Jika pernikahan hanya boleh dilegalkan atas dasar kasta yang sama. Saya yakin, dunia tidak seindah ini. Puisi dan syair hanyalah bualan. Bukankah yang menantang itu yang memberi sensasi? Ujian cinta ada pada kisruh. Ibarat logam. Ia harus ditempa untuk menguji orisinalitasnya. Dan karena itu saya menolak patuh - Putri

Sore itu, suasana ruangan keluarga mendadak hening. Anton baru saja memarahi Putri, gadis semata wayangnya. Anton yang tidak setuju Putri jatuh cinta pada Raymond melampiaskan amarahnya.

"Apa yang kau dapat dari lelaki seperti itu? Gaji kecil, tiap hari muka mengkerut, tidak dihargai orang tua, keluarga miskin. Kau lihat dengan matamu, bagaimana tampang bapaknya. Tidak Punya model.

Apakah kau buta, ha? Anak kurang ajar. Mulai hari ini, kalian tidak boleh jatuh cinta lagi".

Kotbah Anton membuat Putri serasa di lindas dumtruck. Ia tidak bisa membantah bapaknya. Tetapi haruskah ia menyakiti Raymond hanya karena Raymond miskin? Hanya karena Raymond guru SD? Ia terjebak dalam dilema.

Ray dan Putri sudah lama berkenalan. Mereka sekelas sejak SD sampai dengan SMA. Kinipun mereka berada di kampus yang sama tetapi berbeda jurusan. Berbekal beasiswa yang diperolehnya, Ray mengambil jurusan teknik sementara Putri mengambil jurusan akuntansi.

Ray anak yang cerdas. Pembawaan dirinya yang lincah, supel membuat siapa saja betah berteman dengannya.

Berada di kampus yang sama membuat frekuensi pertemuan mereka makin intens. Dari sekedar jalan-jalan sore sampai pada melewati malam berdua.

Mereka sudah akrab, lekat satu sama lain. Ray yang tampan dan macho serta putri yang ramping, semampai merupakan perpaduan yang ideal.

Orang-orang akan menatap mereka penuh kekaguman jika mereka jalan berdua. Lelaki yang iri pada Ray atau juga perempuan yang cemburu pada Putri seringkali menatap nyinyir.

"Duh, serasi banget"

"Ray, aku ingin jadi pacar simpananmu"

"Putri, give me chance. Aku akan membuktikan cintaku padamu"

Itu kalimat yang sering mereka dengar ketika mereka jalan berdua. Ray dan Putri senyam senyum sendiri mendengar itu.

Toh pada akhirnya segala nyinyiran akan musnah dengan sendirinya bersamaan dengan makin lengketnya mereka.

"Ray, aku mau ngomong satu hal"

"Tumben serius. Mau ngomong apa, Sayang?"

"Papa 'ga ngijinin kita bersama"

"Aku sudah tahu, sayang. Jauh sebelum kau mengatakannya"

"Ha? Memangnya saya pernah kasitahu?"

"Ga, tapi perasaanku mengatakan itu"

"Biarlah Put. Ikutlah kemauan papa kamu. Aku juga tak hendak memaksa bila itu keinginan orang tuamu".

Ray merasa sakit mengucapkan kata-kata itu. Ia tahu bahwa sejak lama, papanya Putri tidak mengijinkan Putri dekat dengannya.

Mereka berdua berasal dari keluarga yang berbeda, dari sebuah kasta sosial yang cukup curam. Papanya Putri adalah seorang pejabat daerah yang disegani. Sementara Ray? Ia hanya seorang guru hinorer dengan penghasilan 400 ribu/bulan. Keadaan rumah mereka juga bagai langit dan bumi. Rumahnya Putri seperti sebuah istana sementara rumahnya Ray? Jauh dari kata megah.

Perbedaan sosial itulah yang membuat ia sering menyendiri, memikirkannya.

"Aku tak mau mengikuti kata Papa, Ray. Aku betah denganmu dan entah mengapa aku merasa nyaman di dekatmu"

Kata-kata itu meluncur bebas dari mulutnya Putri. Baru kali ini ia resisten, melawan kemauan papanya. She knows the consequence. Berhenti kuliah atau semua fasilitas pemberian papanya dicabut.

"Hamili aku, Ray. Mungkin dengan itu papa luluh hatinya"

Ray terkejut mendengar penuturan polos ini. Ray yang dalam kekalutan menaruh hormat yang dalam terhadap kekasihnya itu.

Jujur, sejak dulu sampai sekarang, ia masih mencintai perempuan ini. Perempuan keras kepala, rewel dan agak manja.

Ia bakal ngambek berhari-hari jika sehari saja Ray lupa mengirim pesan dan menyapanya dengan kata sayang.

Ray jatuh cinta pada perempuan ini. Pada perempuan yang ia tahu bagaimana akibatnya: Malu atau hilang.

"Senekat itukah kamu sama papamu, sayang? Apakah kau tak takut dikutuk?"

"I'll do everything. Asal kita dua bisa bersama. No matter what the people said, no matter what dad n mom said. Intinya, ini hidupku. Ini cintaku. Let me choose what is the best for my life"

Ray memeluk Putri erat. Pelukan hangat ini, entah kenapa menjadi sebuah kehangatan tersendiri bagi Putri. Ia pangling lantas jatuh pada dada bidang Ray.

Ray mendekapnya erat. Ia mendaratkan ciuman di bibir Putri. Ciuman kesetiaan. Ciuman kasih sayang. Putri pun membalasnya dengan penuh cinta.

Ciuman mereka makin lama makin membara. Keduanya larut dalam desah dan deru nafsu yang sama.

Mereka pada akhirnya rebah. Pada sebuah puncak tertinggi pergumulan itu mereka menyerah.

"Aku berjanji akan mencintaimu, Put. Aku akan membuktikan ke papamu bahwa aku bisa menghidupimu"

"Prove it to Papa. Buktikan bahwa saya tidak salah memilihmu, sayang.

Ray melingkar tanggannya di perut Putri. Mereka masih terbaring sehabis bergulat shawat. Mereka saling mencintai dan karena itu mereka melakukan itu.