Selama dua puluh tahun, ada beberapa nasihat dari bijak bestari mengenai lisan yang penulis dengar. Nasehat itu seperti “Jika diam adalah emas, maka berkata adalah berlian”. Adapula nasihat “keselamatan seseorang tergantung pada penjagaan lisannya”.

Konon, Lamaddukelleng seorang perantau bugis menjawab bahw bekal yang ia bawa ketika hendak merantau adalah tellu cappa’ (tiga ujung), yaitu cappa lila (ujung lidah), cappa kiwali (ujung badik) dan cappa katawang (ujung kelaki-lakian). Ujung lidah yang dimaksud tidak lain adalah kemampuan berdiplomasi, retorika dan kata-kata bijak.

Ada pula hikayat yang dituturkan kepada penulis tentang seorang pemuda yang selamat dari upaya pembunuhan karena kata-katanya. Preman yang gagal membunuh berujar bahwa ucapan pemuda adalah kalam yang keramat. Kata-kata pemuda itu membekas dalam hati preman dan saudagar yang angkuh.

Pada akhir tahun 80-an, ada seorang pemuda yang telah menyelesaikan pendidikannya di tanah pandang. Pemuda mendapatkan biaya pendidikan dari hasil jerih payahnya menjahit dan dari penghargaan orang tua murid karena telah mengajar anak mereka mengaji.

Berulang kali Pemuda mengatakan bahwa  ia hanya hendak mengamalkan ilmunya akan tetapi orang tua murid bersikeras membalas jasanya. Selama menempuh pendidikan juga ia tinggal di masjid sembari mengurus tempat beribadah jamaah tersebut.

setelah tamat, muncul dalam benak pemuda untuk mencari penghidupan di tanah Appan. Si pemuda mendengar bahwa banyak kaum kerabatnya telah sukses di sana. Dengan bekal ijazah dan koper ia berangkat ke sana dengan kapal laut.

Sesampainya di pelabuhan tujuan, apa yang dilihatnya pertama kali adalah batu-batu karang yang besar, tanah yang tandus dan pepohonan yang cokelat. Terik matahari yang menyengat turut menyempurnakan kondisi tersebut.

Tiga hari pemuda menawarkan diri dari toko ke toko penjahit, namun ditolak dengan beragam alasan. Pegawai yang penuh, pesanan yang sedikit dan alasan lainnya. Sewaktu hendak kembali pulang, datang seorang saudagar mencari orang yang mampu mengurus masjid.

Saudagar memiliki pribadi yang kurang baik karena ia bersifat otoriter. Ia juga menganggap rendah orang yang miskin. Baginya penghargaan hanya milik orang-orang yang berduit. Orang miskin tidak ada nilainya. Dengan uang segalanya akan berjalan mulus. Namun kelak saudagar khilaf akan perbuatannya.

Pemuda yang telah memiliki cukup pengalaman bersedia mengisi pekerjaan tersebut. Satu hingga dua bulan semuanya berjalan dengan baik. Namun, konflik terjadi ketika proses renovasi masjid.

Setelah pemuda dan para jamaah masjid berdiskusi, bermusyawarah, bertukar pikiran mengenai gambaran masjid ke depan, maka tercapailah keputusan bersama bahwa dinding masjid akan dibentuk menyerupai pintu masuk. Ide tersebut dijalankan dan sudah dikerjakan sekian minggu.

Ketika datang ke masjid, saudagar angkuh yang melihat pengerjaan tersebut tidak terima. Ia mengambil besi gali untuk menghancurkan dinding yang sementara dikerjakan. Warga sekitar pun berdatangan melihat kelakuan Saudagar angkuh itu.

Saudagar berkata” apa-apaan ini. Siapa yang berani-berani mengubah masjid?. Dasar kurang ajar. Siapa lagi yang kalian mau dengar kalau bukan orang kaya?”. Kata-kata saudagar sangat tajam dan menyakitkan. Saudagar lupa bahwa ia jarang datang ke masjid. Berkali-kali ia tidak ada saat hendak dikunjungi. Pembangunan sudah mendesak kalau tidak masjid akan rusak.

