit baca · Agama 22091_24046.jpg
Sea, Photo by Dan Formsma.

Katakan Tidak Pada Mengafirkan

Katakanlah: Hai orang-orang yang berakal sehat, aku tidak akan mencaci apa yang menjadi keyakinanmu, dan kamu bukan pencaci keyakinan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi pembenci apa yang menjadi keyakinanmu, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi pencaci penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu keyakinanmu, dan untukku keyakinanku, sebab kita percaya bahwa dalam keberagaman lah kita menjadi manusia yang seutuhnya.

Saya mencoba untuk menginterpretasikan ulang surah Al-Kafirun menjadi penulisan gaya baru seperti diatas untuk membuka sudut pandang baru agar para generasi millenial kita pada masa kini tidak salah paham dalam mentafsirkan suatu dalil, entah karena paksaan para pemukanya yang ingin poligami cepat masuk surga atau karena ingin menunjukkan rasa paling hebat di muka bumi. 

Pemikiran tersebut ditulis bukan karena saya ingin dianggap sebagai nabi maka saya sesuka hati otak-atik dalil melainkan kesadaran untuk menegakkan kesetaraan demi kebaikan bersama yang dimana betapa pentingnya kita membuka pemikiran dalam perspektif yang lain.

Sering sekali kita dibuat jengkel karena suatu dalil disalahpahami disebabkan kurangnya minat akan membaca dari sudut pandang yang lain. 

Grasak-grusuk tidak jelas dalam mempelajari agama bisa membuat seseorang lupa diri ketinggian karena ingin dianggap suci. 

Itu makanya Karl Marx mengatakan agama adalah candu, bukan karena Karl Marx ingin melecehkan agama melainkan ia ingin kesucian agama itu tidak tercoreng menjadi buruk karena banyak orang yang membawa-bawa agama untuk kepentingan politik. 

Kita butuh untuk coba memasuki pemikiran orang lain agar bisa tahu apa yang ia pikirkan, dan kita perlu mendalami keyakinan di dalam diri sendiri agar tahu sebatas mana kita untuk harus bersikeras mempertengkarkan sesuatu yang seharusnya tidak usah dipertentangkan lagi. 


Bahwa dalil itu di dalam pemikiran adalah untuk penenang keresahan batin bagi mereka yang tengah mencari jalan hidup bukan untuk mempertengkarkan keyakinan sehingga timbulnya peperangan.

Apa yang telah menjadi keyakinan orang lain biarlah menjadi jalan hidup yang telah seseorang tetapkan tanpa harus kita memaksa untuk menggurui keyakinannya bahwa ilmu kita paling tinggi di dunia ini sehingga tidak boleh ada interpretasi lain dan pengetahuan harus terbatas.

Perbedaannya adalah bahwa ilmu pengetahuan itu tidak memiliki akhir seperti kiamat, ia akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan dalil tidak boleh membatasi pikiran seseorang untuk mencari banyak hal tentang pengetahuan.  

Di dalam sejarah filsafat tidak ada kita temukan yang namanya filsuf akhir zaman. Seorang pemikir tidak ingin pengetahuan yang ia temukan berakhir mentok begitu saja, ia ingin apa yang ia temukan dikritik sehingga melahirkan interpretasi baru. 

Makanya tidak masuk akal dan tidak ada dalilnya bahwa seorang sains penemu teori akan masuk neraka, dan kita tak bisa pastikan bahwa apakah ada buku di surga sehingga julukan perpustakaan sebagai surga sudah berubah maknanya. 

Artinya bahwa kata "iman" itu sebenarnya adalah sesuatu yang absurd bahkan eksistensial bagi para pemikir Francis. Soren Kirkegard mengatakan bahwa iman itu harus ada dalam privasi tidak untuk diumbar-umbar di depan publik. 

Eksistensi melampaui esensi yang artinya dimana seseorang berdiri maka disitulah ia sepenuhnya bertindak demi kebaikan dirinya.

Emha Ainun Nadjib mengatakan "Jangankan menyebut orang lain kafir, Aku menyebut diriku sendiri muslim saja aku tidak berani, karena itu merupakan hak prerogatifnya Allah untuk menilai aku ini muslim atau bukan". 

Esensi yang Emha Ainun Najib maksud dari pemikiran tersebut  adalah kalau menurutmu aku ini orang tersesat, kenapa tak kau peluk dan sayangi aku, kemudian kau tunjukkan kebenaran itu, kenapa kau malah membenciku, mengutuk, menghardik, dan bahkan memutuskan persaudaraan denganku dengan mengkafirkan?"

Kita hidup dalam keberagaman, setiap orang berbeda dari yang lain. Tidak mungkin menetapkan hanya boleh ada satu keyakinan sementara tiap wajah manusia berbeda, bila dari wajah berbeda maka keyakinan juga harus berbeda. 


Tuhan menciptakan manusia karena ia tak ingin sendiri, ia ingin ada keramaian dalam keharmonisan serta keberagaman dan Tuhan tidak ingin sendiri. Beda itu indah, logikanya adalah seperti disaat kita sekolah duduk di bangku SMA, dikala istirahat dan berkumpul di kantin bila keadaan tidak riuh dengan suara maka tidak akan ada kegembiraan.

Fokus pada satu hal saja dulu yaitu bagaimana agar masyarakat bisa sejahtera dengan kedamaian perbedaan tanpa ada cek-cok memperkarakan kesucian demi kepentingan agama. 

Mengkafirkan justru tidak menunjukkan kedamaian melainkan memperparah keadaan dengan menumbuhkan kebencian diantara sesama berupa mengolok-olok orang lain. 

Dan hendaknya kata "kafir" itu sebaiknya tidak diucapkan sembarangan, kalaupun paham hendaknya diam dan jangan sembarang mengecam. 

Daripada belajar agama tapi jadi manusia saja belum, mending belajar jadi manusia dulu. Sebab caknun bilang orang yang belum jadi manusia susah jadi muslim. Karena urutannya adalah : makhluk, insan, abdullah, khalifatullah.

Sebagaimana Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits yang semakna dari Abu Hurairah RA yang menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: 

“Barangsiapa memanggil seseorang dengan kata:”Kafir”, atau dengan kata :”Musuh Allah”, padahal (yang dipanggil) tidak seperti itu, maka (panggilan itu) terpulang kepada dirinya sendiri.”(HR Bukhari dan Muslim)

Artikel Terkait