"Kehidupan itu kan seperti roda. Kadang posisi kita di atas, kadang juga di bawah. Ketika kita merasa kita sedang mengalami kemajuan atau perkembangan, itu berarti posisi kita sedang ada di atas. Saat di atas inilah posisi kita harus dipertahankan. Kita harus terus berkembang untuk selalu memperoleh kemajuan dalam diri dan hidup kita." Begitu kata mas MC virtual camp yang sempat saya ikuti bulan Desember lalu..

Mendengar kalimat tersebut satu kali memang tidak terasa janggal. Tapi semakin saya cerna dan pikirkan kalimat tersebut berulang kali, kok ya rasanya ada yang aneh. "Kehidupan itu seperti roda.” “Kalau posisi kita lagi di atas harus kita pertahankan." Nah, akhirnya ketemu letak kejanggalannya.

Roda itu kan berputar ya. Kalau kehidupan itu ibarat roda, berarti posisi kita muter-muter terus. Setelah naik ke atas, ya turun ke bawah. Begitu pula sebaliknya. Kalau begini caranya, bagaimana kita bisa pertahankan posisi kita waktu lagi di atas? Percuma saja kita pertahankan, akhirnya akan turun juga ke bawah. Iya kan?

Kalau dipikirkan lagi, setiap masa sulit yang kita alami juga jadinya akan sama beratnya, sama sedihnya, sama susahnya, tidak peduli itu terjadi di masa lalu, masa sekarang, atau masa depan kita. Ini karena posisi terendah saat roda berputar kan sama. Sama halnya dengan masa emas kita yang juga akan sama senangnya karena lagi-lagi posisi tertinggi roda berputar juga tidak bisa ganti-ganti.

Pertanyaan lain muncul di benak saya. Kalau roda kendaraan itu bisa berputar berkali-kali, roda kehidupan bisa berputar berapa kali? Jangan-jangan cuman sekali. Kalau roda kehidupan berputarnya cuman sekali, ini berarti kita bisa berada di posisi atas atau menikmati kesuksesan kita juga cuman sekali. Nah, kalau ternyata masa kecil kita yang menjadi masa-masa posisi kita di atas, berarti masa depan kita terjamin suram dong? Karena kan posisi yang tersisa di roda kehidupan kita tinggal posisi yang di bawah-bawah saja.

Disini, saya jadi ngeri. Jadi kepikiran masa kecil saya sendiri. Dulu zaman saya TK, saya sering yang namanya menang lomba. Saya dulu juga kan masih punya banyak waktu untuk main-main dan seru-seruan bareng teman-teman saya yang super banyak. Kalau itu yang jadi masa emas saya, kan ya bahaya. Ya mosok masa depan saya terancam suram?

Tidak mau setuju saja dengan pikiran saya ini, saya berusaha cari-cari bukti yang bisa meyakinkan diri saya sendiri kalau saya tuh masih punya harapan untuk punya masa depan cerah gitu loh. Saya mulai googling berbagai macam kisah kehidupan.

Kisah sukses Oprah Winfrey muncul dalam salah satu pencarian saya. Diambil dari JobStreet, Oprah Winfrey itu ternyata tidak lahir dari keluarga yang berada. Ia sempat dibesarkan oleh ibunya yang masih remaja di Milwaukee. Di sini, ia mendapat pelecehan seksual dari saudara laki-lakinya serta teman ibunya.

Kondisi kehidupan Oprah yang parah ini ia jalani selama beberapa tahun sampai ia dikirimkan untuk tinggal bersama ayahnya. Ayah Oprah menerapkan berbagai aturan ketat yang akhirnya bisa membantu Oprah berjuang memperoleh kehidupan yang lebih layak.

Dunia media bisa dimasuki Oprah berkat usahanya yang tetap fokus sekolah, mendapatkan beasiswa, memenangi ajang kecantikan, serta mempunyai pengalaman bekerja di stasiun radio hingga stasiun TV.

Punya acara TV yang legendaris, Oprah berhasil memiliki karier yang sangat sukses. Oprah memperoleh ketenaran dan juga kekayaan. Tahun 2019 saja kekayaan Oprah ditafsir Forbes memiliki nilai sebesar 2,6 miliar dollar Amerika. Kalau dirupiahkan, 0 nya jadi berapa tuh?

Dari kisah Oprah ini saya jadi dapat pemikiran.

Walaupun Oprah sudah sukses, saya yakin dia pasti masih sering mengalami yang namanya kegagalan. Saya yakin dalam meniti karirnya, dia pasti punya masa-masa down. Tapi nih, kegagalan atau masa-masa down yang dialami Oprah sekarang tidak akan separah atau seterpuruk kondisinya saat dia masih kecil. Walaupun, penghasilan Oprah misalnya sempat turun, kondisi ekonominya tidak akan menjadi seburuk saat dia masih kecil. Itu berarti, saat posisi Oprah di atas, dia tidak kembali ke bawah, ke titik terendah kehidupannya. Kehidupannya tidak berjalan seperti roda.

Kehidupan dan kesuksesan Oprah juga terjadi pada kisah-kisah kesuksesan orang-orang lainnya. Ini menandakan bahwa ternyata, kehidupan kita berbeda dengan roda yang berputar terus tanpa bisa mengontrol dirinya. Kita punya kendali atas kehidupan kita. Kita bisa membuat kehidupan kita bergerak ke atas terus. Jika kita bisa terus meningkatkan diri sendiri, karier kita, atau bahkan kehidupan kita, masa emas kita di depan bisa jauh lebih menyenangkan dari pada masa emas kita di masa lalu. Kalaupun kita jatuh, kita juga masih punya kontrol agar kita tidak terjatuh kembali ke posisi terendah dalam hidup kita.

Perumpaan yang lebih tepat tentang jatuh bangunnya kehidupan menurut saya adalah kehidupan yang mirip seperti grafik. Layaknya garifk, posisi kita memang kadang di atas kadang di bawah. Tapi, begitu posisi kita sedang naik kita bisa pegang kendali supaya posisi kita terus naik menukik tajam, tanpa perlu sering-sering jatuh. Kalaupun toh nanti ya ada jatuh-jatuhnya, kita bisa menghadapi masa ini. Kita bisa memikirkan cara supaya jatuhnya tidak dalam-dalam banget dan bisa bangkit dengan sekejap. Dengan begini tren grafik kehidupan kita bisa naik.

Kita tidak perlu mengkhawatirkan kapan masa emas dan kapan masa suram kita. Kita tidak perlu khawatir akan adanya bahaya jika tiba-tiba hidup kita berjalan lancar jaya. Kita toh punya kendali akan grafik kehidupan kita. Kita bisa terus membuat kemajuan-kemajuan serta kesuksesan besar, tidak hanya di masa lalu, tapi juga di masa sekarang dan masa depan. Kita bisa meminimalisir kegagalan, memperbaiki kesalahan, serta bangkit dari kemunduran.

Kehidupan yang bagaikan grafik. Tidak terdengar seindah kehidupan bagaikan roda sih, tapi jauh lebih cocok.