97586_18616.jpg
google.kompilasi
Filsafat · 4 menit baca

Kata, Nietzsche, dan Kebingungan Kita

Jika boleh merangkum, beberapa minggu belakangan kita dibuat sibuk dan gaduh oleh: kata-kata. Mulai dari kata-kata dalam puisi Ibu Indonesia milik Sukmawati, Indonesia Bubar oleh Prabowo, pidato emosional sang Presiden hingga ‘fiksi’­-nya Rocky Gerung.

Bila diamati, semua fenomena itu selalu menempati peringkat 5 besar artikel terpopuler di Qureta. Banyak tanggapan mencuat. Namun, secara menyeluruh, apabila dikelompokan secara garis besar, ada 3 pola tanggapan yang umum beredar.

Tanggapan ad hominem; dengan menyudutkan si pengujar. Isi; dengan mengulas lebih jauh arti hingga maksud kata-kata dari pengujar. Dan, hingga tanggapan yang sekadar menjadikan bahan kreatifitas humor atau mengkaitkan ke persoalan politis.

Pada kasus kata dalam puisi ‘Ibu Indonesia’ Sukmawati, misalnya. Banyak tanggapan ad hominem yang menyudutkan Sukmawati sebagai penista agama. Dan tentu, ini menjadi kontroversial. Belum kelar di situ, pernyataan ‘fiksi’-nya Rocky Gerung yang menyusul pun setali tiga uang.

Di sisi lain, ada pula yang mengurai arti isi kata-kata itu. Ambil contoh, ‘fiksi’-nya Rocky Gerung. Banyak tanggapan berupa tulisan yang membahas dan mendefinisikan kata ‘fiksi’ itu. Bahkan, sampai ada yang membedakannya dengan fiktif, fakta, realitas dan lain-lain.

Pada konteks ini, saya pikir hal itu akan menimbulkan banyak tafsir. Lebih jauh, hanya memperkeruh suasana dan cenderung bisa berujung pada tuduhan tak seharusnya.

Terlepas dari semua itu, persoalan mendesak yang agaknya mesti dibicarakan justru: mengapa kita begitu reaktif terhadap sebuah kata-kata? Mengapa kita mudah terprovokasi dengan konsep berupa kata? Mengapa kita cenderung menghubungkan sebuah kata pada hal-hal yang belum tentu terbukti kebenarannya yang berujung pada penghakiman sepihak?

Saya pikir, di sini sepertinya kita mesti kembali membaca ulang Nietzsche. Lantas, mengapa harus Nietzsche?

Kata, Nietzsche dan Kehendak Kuasa

Nietzsche, tak hanya bersabda soal: “Tuhan sudah mati dan kitalah para pembunuhnya.” Ia tak sesederhana itu. Banyak hal dan pemikiran yang bisa digali darinya. Sebagai filsuf yang berfilsafat dengan palu, ia hendak membongkar tradisi filsafat Barat pada zamannya. Dari mana ia memulai? Dari: kata.

Mulai dari kata, ia mengoreksi dan membongkar ‘kebenaran’, ‘hidup’, ‘metafisika’, ‘manusia’, ‘moral’ hingga ‘tuhan’. Bagi Nietzsche, kata itu sejajar dengan konsep ide fiksatif seperti ‘kebenaran’, ‘tuhan’ dan isme-isme lainnya. Singkatnya, kata adalah sebuah konsep artifisial yang tercipta untuk menjelaskan sebuah realitas.

Nah,dalam kacamata Nietzsche, realitas adalah enigma, abyss, plural, chaos yang senantiasa dinamis. Akibatnya, manusia tak akan pernah bisa sampai ke realitas sesungguhnya. Manusia hanya bisa sampai ke titik X sebelum realitas itu sendiri. Realitas hanya akan tertangkap oleh selubung. Dan selubung itu ialah kata. Dalam bahasa Nietzsche; topeng. Ya, kata adalah topeng.

Gamblangnya begini. Kata atau konsep ‘tuhan’, misalnya. Ia selalu merepresentasikan hal yang berhubungan dengan, kekuatan mistis atau segala hal di luar jangkauan manusia. Begitu plural dan dinamisnya realitas tentang Tuhan, manusia hanya bisa merangkainya dalam satu konsep kata ‘tuhan’.

