Pengantar

               Permasalahan lingkungan adalah masalah yang belum dapat diselesaikan hingga sekarang, mulai dari masalah polusi, banjir, maupun masalah lingkungan. Saat ini, perkembangan zaman tidak dapat dihindarkan. Meskipun demikian, perkembangan tersebut tidak berbanding lurus dengan perkembangan dalam menyelesaikan masalah lingkungan. Sebaliknya, perkembangan tersebut tidak jarang semakin merusak lingkungan itu sendiri. salah satu bentuk permasalahan lingkungan adalah permasalahan tambang di NTT.

            Tambang merupakan sesuatu yang menggiurkan bagi pemilik modal. Dengan adanya, tambang keuntungan dapat diraih oleh pemilik modal. Akan tetapi di lain sisi, pembukaan tambang ini menjadi masalah lingkungan bagi warga sekitar. Salah satu aktivis lingkungan yang menyuarakan penolakannya terhadap pembukaan tambang adalah Aleta Baun.

            Aleta Baun adalah seorang aktivis perempuan suku Mollo lahir di Desa Lelobatan, Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 16 Maret 1965. Ia lahir dari keluarga petani di kaki Gunung Mutis. Di usia muda, dia kehilangan ibunya sehingga dia dibesarkan perempuan lain di sukunya. Konteks lingkungannya adalah dominasi patriarki kuat. Sehingga pertama kali menyuarakan protes, Aleta Baun kurang didengar oleh kaum laki laki ketua adat di sana.

            Meskipun demikian, Aleta Baun berusaha untuk melakukan aksi penolakannya terhadap tambang. Alasan Aleta Baun memprotes adanya pembukaan tambang karena: Baginya Ekologi saat ini perlu diselamatkan. Aleta melihat bahwa tambang adalah bagian dari pembangunan pemerintah. Masalahnya adalah pembangunan yang seperti apa? Yang merusak alam?  Atau pembangunan yang menyelamatkan ekologi?

            Kalau tambang masuk dalam kawasan itu, Aleta mewacanakan bahwa Sumber air berkurang karena sumber air akan penuh jika ada pohon, Kehidupan tidak pasti karena tidak ada pekerjaan untuk masyarakat adat akibat lahan buat tambang, mencari kayu bakar lebih jauh, Obat tradisional bagi masyarakat adat, hanya ada pada hutan. Dengan kata lain, masyarakat adat hidup dari hutan (makanan, obat obatnya, dan pekerjaan berasal dari hutan), sehingga jika hutan gundul, masyarakat adat tidak memiliki apapun.  Maka usaha yang dilakukan adalah menghentikan pertambangan.

           Aleta Baun menilai bahwa alam perlu diselamatkan. Baginya, penyelamatan alam sendiri dianalogikan bahwa alam dan manusia adalah entitas yang satu kesatuan dan sama derajatnya. Dengan demikian, manusia haruslah memperlakukan alam seperti dirinya sendiri. Aleta Baun menempatkan alam ibarat tubuh sendiri dan inheren dengan kultur masyarakat dat Mollo

          Dia bersama dengan perempuan masyarakat adat melakukan protes damai. Protes damai yang dimaksud adalah dengan cara duduk di tempat pembukaan tambang. Lambat laun, aksi ini disupport oleh para ketua adat karena yang dilakukan Aleta Baun dan perempuan adat memberikan dampak signifikan. Dari sini penulis ingin melihat hubungan antara kasus ini dengan Konsep Deep Ecology Arne Naes.

Konsep Deep Ecology Arne Naes

             Salah satu teori ekosentrisme adalah etika lingkungan hidup yang popular dengan sebutan Deep Ecology yang dikenalkan oleh Arne Naes. Dees Ecology menuntut suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia tetapi berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitannya dengan upaya mengatasi masalah lingkungan hidup. Cara pandang ini melihat alam semesta dan segala isinya bernilai pada dirinya sendiri.

            Dari sini Naes sangat menekankan perubahan gaya hdiup yakni produksi dan konsumsi yang sangat eksesif dan tidak ekologis, tidak ramah lingkungan. Hla ini disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan industri modern yang secara gencar mempromosikan pola hidup konsumeristis.  Adalah sebuah kesalahan besar jika mereduksi kehidupan manusia dan maknanya sebatas makna ekonomi.

            Adapun beberapa prinsip dasar Deep Ecology sebagai berikut. pertama, biosheric egalitarianism, semua organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang statusnya memiliki martabat yang sama secara keseluruhan. Sehingga prinsip ini menekankan bahwa segala sesuatu di alam harus dihargai karena memiliki nilai pada dirinya sendiri.

            Kedua, prinsip non-antroposentrisme, yaitu manusia merupakan bagian dari alam, bukan di atas atau terpisah dari alam. Melalui prinsip ini, manusia tidak dilihat sebagai tuan dan penguasa dari alam semesta tetapi statusnya sama sebagai ciptaan Tuhan. Ini berarti sikap dominasi manusia hendaknya digantikan dengan sikap hormat terhadap alam.

            Ketiga, prinsip realisasi diri, yakni memandang bahwa manusia semakin menjadi manusia jika merealisasikan dirinya dalam komunitas ekologis. Artinya manusia berkembang menjadi manusia yang penuh justru dalam relasi dengan semua kenyataan kehidupan alam. Pemaknaan ini adalah keluasan berpikir dari ide Aristoteles yang menyebut bahwa manusia berkembang menjadi manusia dalam relasi dengan sesame manusia.

            Keempat, pengakuan dan penghargaan terhadap keanekaragaman dan koompleksitas dalam suatu hubungan simbiosis. Hubungan simbiosis ini berarti hidup bersama secara saling menguntungkan. Atas dasar prinsip ini, manusia berhak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan vital di alam ini. hal ini dilakukan bukan dengan mencemari dan merusak habitat dari spesies lain atas dasar alasan yang tidak penting. Melainkan manusia harus menghargai sumber daya alam bagi kebutuhan spesies lain.

            Kelima, perlunya perubahan dalam politik menuju ecopolitic. Dalam kerangka ecopolitic, Depp Ecology menuntut adanya perubahan yang bukan hanya melibatkan individum melainkan juga membutuhakan transformasi kultural dan politis, yang mempengaruhi dan menyentuh struktur-struktur dasar ekonomi dan ideologis. Pada paradigm ini, Naes, mengusulkan agar kita meninggalkan konsep pembangunan berkelanjutan dengan keberlangsungan ekologis. Paradigm ini menuntut diberhentikannya kebijakan-kebijakan ekonomi dan politik yang bertujuan utama mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta gaya hidup yang konsumtif.

Kesimpulan

            Kelima prinsip ini diterapkan Aleta Baun dalam protesnya kepada pemerintah.  Yang mana Aleta Baun menganalogikan bahwa menghargai alam itu seperti menghargai diri kita sendiri. jika dirimu ditelanjangi bukankah dirimu juga tidak ingin demikian. Hal tersebut juga berlaku dalam alam. Alam tidak ingin ditelanjangi (digundul).  Maka kita perlu menghormati adanya alam.

            Dalam konteks ini, prinsip kelima mungkin hal yang sangat relevan dalam masyarakat adat karena tidak ada/ gaya konsumtifnya sedikit. Namun, adalah sulit dilakukan dalam masyarakat perkotaan. Apalagi, jika perilaku konsumtif adalah akibat tuntutan pekerjaan mereka. Tentu benar di masyarakat adat pekerjaan berasal dari hutan, akan tetapi dalam konteks masyarakat kota hal tersebut sulit untuk dilakukan.