“Novi ini ngeyel. Keberhasilannya untuk survive adalah dia ngeyel dengan dirinya sendiri, bahkan terhadap penyakitnya pun dia ngeyel. Berani beradu argumentasi dengan penyakit. Itu tidak mudah. Itu dinamika internal yang sulit.”

Ngeyel adalah label yang diberikan oleh dokter Jisdan padaku. Dia mengatakannya jauh setelah aku menyelesaikan pertempuran sengit dengan kanker. Karena merawat selama puluhan tahun, dia memang hafal betul akan tabiatku. Jadi ya diterima sajalah…haha. Terlebih ketika kata ngeyel itu menjadi sesuatu yang positif.

Penyakitku ditemukan sebelum operasi, melalui biopsi, yaitu adenocarsinoma tipe signet ring cell. Ini adalah penyakit kanker paling ganas, yang semakin ganas apabila terjadi pada usia yang semakin muda. 

Namun waktu itu dokter hanya menjelaskan bahwa yang kita hadapi adalah sesuatu yang berat. Karena menurutnya, penjelasan secara detail justru akan menyebabkan tubuh tidak siap menjalani operasi. Stres emosional membuat semua sistem di dalam tubuh tidak bekerja secara optimal.

“Sehingga yang lebih baik adalah memberdayakan. Dan saya memang harus memilih tidak menjelaskan semuanya untuk alasan emosional pasien.Kekuatan emosional dan psikologi Novi lah yang menjadi titik tumpu. Kalau pikiran fokus, semuanya akan menyesuaikan. Itulah sebabnya dari awal saya katakan, bahwa yang kita lihat adalah sosoknya, manusianya…bukan penyakitnya,” tambah dr. Jisdan.

***

Dokter dan keluarga memang tidak pernah menjelaskan secara detail keganasan penyakitku. Aku juga tidak bisa mencari info di internet karena tahun 1997 bahkan belum ada Google. Ah, ini justru sangat kusyukuri saat ini.Kalau kebanyakan informasi, mungkin aku malah jadi overthinking. Namun meski tidak tahu secara pasti, sebenarnya secara intuisi, aku tahu bahwa penyakitku serius.

Beberapa bulan setelah operasi, aku menjalani kemoterapi di RS. Sardjito Yogyakarta. Untuk mendapatkan satu paket obat injeksi bernama 5FU sebanyak 5 ampul, aku harus dirawat inap sekitar dua hingga tiga hari. Jika obatnya sudah ada, disuntikkan satu ampul, sisanya disimpan untuk disuntikkan satu per satu setiap minggu, hingga satu bulan ke depan. Begitu seterusnya.

Saat-saat menunggu obat, di rumah sakit tidak ada yang kulakukan. Pemasangan infus hanya diberikan jika diperlukan saat akan diinjeksi. Ada kalanya aku berangkat ke rumah sakit naik motor sendiri, tidak mau diboncengin. Belagu kan? Haha. Siang hari kalau tidak ada yang menemani di rumah sakit, saya jalan-jalan keluar, makan di kantin, main ke kamar pasien sebelah. Duh…sungguh pasien tak tahu akhlak.

Aku baru akan berbaring manis di tempat tidur ketika perawat sudah siap menyuntikkan obat. Lalu menjadi lemas, mual, dan pusing. Menunggu kondisi sedikit membaik dan diizinkan pulang. Nah kalau sudah begini, pulangnya tidak akan berani naik motor sendiri. 

Aku hanya diam dan lunglai, setidaknya sampai keesokan harinya. Segera setelah itu, aku harus melawan rasa mual untuk makan lagi agar kondisi umum baik untuk menerima suntikan lagi minggu depan.

Setelah cuti kuliah satu semester dan ritme pengobatan masih sama, saya memberanikan diri bertanya pada dokter. “Saya boleh kuliah lagi ngga, Dok?” Sepertinya dokter kaget mendengar pertanyaan itu. Dilematis untuk menjawabnya. Kalau dilarang, bisa berpengaruh pada semangatku. 

Kalau diizinkan, jadwal kuliahku cukup padat dan bukan di Yogya. Meski Solo-Yogya tidak jauh, tapi intensitas pengobatan yang tinggi, membuat dokter berpikir apakah nantinya aku bisa menjaga kondisi tetap fit untuk bisa melanjutkan kemoterapi.

“Boleh, tapi prioritasmu tetap kemoterapi ya. Kalau capek, kamu harus istirahat. Tidak boleh ikut kegiatan kampus selain kuliah. Kalau jadwal kemo bersamaan dengan jadwal kuliah, saya bisa buatkan surat keterangan isitirahat. Asal kamu bisa menjaga prioritas dan biological time yang sudah terbentuk selama ini, kamu boleh kuliah lagi”, jawaban dokter sangat menggembirakan.

Lalu dimulailah episode berat kehidupanku. Kuliah di jurusan matematika adalah pilihanku sendiri. Namun nyatanya yang dipelajari di kampus, jauh dari gambaran matematika yang menyenangkan seperti waktu SD-SMA. Kembali kuliah di saat sakit pun adalah pilihanku sendiri. Tak seorang pun yang memintaku kuliah lagi. Keluargaku hanya ingin fokus dengan kesembuhanku.

Karena semua itu pilihanku sendiri, aku harus konsekuen. Atau mungkin aku malu kalau menyerah haha. Jadilah kujalani dengan hasil kuliah yang tidak mengecewakan dan kemoterapi tetap jalan sesuai rencana. 

Empat tahun lamanya aku setengah akrobatik membagi waktu untuk keduanya. Dan tepat saat dinyatakan lulus kuliah, kemoterapi pun dihentikan karena hasil laboratorium menunjukkan cancer free selama beberapa bulan berturut-turut.

Barangkali itulah sebagian kecil kengeyelan saya. Masih banyak lagi yang lainnya. Kengeyelan itu menumbuhkan tekad dalam diri bahwa meskipun perhitungan medis menunjukkan sesuatu yang sulit, aku tidak mau tunduk. Aku hanya berhenti ketika tubuhku tidak mampu lagi, bukan karena seseorang menyuruhku untuk berhenti.