3 tahun lalu · 6814 view · 5 menit baca · Saintek agamahomo.jpg
Demonstrasi anti-LGBT [Foto: blogs.spectator.co.uk]

Kasihanilah Para Penolak LGBT!

Tak pernah ada pukulan yang lebih hebat diterima oleh para penolak hak-hak LGBT ketimbang hari-hari ini. Betapa tidak, mereka diserang dari berbagai arah dan penjuru mata angin. Semua kekuatan seolah-olah memojokkan mereka dan mempersalahkan sikap mereka yang memusuhi LGBT.

Seolah tak ada lagi ruang untuk mereka secara bebas mengecam, mencaci-maki, mengutuk, dan menghukum kaum LGBT. Dunia sudah terbolak-balik. Sesuatu yang dulu dikecam beramai-ramai, kini malah didukung dan dibela oleh begitu banyak orang.

Seorang ustad seleb juga terbingung-bingung dan pusing tujuh keliling betapa kampanyenya untuk memboikot sebuah aplikasi komunikasi bukannya didengarkan dan disambut dengan sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami ikuti), tapi malah menjadi bahan ejekan dan cemoohan hampir di seluruh jagat media sosial. Anjuran atau fatwa seorang tokoh agama mestinya didengar dan diikuti, bukan dicemooh dan dijadikan bahan candaan.

Dunia memang sudah terbolak-balik. Homoseksual yang dulu dianggap penyakit dan dianggap sebagai perilaku yang dikutuk Tuhan kini malah disambut sebagai sesuatu yang normal dan alamiah. Para tokoh muncul ke permukaan, membela hak-hak LGBT. Dari Oprah Winfrey hingga presiden Barack Obama, dari Madonna hingga Brad Pitt, semua berada di balik gerakan mendukung kaum LGBT.

Berbagai industri dan perusahaan besar juga turut bersuara lantang mendukung LGBT. Dari Apple, Microsoft, Cisco, Facebook, Google, eBay, Instagram, Line, Nike, Levi Strauss, Starbucks, MasterCard, Citi, AT&T, Johnson & Johnson, Ernst & Young, dan UBS, semuanya bersuara positif dan menegaskan bahwa mereka mendukung undang-undang perkawinan sesama jenis yang dikeluarkan Pengadilan Amerika.

Jadi, bisa dimaklumi kalau ajakan ustad kondang untuk memboikot Line tak digubris dan malah menjadi bahan cemoohan. Bukannya apa, konsekwensi ajakan sang ustad teramat berat dan sulit untuk dilaksanakan. Pasalnya, kalau mau konsisten, bukan cuma Line yang harus diboikot, tapi hampir semua sendi kehidupan kita harus diboikot. 

Dari komputer dan gadget (Apple, Microsoft Cisco), teknologi komunikasi dan internet (Facebook, Google, Instagram), hingga kebutuhan sehari-hari dari soal sepatu, pakaian, makanan, hingga transaksi keuangan, semuanya bersentuhan dengan perusahaan-perusahaan yang mendukung LGBT.

Lain halnya kalau Anda mau menjadi orang yang tak konsisten dan plin-plin dengan omongan sendiri, bisa saja ambil yang disuka dan buang yang tak disuka, tanpa ada standar penilaian yang jelas.

Berubahnya Alat Tukar

Kaum homofobik dan para penolak hak-hak LGBT mungkin bertanya-tanya di dalam hati: mengapa semua ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan dunia berbalik arah dari mencerca menjadi mendukung? Mengapa pelan-pelan tapi pasti orang meninggalkan pandangan agama dalam isu ini? Mengapa kaum LGBT kini memiliki banyak teman dan pendukung? Mengapa kaum agama makin terpojok?

Jawabannya sangatlah panjang. Namun, jika ingin disederhanakan, saya ingin meminjam satu alegori dalam Islam tentang para penghuni goa. Menurut kisah yang sangat populer itu, para penghuni goa tertidur lebih dari 300 tahun, begitu lamanya sehingga ketika mereka terbangun, semuanya sudah berubah.

Mereka berusaha susah-payah memahami keadaan di sekitar mereka. Untuk mengganjal perut yang lapar (akibat tertidur selama tiga abad itu), salah seorang dari mereka pergi ke pasar, mencoba membeli makanan yang bisa dimakan. Tapi, apa yang terjadi? Ternyata mata uang yang dibawa orang itu ditolak, tidak laku. Mata uang yang beredar di pasar sudah berubah.

Orang-orang yang menolak LGBT tak ubahnya para penghuni goa, yang membawa alat-tukar yang tidak lagi laku untuk bertransaksi. Akibat “tidur” terlalu lama, mereka tidak sadar bahwa mata uang yang beredar sudah berubah, bukan lagi mata uang lama yang biasa digunakan dulu.

Alat tukar yang digunakan di dunia modern kita sudah berubah sejak lima abad terakhir. Ketika alat tukar itu mulai diperkenalkan pada awal abad ke-16, terjadi perlawanan sengit yang dilancarkan kaum agamawan, yang merasa tidak nyaman dengan alat tukar baru itu.

