Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral bagi pasangan kekasih, dalam hal ini keduanya telah sama-sama menggikat janji suci. Dimana mereka harus saling menerima, memahami, mengasihi bahkan selalu ada untuk pasangan mereka. Kesetiaan pasangan adalah dambaan bagi semua orang, tapi hal ini berbeda dengan keluarga Een sulasmi, dia adalah seorang janda beranak dua yang ditinggal pergi oleh sang suaminya.

Dalam hidup tentu dia sangat ingin mendapatkan kebahagiaan, tapi baginya semua itu adalah mimpi. Sang suami yang pergi begitu saja telah membuat hidupnya hancur, menjalani profesi sebagai kuli cuci adalah perkerjaanya sehari-hari, yang bahkan gajinya saja tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan bersama anak-anaknya.

Untuk bisa  makan sesuap nasi pun baginya adalah hal yang sangat istimewa. Baginya anak-anaknya adalah hal utama yang harus menjadikanya kuat, bekerja tanpa kenal lelah sudah bu Een jalani sehari-hari semenjak ditinggal sang suami. Tegar adalah anak sulungnya, sejak kecil tegar telah tumbuh menjadi anak yang baik.

Duduk dibangku sekolah dasar tepatnya kelas dua SD, dia harus diterpa adanya ujian dalam hidupnya, seolah dia ikut merasakan apa yang ibunya rasakan. Tegar terlahir dengan keadaan yang dapat dikatakan sempurna, tapi hal ini berbeda dengan Rara, dia adalah anak bungsu dari Bu Een, sejak lahir Rara telah memiliki adanya kelainan yang menyebabkan diri tidak seperti teman-temannya yang lain.

Bisa melihat kedua anaknya untuk makan saja bu Een sudah  sangat bahagia. Melihat kondisi Rara yang kadang menangis akibat rasa sakit yang di deritanya, membuat bu Een tidak tega untuk meninggalkan Rara sendiri untuk ditinggal kerja. Dengan sangat terpaksa akhirnya bu Een pun harus membawa Rara  bekerja.

Pada suatu kejadian bu Een sempat saja akan diberhentikan kerja oleh sang majikan, akibat kelalaiannya. Sebab ketika si bungsu menangis bu Een pun harus memijat badan Rara yang sakit akibat kelainan tersebut, sampai halnya bu Een lupa untuk mencabut kabel listrik, sehingga setlika pun masih menyala. Margareta adalah nama dari pemilik dari tempat kerja bu Een.


Margaret: “ Een ini kenapa baju bisa bolong seperti ini.”?

Een          : “ Maafkan saya bu, tadi saya harus memijat Rara dulu, karena kakinya sakit.”

Margaret: “ Kamu itu niat kerja ndak sih, kalau niat jam kerja harus kerja.”

                 : “ Besok kalau ada kejadian seperti ini lagi, maafkan saya kalau saya memberhentikanmu.”

Dalam hal ini bu Een hanya dapat pasrah dan diam, karena baginya pekerjaan itu sangatlah penting. Sebab dengan adanya pekerjaan itu bu Een dapat memberika sesuap nasi untuk kedua anaknya. Dimana titik terberat yang dirasakan bu Een adalah ketika dia harus melihat kedua anaknya menangis kelaparan. Memulung adalah pekerjaan sampingan bu Een, baginya hasil pulungan tersebut dapat ia jual untuk dijadikan tambahan uang kebutuhan.

Melihat atap rumah yang bocor, menjadikan bu Een ingin merenovasi rumah tersebut, tapi lagi-lagi uang tersebut harus habis untuk pengobatan Rara. Hidup didalam rumah yang setiap hujan kebocoran membuat hidup bu Een serasa lebih sakit, dia harus membanting tulang seorang diri hanya untuk kedua anaknya. Untuk memakan sesuap nasi saja beliau harus bekerja keras, baginya Tegar dan Rara adalah kekuatan yang dimana lelah itu akan hilang ketika melihat  senyumnya.

Semangat dan tekad bu Een untuk terus bertahan adalah hal yang sangat luar biasa. Pernah pada suatu titik dimana bu Een merasa bahwa hidup ini memang tidak adil, ditinggal sang suami dan harus merawat kedua anak mereka. Tetapi hal ini pula yang telah menyadarkan bu Een untuk mensyukuri hidupnya walau serba kekurangan.

Baginya hidup ini adalah sebuah tantangan dan misteri dimana tantangan itu adalah siapa yang kuat dia yang menang. Pada suatu ketika disaat perekonomian bu Een benar-benar tidak ada, bu Een harus memakan adanya sampah makanan bekas dari sebuah restoran untuk dia makan sebagai pengisi tenaganya untuk bekerja.

Dia tidak mau  membeli makan untuk dirinya sendiri, karena bu Een takut jika uang hasil memulungnya dia belikan makanan, dia takut kalau anak-anaknya tidak bias makan makanan yang enak. Karena uangnya telah dia pakai untuk membeli makan sebagai pengisi tenaganya. Saat bu Een memulung ia harus menitipkan Tegar dan Rara kerumah tentangganya, karena tidak mugkin jika kedua anaknya harus ikut memulung.

Botol demi botol selalu bu Een ambil, berjalan kaki puluhan kilometer sudah hal biasa baginya dan terkadang langkah itu harus berhenti karena asam urat yang dideritanya kambuh, rasa sakit yang begitu luar biasa selalu ia tahan agar ia bisa mendapatkan lebih dari hasil memulung tersebut dan segera menjualnya ke tukang lapak.

Setelah mendapatkan uang tersebut, bu Een berhenti di sebuah warung makan untuk membelikan makan kedua anaknya, dan sesampainya di kampung halamannya, bu Een segera menjemput kedua anaknya untuk diajak pulang dan sesampainya di rumah bu Een pun menyuapi kedua anaknya. Betapa besar pengorbanan dan perjuangan bu Een demi kedua anaknya.