Guru
2 tahun lalu · 3531 view · 4 min baca · Agama img_1050.jpg
Sumber: Google

Kata Siapa Menjadi Ateis Semakin Logis?

Setelah membaca tulisan sahabat kita Ramdan Nugraha dengan judul Menjadi Ateis (Mungkin) Semakin Logis, secara spontan saya terpancing untuk menulis tulisan ini. Baiklah, sebelum terlalu jauh membaca tulisan ini, saya merekomendasikan kepada pembaca terlebih dahulu untuk membaca dan menganalisis tulisan dimaksud agar duduk permasalahannya jelas.

Sebelumnya saya ingin tegaskan dan membatasi pokok permasalahan dalam tulisan ini bahwa kita tidak sedang membahas tentang pro kontra terkait konsep ateisme. 

Keberadaan paham ateisme di Indonesia bahkan di dunia kita akui memang benar adanya. Mereka adalah kelompok yang tidak meyakini keberadaan Tuhan Sang Pencipta.

Secara jelas jumlah ateis di Indonesia memang tidak dapat dihitung jumlahnya, karena memang tidak pernah dilakukan pendataan dan juga ateis jelas-jelas tidak sesuai dengan ideologi Pancasila yang mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa (ingatkan jika saya salah). 

Akan tetapi meskipun demikian keberadaan aties di Indonesia memang benar adanya. Hal ini dengan mudah dapat terdeteksi melalui keberadaan komunitas dan aktivitas "dakwah" ala ateis.

Sebut saja misalnya Indonesian Atheists (IA) adalah komunitas yang menampung ateis, agnostik dan orang tidak beragama lainnya di Indonesia. Komunitas ini menyediakan tempat bagi ateis dan agnostik untuk menyuarakan pendapatnya. Pengakuan mereka, saat ini IA beranggotakan sekitar 1400 orang. 

Kemudian kalau kita ingin melihat lebih jelas lagi aktivitas "dakwah" ala ateis, bahkan mereka menyediakan ruang para teis untuk berdebat secara terbuka tentang konsep ketuhanan, dengan bergabung dalam grup yang ada di Facebook Anda Bertanya Atheis Menjawab (ABAM).

Dari beberapa contoh di atas intinya kita sepakat bahwa ateis itu benar adanya di Indonesia.

Lantas, dengan berbagai problematika yang terjadi hari ini, sudara Ramdan Nugraha terlalu bernafsu menyatakan bahwa bahwa:

Gejala ateisme dalam pandangan subjektif penulis memiliki potensi yang cukup untuk menjadi semacam kiblat baru bagi kelompok rasionalis, terutama di Indonesia, bila melihat wajah agama yang dihadirkan oleh para pengikutnya hari ini.

Pandangan ini terlalu sempit dan dangkal sekali sehingga tidak seharusnya diumbar ke publik. Bahkan secara tersirat bermakna menyudutkan pihak tertentu (mudah-mudahan saya salah). Tapi dalam negara demokrasi hal ini boleh-boleh saja, namanya juga beropini. 

Keyakinan soal beragama pada prinsipnya bukan sekedar ritualitas belaka, akan tetapi ini menyangkut kepuasan batin dalam mencari dan menikmati nilai-nilai kebenaran.

Bukankah selama ini kokohnya persaudaraan manusia di dunia pada hakikatnya tidak terlepas dari doktrin keagamaan yang selalu menyuarakan perdamaian?

Walaupun faktanya, keberadaan permusuhan itu masih manusiawi karena belum dan tidak sepenuhnya nilai-nilai keagamaan direalisasikan oleh pemeluknya.

Selanjutnya, ketika hari ini generasi kita dihadapkan dengan keadaan di mana terjadi fenomena logika yang kering dan miskin nilai-nilai spiritualitas, itu bukan berarti nilai-nilai kebenaran dalam agama yang salah sehingga didorong untuk berbondong-bondong segera berkiblat pada ateisme. Akan tetapi ini adalah kekeliruan para pengikutnya.

Sekali lagi, ini kekeliruan oknum pemeluk agama. Jadi, jangan gara-gara orang salah memahami dan menjalankan nilai-nilai agama, berarti agamanya harus segera ditinggalkan dan dianggap salah. Ini namanya konsep berpikir yang terlalu sempit. Gara-gara ingin menangkap seekor nyamuk, lalu kelambu dibakar. Habislah sudah.