Setelah dibisik oleh salah seorang warga, ia pun kembali turun ke rumahnya. Pemuda yang mendengar kata-kata saudagar menjadi malu dan rendah diri. Sebagai pengurus masjid ia memang bertanggung jawab. Dan sebagai orang yang miskin ia semakin sadar diri dan rendah diri. Kata-kata itu menyakitkan dan membuat pikirannya berantakan.

Pemuda selama ini mencoba penghasilan dengan membuat anakan jeruk dan menjual pinang yang direndam berhari-hari. Hasil dari usaha itu tidak seberapa. Ia berpikir bahwa ia memang miskin.

Pemuda yang bertanggung jawab turun sembari memohon maaf kepada saudagar. Ketika bertemu di tempat lain juga ia memohon maaf. Saudagar merasa bahwa pemuda adalah biang keroknya. Pemuda ini berbahaya karena dapat menjatuhkan pengaruhnya. Pikir saudagar angkuh. “Siapa sih Pemuda itu? untuk apa urus-urus masjid?” Pikir saudagar.

Saudagar lupa siapa yang mencari orang untuk mengurus masjid. Saudagar lupa siapa yang telah mengajar anak-anaknya mengaji tanpa imbalan.

Beragam cara dilakukan untuk menyingkirkan pemuda. Dari gosip, cacian hingga fitnah. Hingga suatu upaya pembunuhan.

Pada malam hari setelah jamaah masjid pulang ke rumah masing-masing, Pemuda yang tinggal sendiri di masjid didatangi seorang yang tidak dikenal. Berulang kali pintu kamar pemuda diketuk. Ketakutan menyelimuti tubuh pemuda. Namun ia mencoba untuk melantunkan zikir

Pemuda membuka pintu dan mempersilahkan orang yang menyimpan pisau dibalik bajunya itu. tidak ada basa-basi dan pemuda langsung berujar” Berani-beraninya kamu datang kesini. ini saya!!! selama hidup tidak pernah ketemu orang yang berani!”. Kata Pemuda sambil menunjuk dadanya tiga kali.

pemuda berkata jujur bahwa ia memang betul-betul belum pernah bertemu orang yang lebih berani daripada pembunuh itu.

“Ini saya!!! keponakannya Daeng Petta yang pernah baku bunuh di hutan. Mayatnya tiga hari baru ketemu. Kalau mau baku bunuh maka panggil tuan kamu itu! supaya kita baku bunuh di hutan” Kata pemuda dengan nada yang tinggi.

Pemuda berkata benar sekali lagi. Ia adalah keponakan dari daeng Petta tapi ia bukan pelaku pembunuhan.

Daya tangkap pembunuh itu rendah. Otak tak pernah diasah. Dalam benak pembunuh, pemuda adalah orang yang jauh lebih berbahaya. Ketakutan berbalik menyelimuti si pembunuh. Menggigil badannya. Pucat wajahnya. “Pulang sana!!!” bentak pemuda.

Pembunuh kembali pulang ke saudagar angkuh itu. “Saya takut, saya takut”. Kata pembunuh itu. Ia menceritakan semua yang dialaminya kepada tuannya. Mendengar hal itu, saudagar juga takut. Ia pun menggigil. wajahnya putih pucat pasi.

Kata-kata pemuda berpengaruh. Kalam itu membekas ke dalam jiwa pembunuh dan saudagar angkuh. Pikiran mereka kacau tidak karuan. dua hari saudagar terserang demam. Semenjak sembuh, saudagar berusaha menghindari si pemuda.

Pernah suatu ketika, saudagar berpapasan dengan pemuda ketika hendak naik angkot. Pasalnya di dalam angkutan itu hanya akan ada tiga orang yaitu saudagar, supir dan pemuda. “saya siap jika bentrokan fisik terjadi’ kata pemuda dalam hati. Namun saudagar memilih enggan naik angkot tersebut.

Setelah diangkat menjadi qadi, Pemuda pamit meninggalkan tanah Appan. Ia menemui saudagar dan saling bermaafan. “yang lalu biarlah berlalu” kata pemuda. Saudagar pun khilaf atas perbuatannya.

Dari kisah ini, penulis kembali teringat kata bijak bestari bahwa tempatkanlah sesuatu pada tempatnya. karena Tiap-tiap kata ada tempatnya dan tiap-tiap tempat ada katanya.