Kasus lem aibon tengah viral. Itu berkat keberanian anak-anak muda PSI membongkar dan mempreteli nominal anggarannya di depan publik. Tiada ampun sama sekali untuk upaya perampokan bagi mereka.

Jelas kita harus salut. Kalau bukan karena anak-anak muda progresif itu, praktik “pemahaman nenek lu!”-nya Ahok bisa-bisa akan bersemi kembali. Berkat mereka, kita tahu bahwa ada usaha elite DKI mencuri uang rakyat. Angkanya tak tangggung-tanggung: bermiliar-miliar rupiah!

Mereka (anak-anak PSI) benar-benar menggantikan Ahok sebagai anjing. Ya, anjing; anjing yang menjaga harta tuannya, warga DKI. Hidup anjing!

Anggaran Siluman

Seperti diutarakan anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Solidaritas Indonesia, William Aditya Sarana, anggaran pembelian untuk lem-leman tersebut mencapai 82 miliar rupiah. Itu pun bisa ia temukan setelah bekerja keras dengan rekan-rekannya yang lain mencari cara bagaimana menembus akses apbd.jakarta.go.id yang sebelumnya disetel privat. Dan usahanya tidak sia-sia.

“Sampai sekarang publik belum bisa mengakses dokumen APBD 2020 di apbd.jakarta.go.id. Padahal pembahasan anggaran sudah dimulai di DPRD. Namun, kami berhasil mendapatkan cara untuk mengaksesnya. Lalu kami menemukan anggaran yang cukup aneh lagi, yaitu pembelian lem aibon sebesar 82 miliar lebih oleh Dinas Pendidikan,” beber William di laman media sosialnya.

Tangkapan layar atasnya pun langsung dilakukan. Ia sebar sebab khawatir jangan sampai isi link yang sudah bisa ditembus itu dihapus segera. Karena pengalaman membuktikan: cepatnya kesalahan terungkap, lebih cepat lagi penghilangan jejaknya.

Twitter

Tak lama menyusul setelah temuannya viral, kekhawatiran anak-anak PSI akhirnya terbukti. “Info jadwal belum ada yang dipublikasikan” tampil jadi pesan utama di isi link tersebut saat dibuka kembali; hilang entah ke mana rimbanya.

***

Penelusuran ini berawal dari keresahan anggota Fraksi PSI terhadap proses penyusunan anggaran di DPRD DKI Jakarta. Memasuki batas waktu pembahasan APBD 2020, ada banyak sekali kejanggalan yang pihaknya rasakan dalam proses penyusunan tersebut, utamanya soal transparansi.

Buktinya, sebagai Anggota Badan Anggaran DPRD Provinsi DKI Jakarta, William tidak diberi akses ke situs yang memuat anggaran tersebut. Padahal sangat penting jadi rujukan untuk pembahasan anggaran ke depannya.

Nuansa-nuansa tidak transparan itu kian menghebat setelah William dkk. menemukan anggaran pembelian lem aibon yang begitu luar biasa. Saat ditanyakan berdasar apa itu disusun, pihak Pemprov terkait hanya meresponsnya begini: “salah input.”

Tentu saja anak-anak PSI, dan publik macam saya, kian geram sejadi-jadinya. Masa iya penghapusan isi link-nya didasarkan pada kesalahan input? Kalau benar demikian, kenapa rincian anggarannya, yang jika ditotal, tetap menunjukkan angka yang serupa, 82 miliar rupiah lebih? Keanehan tiada tara memang.

Telusur demi telusur, ternyata bukan hanya anggaran untuk lem aibon saja yang bermasalah, saudara-saudara. Ada pula soal pulpen yang angkanya tidak kalah fantastisnya: 123,8 miliar rupiah! Apakah ini salah input juga?

Belum lagi tentang anggaran untuk pembelian unit-unit komputer yang tidak jelas peruntukan dan spesifikasi teknisnya. Juga perihal pengadaan smart storage beserta server-nya. Semuanya mencapai nominal serupa: bermiliar-miliar rupiah. Lagi-lagi, masihkah ini salah input?

Jika benar salah input, maka saya hanya bisa bilang “hmmm…” atau “wkwkwk..” saja. Toh tidak ada bukti valid, kan, kalau pihak terkait memang sengaja? Jadi biarkanlah. Cukup terima alasan “salah input”, supaya mereka tidak malu saja; malu sama Ahok.

Eh, malah bawa-bawa Ahok saya. Ya sudah, kita lanjut bahas soal Ahok, tentang bagaimana responsnya terkait kasus lem aibon dan anggaran siluman lainnya di negeri yang pernah ia kelola secara apik ini.

Pemahaman Nenek Lu!

Mendengar kasus semacam itu, saya jadi teringat kiprah Ahok saat di DKI Jakarta dulu. Anak-anak muda PSI itu benar-benar mengembalikan ingatan saya ke sosok Ahok yang juga tidak kalah getolnya sebagai pelawan perampok uang rakyat.

Dulu, terhadap niat dan upaya perampokan seperti itu, Ahok tampil dengan ucapan “Pemahaman nenek lu!”. Itu sebagai cara khas dia melakukan perlawanan atas segala yang tidak layak.

Sayangnya, para pembenci Ahok menjadikan itu sebagai senjata untuk menyingkirkannya. Yang mereka lihat hanya dari penampakan luar saja: bicaranya kasarlah; tidak sopanlah; dan lah-lah lainnya.

Sekarang apa kabar para pembenci Ahok itu? Melihat junjungannya kini, Anies Baswedan, yang berusaha membuat “pemahaman nenek lu!” bersemai kembali, kok mereka terkesan bungkam seribu bahasa? Agaknya, sebobrok-bobroknya gabener, tetaplah ia sang pujaan hati.

Tapi sudahlah. Esok juga kasus itu redam. Sudah diklarifikasi, meski ngalor-ngidul, oleh sang gabener sendiri. Yang kita butuhkan hari ini, terutama mayoritas warga DKI, adalah introspeksi diri. Sebab kalau bukan mereka, mustahil yang siluman-siluman penggerogot anggaran mencuat lagi.

Soal apa kata Ahok terkait kasus lem aibon dan anggaran siluman lainnya yang anak-anak PSI temukan, maaf, saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya, tapi belum menemukan juga. Sepertinya Ahok belum memberi respons apa-apa atasnya. Kalaupun harus, ya tidak akan jauh-jauhlah dengan ungkapan “pemahaman nenek lu!” itu.