Kemudian saudara Ramdan Nugraha juga mengatakan bahwa: "faktor lain yang sangat potensial membawa posisi ateisme menjadi menarik bagi kelompok rasionalis adalah fenomena-fenomena tokoh agama yang janggal dan tidak bisa diterima nalar."

Hati-hati mengatasnamanakan kelompok rasionalis. Ingat, rasionalitas tidak sepenuhnya hanya berpijak pada nilai-nilai keilmiahan akan tetapi rasionalitas juga selalu berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran yang ada dalam ajaran agama masing-masing. 

Menariknya, saudara Ramdan Nugraha dengan santainya memaparkan berbagai fenomena buruk yang seolah-olah memperkuat alasan sekaligus dapat dijadikan pembenaran jika hari ini orang-orang harus meninggalkan kepercayaan beragamanya. 

Mulai dari fenomena orang-orang yang berpenampilan religius membuang sampah secara sembarangan, para pejabat yang berpenampilan religius akan tetapi menjadi koruptor, dengan agama menyebabkan manusia berkonflik antara satu sama lain dan sebagainya.

Sekali lagi, dapat ditegaskan dan kiranya wajib diingat bahwa fenomena di atas bukan salah ajaran agama. Doktrin Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan berbagai agama lainnya di muka bumi ini tidak satu pun yang membenarkan perbuatan tersebut. Semua mengajarkan pada kebaikan. 

Bahkan pernyataan "indeks negara yang paling bahagia dan makmur di dunia adalah negara yang terdiri dari dominasi ateis warganya", ini data dari mana?

Sebut saja Tiongkok, Jepang, Rusia, Vietnam dan Amerika Serikat sebagai negara paling banyak pengikut Ateis. Mereka boleh dikatakan sebagai negara yang sedikit beruntung dalam segi ekonomi. Akan tetapi tidak ada data yang menunjukkan bahwa kemajuan ini didominasi oleh pengaruh faktor ateisme. 

Jangan salah, berdasarkan rilis survey di AS, RAIIN, ada sekira 293 ribu kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan setiap tahunnya. Alhasil, ini mengantarkan AS memperoleh rangking ke tiga sebagai negara dengan kejahatan pemerkosaan tertinggi di dunia.

Selanjutnya Tiongkok, Jepang dan Rusia adalah negara yang terkenal memiliki kelompok mafia kelas kakap yang sangat brutal. Ini rasanya sudah cukup untuk membantah pernyataan di atas bahwa dengan pemeluk Ateis yang banyak akan menjadikan negara hidup bahagia.

Memang kita tidak tahu apakah pelaku kejahatan tersebut ateis atau teis, tapi setidaknya cukup untuk data pembanding sekaligus menangkal pemahaman yang menganggap Ateis adalah kiblat terbaik untuk kelompok rasionalis.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir secara rasional, mengapa perbuatan-perbuatan melawan hukum khususnya di Indonesia, selalu dilakukan oleh kelompok teis (orang beragama) bahkan khususnya umat Islam sebagai kelompok mayoritas?

Untuk menjawabnya, saya akan menganalogikan secara sederhana sebagai berikut. Kita misalkan kelompok beragama (teis) sebagai tanaman padi, dan kelompok non agama (ateis) sebagai tanaman jagung.

Ketika kita menghampiri kebun yang dominan tanaman padi (teis), sedangkan tanaman jagung (ateis) hanya sedikit maka sudah hukum alam yang akan kita lihat adalah banyaknya jenis tanaman padi mulai dari yang tumbuh subur, ada yang sedikit merunduk, ada pula padi yang rusak, bahkan akan terlihat tanaman padi yang tumbuh tidak sempurna alias "hidup segan mati tak mau". 

Begitu juga sebaliknya, apabila kita menghampiri kebun yang mayoritas isinya tanaman jagung, maka akan terlihatlah dengan jelas berbagai jenis jagung mulai dari yang tumbuh subur, tumbuh tapi tidak berbuah, ada yang rusak bahkan akan ada jagung yag kerdil karena tidak mampu menyesuaikan iklim yang ada.

Jangan pernah berpikir padi harus dipaksakan untuk menjadi jagung dan sebaliknya jagung juga harus berubah menjadi padi, ini adalah suatu hal yang naif. Padi tetaplah akan tumbuh dan berkembang sebagai tanaman padi, begitu juga jagung akan tetap tumbuh dan berkembang sebagai tanaman jagung. Semoga mencerdaskan.

Artikel Terkait