Kata sebagai ide fiksatif ini juga bisa diterapkan pada sebuah realitas sederhana, 'lapar' misalnya. Apakah anda bisa menjelaskan secara rinci, apa itu 'lapar'?

Secara empiris, realitas lapar tertuju pada sebuah kondisi subjektif kita tentang berkonstraksinya otot-otot lambung dan membuat gelisah. Karena terlalu kompleksnya, kita hanya bisa merangkum seluruh fenomena dan realitas itu dalam sebuah kata/konsep: 'lapar'.

Nietzsche sendiri mendefiniskan kata sebagai; transposisi sonor sebuah rangsangan syaraf (la transposition sonore d’une excitation nerveuse). Apa artinya? Agar lebih jelas, mari lihat tulisan Nietzsche dalam teks Kebenaran dan Kebohongan dalam Makna Ekstra-Moral:

“Saat berbicara tentang pepohonan, warna-warna, tentang salju dan bunga, kita percaya memiliki pengetahuan tentang hal-hal dalam dirinya sendiri. Padahal, yang kita miliki hanyalah metafor-metafor dari hal-hal tersebut, dan metafor-metafor tersebut sama sekali tidak berkorespondensi dengan entitas-entitas asali. [...]hal dalam dirinya sendiri (chose en soi) ditangkap pertama-tama sebagai rangsangan syaraf, lalu menjadi imaji (gambar, representasi), dan akhirnya menjadi suara yang diartikulasikan.”[1]

Di titik ini, bila kacamata Nietzsche itu dipakai untuk melihat fenomena belakangan ini, absurdlah jika ada yang memojokan sang pengujar kata dengan tuduhan-tuduhan yang seram. Wong, kata ‘Ibu Indonesia’, ‘fiksi’ atau ‘Indonesia bubar’, hanyalah ungkapan terhadap realitas yang chaos. Toh, Ia juga tidak merujuk kenyataan sesungguhnya.

Lantas, mengapa kita harus gaduh? Mengapa kita begitu percaya pada kata-kata itu sampai reaktif hingga menggorengnya ke hal-hal yang nonsense?

Nietzsche mungkin menjawabnya; karena kebutuhan kita untuk percaya. Bagi Nietzsche, kepercayaan melingkupi semua lini kehidupan. Tak hanya soal agama, isme atau politik saja. Ia bekerja pada semua aspek kehidupan.

Karena kebutuhan untuk percaya ini, manusia menyandarkan dirinya pada sesuatu di luar dirinya. Inilah yang membuat kita mempunyai kepercayaan berupa ide fiksatif seperti konsep atau kata.

Mengapa kita percaya? Sebab, kita tak kuat berhadapan dengan realitas yang begitu plural dan kompleks. Ia bagai samudera luas yang membentang; misterius, enigmatis, tidak pasti, berbahaya dan sekaligus mempesona. Membingungkan. Yang dengan kata lain, hidup itu sendiri.

Di tengah kebingungan itu, kita membutuhkan tanah dan pijakan: dan itulah kepercayaan. Ia bisa berbentuk konsep, kata atau apapun.

Namun, bagi Nietzsche, tingkat derajat fiksasi pada sebuah kepercayaan (ide fix, kata, konsep) mencerminkan kualitas sebuah kehendak kuasa. Jika kita sangat terikat pada sebuah kata atau konsep apapun, itu menunjukan lemahnya (dekaden) sebuah kehendak kuasa.

Ini terjadi pada individu yang dirinya terserak dan tidak mampu mengatasi diri. Sebab, kualitas kehendak kuasa yang menaik (asceden) terdapat pada ia yang mampu mengkosmoskan chaos dalam dirinya sendiri.

Ia tak akan terpengaruh dengan tekanan dari luar. Realitas di luar yang chaos, enigma dan penuh ketidakpastian itu tak membuatnya takut dan mencari kambing hitam.

Nah, jangan-jangan segala kegaduhan ini adalah sebuah representasi kebingungan-kebingungan kita?. Apakah kita sedang menjadi individu-individu yang bingung? Ataukah kita yang memang sedang chaos, terserak-serak sampai sebegitu mudahnya reaktif?

Sumber: Gaya Filsafat Nietzsche, A. Setyo Wibowo.