“Pahit banget kopimu,” katanya sambil menyeritkan dahi dan kusambut dengan tawa.

Bagiku, pahitnya kopi memang punya sensasi tersendiri. Bukan berarti tidak menyukai kopi manis, hanya saja untuk ukuran subjektifku, seduhan kopi dengan sedikit gula terasa pas. Apalagi bila ditemani hangatnya pisang goreng, sudah pasti hari-hari yang kujalani akan penuh inspirasi.

Secangkir kopi selalu memberi inspirasi. Setidaknya, premis-premis baru hadir begitu saja di kepalaku. Tinggal bagaimana jari terampilku mengolahnya. Dan juga sedikit kemauan untuk mencari informasi tambahan. Pola tersebut terus berulang setiap kali aku membuat kopi. Andai Starbucks ada sejak dulu, mungkin Aristoteles akan mampir ke sana sambil mencari inspirasi.

Sensasi getir di lidah seakan memaksa otak untuk mencerna setiap ide supaya dituangkan menjadi sesuatu. Keharumannya tajam menyeruak ke dalam celah-celah bulu hidungku yang panjang. Sedikit demi sedikit ku teguk kopi itu, panas. Namun, tidak akan ku biarkan kopi itu dingin sebelum habis, karena dinginnya kopi mengurangi kesempurnaannya.

Selain sebagai pemicu inspirasi, kopi sering diminum untuk membuat mata tetap terjaga. Derasnya angin malam kadang menghalangi niat mulia kita dalam berkarya. Kantuk yang menyerang seringkali mengalahkan deadline yang jatuh esok pagi. Untuk itulah kopi diciptakan bagi mereka kaum pekerja malam.

Bagi sebagian orang, ide-ide brilian keluar pada malam hari. Siang hari ide tersebut meluap bersama sinar matahari yang menghujam keras ke bumi. Selain mencari inspirasi, kopi di malam hari membantu para petugas malam tetap menjalankan tugasnya sambil mencari jalan keluar karena lawannya mengatakan ‘skak’.

Minuman ajaib ini pun kerap kali dimanfaatkan untuk mempererat jalinan silaturahmi. Berapa banyak orang yang mengajak kawannya untuk ‘ngopi yuk’ dengan maksud untuk mengajak bertemu. Bahkan kopi itu sendiri didiamkan karena mereka larut dengan obrolannya.  

Segelas kopi juga berguna tatkala tuan rumah menerima tamu, terutama pria. Dengan segala kerendahan hatinya, kopi seakan menjadi suguhan wajib bagi ahlul bait. Entah kenapa budaya ini kental sekali bagi masyarakat Indonesia. Di mana pun aku bertamu, kopilah hal pertama yang datang tatkala menemani obrolan. Bagai sayur tanpa garam.

Kopi sebagai gaya hidup

Kopi memang menjadi komoditas yang menjanjikan sejak dulu. Perdagangan biji kopi telah melintasi berbagai benua yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Hingga sampailah ke nusantara dengan ciri khasnya masing-masing di berbagai daerah. Banyak dari mereka yang mendirikan warung kopi untuk menopang hidup. Bahkan warung tersebut kini keliling mencari pelanggan, ‘starling’ mereka menyebutnya.

Kini kopi bermutasi tidak hanya berwujud ekonomi semata, melainkan sebagai gaya hidup bagi masyarakat urban. Ratusan kedai kopi dengan berbagai nama terbuka di pinggir jalan. Mereka tidak hanya menawarkan kopi, tetapi sebuah ruang bagi mereka yang ingin menemukan inspirasi atau bercengkrama dengan handai tolan.

Mereka yang datang ke kedai kopi kekinian, terkadang bukanlah sebuah penikmat kopi sejati. Sebagian datang karena tren atau ikut-ikutan temannya. Atau kaum penyembah eksistensi semu di media sosial yang rela memesan kopi demi konten dan ditambah gombalan khas Ben dan Jody dalam buku kopi berfilosofi.

Kemungkinan lain, mereka memesan kopi lantaran sajian koneksi internet gratis untuk mengunduh sesuatu. Berbekal sebuah laptop dan earphone, manusia jenis ini bisa betah berjam-jam, bahkan dari toko buka hingga tutup kembali, demi menunggu bar unduhan terisi penuh. Padahal kopinya sudah habis dua jam yang lalu.

Namun, di balik itu semua, aku punya sedikit cerita yang tidak menyenangkan tentang kopi. Aku memang penggemar kopi bahkan sejak berumur 10 tahun. Masih teringat, kala itu harga kopi saset hanya 300 perak, karena murah dan rasanya cukup enaklah aku terus membelinya. Hingga suatu hari, pencernaanku terganggu, lupa persisnya hanya saja aku sampai dibawa ke klinik.

Kemudian dokter yang secara ajaibnya tahu bahwa aku teralalu sering ‘ngopi’, dulu ku berpikir dokter kok bisa tau sih padahal aku tidak mengatakan kebiasaanku itu, ajaib. Pesannya, mengonsumsi kopi boleh-boleh saja, tapi harus diimbangi dengan makan yang cukup. Tidak boleh meminum kopi kalau perut kosong. Sejak saat itulah, aku membatasi untuk menikmati kopi hanya setelah aku yakin bahwa aku telah makan.

Selain itu, ada batasan lain juga yang ku buat sendiri terkait waktu meminum kopi. Yaitu, aku tidak akan mengonsumsi kopi sesaat sebelum berolahraga. Entah kenapa ketika aku ‘ngopi’ sebelum olahraga, staminaku cepat habis ketika bersepeda, atau istilahnya cepat ‘ngos-ngosan’ dari biasanya. Mungkinkah karena zat kafein yang membuat jantung berdebar-debar?

Bercerita tentang kopi memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita di balik pahitnya seduhan kopi. Diskusi panjang lebar pun akan terasa hangat apabila ditemani secangkir kopi. Tetapi perlu dicatat, sesuatu yang berlebihan itu tidak sehat.