Pandemi corona ini tidak hanya mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai bentuk adaptasi. Misalnya mengubah kebiasaan dengan memakai masker saat keluar rumah. Akan tetapi juga telah mengubah makna kata dan ungkapan yang terbentuk di masyarakat. 

Saat ini ada beberapa kata dan ungkapan yang mengalami persegeran makna atau persepsi di kalangan masyarakat. Berikut ini disajikan beberapa kata dan ungkapan yang bermakna sebaliknya apabila disandingkan dengan makna sebelum dan pada saat pandemi sekarang ini.

#1 Kata negatif dan positif

Semenjak pandemi corona, kata negatif dan positif telah menjadi kata yang populer.  Tentu saja berkaitan erat dengan hasil test PCR, rapid test antigen ataupun rapid test antibody bagi masyarakat yang melakukan test baik yang merasakan gejala maupun kontak erat dengan pasien corona.

Hasil test tersebut tentu saja sangat ditunggu oleh masyarakat yang telah melakukan test. Terlebih bagi yang sedang menjalani test karena mengalami gejala baik ringan maupun berat ataupun yang kontak erat dengan pasien corona. Bisa juga ditunggu oleh orang yang akan melalukan perjalanan. 

Semua orang yang melakukan test corona berharap agar hasil test negatif. Tidak ada satupun yang berharap kebalikannya. Berharap tulisan negatif yang tertera di surat hasil test dari laboratorium.

Dahulu sebelum pandemi corona mewabah di Indonesia bahkan dunia, kata negatif dianggap bermakna menyimpang atau bermakna tidak bagus. Sedangkan kata positif, dimaknai sebagai sesuatu yang bagus atau baik. Namun sekarang ini, kedua makna tersebut saling bertukar makna. 

Saat pandemi sekarang ini, tentu yang semua orang tidak mengharapkan hasil positif ketika mendapati hasil tes corona. Namun sebaliknya, orang ingin mendapatkan hasil yang negatif bukan? Kata negatif dan positif telah bertukar makna dalam konteks pandemi corona.

#2 Peribahasa bersatu kita teguh bercerai kita runtuh 

Peribahasa ini selalu kita gaungkan untuk memupuk semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, ras dan bahasa. 

Dengan adanya peribahasa “bersatu  kita teguh, bercerai kita runtuh”, diharapkan menjadi slogan bersama antar warga Indonesia yang berbeda-beda. Sehingga bisa terjalinnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Namun pada masa pandemi ini, peribahasa ini malah dilarang diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pemerintah mengkampanyekan program 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobiitas. 

Dua dari dari 5M disini yaitu menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Maka implikasi dari menjaga jarak dan menjauhi kerumunan yang diterapkan salah satunya adalah kegiatan berkumpul di masyarakat, seperti arisan RT atau kerja bhakti. Kegiatan tersebut sekarang tidak boleh dilakukan.

Malah beberapa minggu ini, warung angkringan di tetangga kampung didatangi oleh petugas Satgas Covid-19 kecamatan, Satpol PP dan polisi. Karena memang sedang diterapkan PPKM di Kota Yogyakarta. Padahal bagi warga Yogyakarta, angkringan merupakan media untuk berkumpul dan berbagi informasi.

Jadi, pada masa pandemi corona ini peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, untuk sementara di-lockdown dulu. Sampai corona pergi dari Indonesia bahkan muka bumi. Bagi kalian yang senang berkumpul, berserikat dan menyampaikan pendapat, mohon kesabarannya untuk menahan diri sejenak.

#3 Berkunjung dan bersilaturahmi 

Dalam ajaran agama Islam dan saya berkeyakinan agama lain juga menganjurkan, kegiatan saling berkunjung dan bersilaturahmi merupakan kegiatan yang baik dan muliah bahkan sangat dianjurkan. Akan tetapi pada masa pandemi corona ini, kegiatan tersebut dilarang karena bisa membahayakan.

Membahayakan disini dalam artian membuat potensi penuluran virus corona bagi para pelaku silaturahmi.  Sehingga program untuk memutus mata rantai penuluran virus corona yang sudah dikampanyekan oleh pemerintah akan sia-sia.

Saat ini masyarakat sendiri sudah paham dengan ancaman virus corona ini apabila kita melakukan kegiatan silaturahmi. Bahkan pada lebaran tahun 2020 lalu, di kampung saya tidak ada sama sekali kegiatan saling berkunjung antar tetangga. Jauh sebelum corona sudah ada tradisi saling berkunjung saat lebaran. 

Dalam masyarakat Jawa saling berkunjung saat lebaran disebut sebagai ujung. Ujung merupakan budaya masyarakat Jawa yang berarti melakukan silaturahmi atau berkunjung kepada orang tua atau yang dianggap tua. Dilakukan pada hari lebaran. 

Kini, budaya tilik bayi atau menengok bayi atau tilik orang sakitpun tidak dilakukan. Kalau dulu, orang tidak ikut tilik, dianggap tidak mau bermasyarakat. Akan tetapi kalau sekarang, malah dianjurkan untuk tidak melakukan budaya tilik bayi ataupun tilik orang sakit.

Dalam menghadapi kondisi dan situasi yang serba tidak pasti ini, corona telah mengubah pola kehidupan manusia. Baik pola kehidupan dalam bermasyarakat, beribadah dan pola kehidupan lainnya. Agar kita bisa kuat dan survive dalam menghadapi corona, adaptasi adalah pilihan bijak.