Ungkapan Pertama

Kita bukan lagi "Generasi Kolot" seperti generasi orang-orang tua kita. Kita bebas memutuskan segala sesuatu hasil dari pemikiran kita sendiri. Karena pada sejatinya, di dalam realitas tidak ada yang namanya "baik" dan "buruk" yang ada hanyalah "diakui" atau "tidak diakui" dalam sebuah Komunitas Sosial yang memuakkan.


Persimpangan Jalan

Semua datang dari ketiadaan
Malam hari di penuhi kebisuan
Siang hari kering sampai tenggorokan
Pada saat yang sama,
Seorang lelaki besar muncul dari balik kegelapan
membawa kertas dan pena di kedua lenganya.

Dalam keheningan di persimpangan jalan, ia berteriak dengan suara serak; "Menciptalah! Menciptalah! Menciptalah! sebagaimana Tuhan telah mencipta Adam dan Hawa."

Setelah itu, ia melepas baju dan celananya, lalu menggosok kertas yang di genggamnya ke sekujur tubuh juga kelaminya.

Setelah itu pula,
hujan mendera di malam-malam buta.


Terbungkam

Deru lolong anjing
Denyit ranting dipukul angin
Seraya melukis peristiwa
dengan kanvas-kanvas menguning

Tubuh kini telah papah
Setiap waktu diburu
oleh keasingan tak kunjung temu
Ruang sebegini sempit
Tak ada yang mengenal nama
Tak ada yang mengenal wajah

Kini,
Lampu remang sudah padam seluruh
Desing menyingsing bercampur peluh
Ia berbicara, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Ia berbicara, tapi ia sendiri sulit mendengar apa yang ia katakan.


Menjemput Waktu

Debu adalah rindu yang membeku
Waktu tak kenal temu
Masa tak kenal nama
Wangi tak kenal bisa
Dapat tak kenal mana
Pelukan tak kenal kehangatan
Maka dari itu sejarah selalu mengigatkanku
akan debu-debu itu

Debu naik keatas meja
dan jatuh di buku-buku terbuka
Menutupi kata. Menyelubunginya
dengan nokhta-nokhta.
Hingga tersamarkan suatu makna
Yang berangkat dari dasar jiwa.

Seorang pemancing tua
selalu berharap agar debu terkait di ujung kailnya
Namun, debu adalah rindu yang membeku
Ia tak kenal temu
Ia tak kenal nama
Ia tak kenal bisa
Ia tak kenal mana
Ia tak kenal kehangatan

Saat ingat akan dirimu
Aku dan debu membeku
oleh rindu rindu membumbu tubuh


Air Man ( i )

Hari tinggal menentu temu
Seharian hujan menghantam debu
Tanah basah
Wajah gelisah
Di guyur air berwarna jingga

Doa
Tawa
Senggama
Membiak di sekitaran yang lembab

Aku terpana di pusara suka
Menggeliat,
Di ubin licin
Di daun kuyup
Segala bergerak lebih cepat

Dalam naungan air berwarna jingga
Semua di lahap tak tersisa.


Sajak Telapak

Aku terbakar utuh
Bisa jadi waktu menusuk tubuh
Lebih asing dari diri sendiri
Lebih sunyi dari lembah
Lebih gelap dari goa
Lebih menipu dari mimpi
Lebih lebih tak kutemui yang kucari

Bilang pada keabadian:"aku ingin menilai gerak"
Meski sekarat merasuk
hingga ke sum-sum tulang
Dan bangun-rubuh terus saja berulang

Matamu; ya, matamu

Barangkali tinggal belum tentu jadi
Aku 'ngeluyur dan tak kembali


Maaf *tak ada suara*

Pisau yang dulu kupakai untuk menikam lehermu, kini kembali kepadaku dengan menyerupai setangkai mawar merah yang dulu pernah kuberikan kepada kekasihku.
Bau anyir yang masih segar menyerbak dari kuncup-kuncup kelopak merah yang menempel di ujung-ujunya saat lehermu yang jenjang dan indah melelehkan cairan bukti tanda cinta.
Masih ingatkah engkau, saat cairan itu berceceran dimana saja dan di apa saja? 

Di kasur yang berenda-renda, di lantai ber aroma melati, di kursi, di meja, di lukisan gunung dan hutan, di patung eros yang terlena. Masih ingatkah engkau? Dengan susah payah ku gorok lehermu yang jenjang dan indah, sampai kurasakan betul denyut nadi itu terbenam dalam lautan kasih yang tak dapat terjangkau oleh indra. Sudahlah pasti jikalau setetes air jatuh ke dalam lautan, maka setetes air itu akan hilang dan bercampur dengan lautan hingga yang terlihat darinya hanya lautan itu. Sampai sekarang mawar merah itu kusimpan dan kubawa kemanapun, pada saat apapun.


Kabar Burung Untuk Chairil

Chairil, kurasakan betul bait-bait sajakmu
Dalam kehidupanku.
Katamu: "mampus! kau di koyak-koyak sepi. "
Kurasa sindiran itu untukku darimu
Sekarang ini.
Aku bukan lagi di koyak-koyak, chairil:
"tapi di cabik-cabik dan digerogoti oleh sepi. "

Aku masih tidak mengerti, chairil
Kenapa penghabisan
selalu saja menyakitkan?

Kita yang terperangkap
Dan tidak bisa lolos dari kesunyian
Menjadi penyair dalam kehidupan.


Dua Dunia

Sore itu di depan sebuah mini market
Dunia Nyata bertemu dengan Dunia Maya.
Sambil berjalan di pinggir jalan raya
Dunia Nyata bertanya kepada Dunia Maya
"Maya, kenapa sih manusia sekarang lebih suka hidup di duniamu, dari pada di duniaku yang sudah jelas-jelas lebih nyata? "
Dunia Maya pun menjawab "Mungkin manusia sekarang sudah terlalu takut dengan kenyataan" (sambil menahan tertawa)
Dunia Nyata: "ahhh Sialan..!! "

Depok, kemarin, hari ini, esok.