Malam itu nampak suram. Langit menangis seakan-akan tengah berduka. Keramaian di malam itu ditambah dengan suara sirene dari mobil-mobil polisi yang mengerubungi rumah mewah yang terletak cukup jauh dari pemukiman biasanya. Di sekeliling hanya nampak pepohonan lebat dengan satu-satunya jalan yang menghubungkan rumah terpencil tersebut dengan dunia luar.

Di antara kerumunan pertugas polisi, seorang pria dengan jas coklat dan kemeja jingga yang nampak mencolok di tengah gelapnya malam berdiri di ambang pintu dengan wajah kusut. Dia tengah berbincang dengan salah satu petugas polisi yang ada.

“Kira-kira sampai kapan kalian akan berada di sini?” tanyanya di sela-sela pertanyaan yang petugas polisi ajukan padanya. Nada jengkel terdengar jelas dalam ucapannya tersebut.

“Kemungkinan besar sampai kasus ini terselesaikan, pak,” jawab petugas polisi tersebut, seorang inspektur, dengan senyuman sopan. Melihat wajah pria di hadapannya bertambah kusut, ia menambahkan, “Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya.”

Pria berkemeja jingga itu hanya mendecih. Meskipun ia aman dari tetesan hujan lebat di luar rumah, ia tetap saja sebal. Lagi pula, ia sudah berpakaian rapi untuk acara malam itu yang terpaksa dibatalkan akibat situasi dan kondisi.

“Kenapa pelakunya tidak memilih hari lain saja sih?” gerutunya.

Inspektur polisi tadi hanya bisa menawarkan senyuman pasrah serta gelengan kepalanya. “Kamu tahu tersangka utama dalam kasus ini kamu, kan?”

Pertanyaan dari sang inspektur diabaikan oleh sang pria jingga. Beberapa detik berlalu dengan keheningan di antara mereka, hanya suara hujan dan petugas-petugas di sekitar mereka yang sedang bekerja. Saat sang inspektur mengira pembicaraan mereka sudah selesai, si pria jingga kembali membuka suara.

“Aku tahu,” jawabnya. Matanya kini tak lagi menatap sang inspektur, memutuskan bahwa pintu depan rumah tersebut lebih menarik baginya untuk dipandang. Wajahnya tak lagi mengerut dalam kekesalan, berubah menjadi sesuatu yang tak bisa dibaca oleh orang lain. “Mungkin ini karma darinya.”

“Jika korban masih ada di sini, ia akan kegirangan mendengarmu percaya tentang karma.”

“Jangan menyebut nama kakak dengan ‘korban’. Aneh.”

Korban. Kakak laki-laki sang pria jingga. Teman lama sang inspektur. Meninggal di rumah kediamannya sendiri. Pembunuhan ruang tertutup, sang inspektur menyimpulkan ketika ia sampai di TKP. Korban meninggal akibat tusukan di daerah dadanya saat ia sedang bekerja di kantor pribadinya.

Siapa yang menyangka pekerjaannya sendiri yang membawanya terlibat dengan kematian teman lamanya?

Runtutan pemikirannya itu dipecahkan oleh sang pria jingga di sebelahnya.

“Siapapun yang melakukan ini kepada Kakak,” mulainya dengan tegas, menatap mata sang inspektur dengan determinasi, “patut dihukum seberat-beratnya.”

Sang inspektur hampir tersenyum mendengar tekad pria tersebut.

“Bahkan jika salah satu dari kita adalah pelakunya?”

“Terutama jika salah satu dari kita adalah pelakunya.”

Ucapan tersebut membuat sang inspektur tersenyum pahit dan terdiam. Ia sudah punya dugaan bahwa pelakunya merupakan salah satu dari mereka: ia, pria jingga, tiga saudara laki-laki lainnya, atau staff di rumah tersebut. Mendengar orang lain sudah menduga hal yang sama dengan dirinya membuat perasaannya semakin tidak enak.

Sang inspektur diam saja, tak tahu harus membalas apa. Ia membiarkan pernyataannya menggantung di udara, perlahan-lahan tenggelam di antara lebatnya hujan. Pria jingga di sebelahnya juga tak berkata apa-apa.

Tak ingin berlarut dalam kediaman yang mencekam, sang inspektur mengangguk pada pria jingga, membalikkan badannya, lalu berjalan menuju ke dalam rumah. Di perjalanannya ia terus bertemu dengan petugas lalu lalang yang tengah mengurus TKP. Beberapa berhenti untuk menyapanya dalam formalitas, sebuah gestur yang ia apresiasi dan balas dengan seramah mungkin. Tentu hal itu tidak mudah dengan kondisi mentalnya yang terpengaruh akibat kasus tersebut.

Meskipun begitu, ia tidak akan membiarkan hal itu menghentikannya. Saat ia menginjakkan kaki ke dalam TKP untuk kedua kalinya, kini disambut dengan ruang kerja kosong dan panas dengan mayat yang sudah dipindahkan, ia berpikir keras, mengambil semua informasi maupun jejak yang ada di dalam ruangan tersebut.

Dua puluh tahun sejak komunikasi terakhirnya dengan korban. Tak ada satupun dari mereka yang beranjak dari zona nyamannya untuk sekadar bertanya kabar. Kini memori mereka bersama hanyalah sebuah memori yang berputar di dalam otak sang inspektur bagaikan film lama.

Lima belas tahun sebagai inspektur. Tak ada satupun kasus yang tidak bisa ia pecahkan. Semuanya ia jalani dengan semua upaya dan kerja keras demi menaiki setiap tingkatan yang bisa ia pijak.

Mata sang inspektur akhirnya terpaku pada sebuah buku catatan, terletak terbuka di atas meja kerja. Beberapa saat yang lalu, korban tengah menulis di dalam buku tersebut, mungkin dengan senyuman di wajahnya dan sandungan lagu rock, genre lagu yang korban sukai saat mereka masih berkontak. Tangan sang inspektur yang terbalut sarung tangan itu meraih buku tersebut untuk dibuka di hadapannya.

Dari petunjuk kecil itu, sang inspektur bertekad untuk menyelesaikan kasus tersebut demi temannya.