Namun, lambat laun, semakin banyak negara di dunia ini yang menggunakan “mata uang" itu. Negara-negara maju bukan hanya menggunakannya sebagai alat tukar, tapi juga sebagai pegangan dan pedoman hidup, menggantikan mata uang lama yang dianggap usang.

Dulu, ketika hampir semua manusia di muka Bumi ini menggunakan alat tukar yang sama, alat tukar yang kuno itu, homoseksual dianggap sebuah penyakit, kutukan, penyimpangan, kelainan mental, dan semua hal yang buruk. Tapi, sejak Sains, alat tukar baru, menyatakan bahwa homoseksual hanyalah salah satu varian saja dari jenis kelamin (atau tepatnya orientasi seks) yang dimiiliki manusia, pandangan orang mulai berubah.

Sejak setengah abad terakhir, manusia berdebat tentang homoseksualitas, apakah perilaku ini merupakan penyakit atau gejala alamiah yang normal. Dan perdebatan ini dimenangkan oleh Sains, yang sejak lima abad terakhir menuntun manusia meninggalkan terowongan gelap. Homoseksualitas bukanlah sebuah penyakit, bukan pula sebuah penyimpangan, tapi ia adalah gejala alamiah yang ada pada beberapa jenis hewan, termasuk manusia.

Perdebatan seputar masalah ini memang masih belum tuntas. Masih ada sebagian orang yang belum teryakinkan dengan temuan Sains dan lebih memilih pandangan-pandangan lama tentang homoseksualitas. Orang-orang ini lebih mengikuti arahan kitab suci ketimbang Sains. 

Perspektif Tentang Manusia

Penolakan perilaku homoseksualitas sebagai sesuatu yang alamiah tidak datang begitu saja. Ia memiliki akar yang dalam, yang jika kita telusuri, terkait dengan pandangan kaum agama tentang eksistensi manusia. Kita tahu semua bahwa agama-agama monoteis memandang manusia begitu unik, mulia, dan memiliki tempat yang khusus di dunia ini.

Keberadaan manusia juga digambarkan lewat kisah penciptaan yang unik. Agama-agama monoteis (Yahudi, Kristen, dan Islam) sepakat bahwa asal-usul manusia adalah Adam yang sekaligus merupakan manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Sebelum Adam, tidak ada manusia.

Manusia ada di dunia ini lewat proses penciptaan oleh Tuhan. Manusia juga dianggap sebagai makhluk yang unik, yang berbeda dari binatang dan tumbuhan. Tidak ada satu pun kisah-kisah kitab suci yang menyatakan bahwa manusia berasal dari binatang atau bagian dari binatang.

Di sinilah pangkal persoalannya. Konflik antara agama dan Sains di dunia modern umumnya berakar pada cara pandang manusia tentang manusia. Pada satu sisi, agama memandang manusia sebagai makhluk yang unik, mulia, dan punya kedudukan khusus di alam semesta. Sementara, pada sisi lain, Sains memandang manusia sebagai organisme insignifikan, yang tak jauh beda dari organisme-organisme lain di jagat raya yang maha luas.

Agama berpijak pada mitos-mitos dan persepsi-persepsi para pendirinya, sementara Sains pada fakta dan bukti-bukti ilmiah. Ketika agama mempersepsikan homoseksualitas sebagai perilaku menyimpang dan “lebih rendah dari binatang,” Sains berusaha membuktikan klaim ini dan datang dengan temuan yang berbeda.

Menurut Sains, manusia tak berbeda dari hewan. Bahkan, lewat teori evolusi, para Saintis menemukan fakta mengejutkan, yang memporak-porandakan mitos-mitos yang dikembangkan agama selama ini, yakni bahwa manusia adalah bagian dari hewan, bahwa manusia adalah hewan.

Sebagai mamalia, struktur biologis manusia tak jauh beda dengan mamalia lain. Apa yang dimiliki oleh hewan-hewan lain, juga dimiliki manusia, termasuk soal perilaku dan orientasi seks. Sains telah membuktikan kekeliruan agama bahwa homoseksualitas adalah penyimpangan yang tak ditemukan pada binatang. Ilmu Biologi modern justru menemukan ada lebih dari 1500 spesies hewan yang berperilaku homoseks.

Agama tidak mungkin bisa menerima temuan itu, karena manusia sejak awal diasumsikan sebagai makhluk yang “completely different.” Manusia diciptakan oleh Allah, bukan hasil evolusi panjang primata menuju homo sapiens. Menerima pandangan bahwa manusia adalah binatang sama saja dengan menghancurkan keyakinan tentang penciptaan.

Singkatnya, ini adalah masalah paradigma, masalah alat tukar. Mereka yang memiliki paradigma abad pertengahan dan menggunakan alat tukar zaman kegelapan, akan menolak homoseksualitas. Sementara mereka yang berpegang pada Sains modern, alat tukar yang berlaku sekarang, menganggap bahwa persoalan ini hanyalah sesuatu yang normal yang harus diterima.

Jadi, marilah kita mengasihani dan berempati kepada para penolak LGBT.