8 bulan lalu · 185 view · 4 menit baca · Agama 60268_71582.jpg
Pixabay.com

Kasih dalam Kemanusiaan

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu : KasihilahSesamamu Manusia Seperti Dirimu Sendiri -- Galatia 5 : 14 

Seperti kutipan firman pembuka di atas yang sekaligus menjadi keyakinan iman saya, ihwal inilah yang mesti melandasi panggilan kemanusiaan dari tiap individu. Mengapa? Sebab, dengan firman itulah manusia merefleksikan hakikatnya sebagai manusia. 

Namun, tulisan ini tidak hendak mengajak untuk mengikuti keyakinan penulis. Yang ingin disasar dalam tulisan ini adalah ketika orang bersimpati dan berempati pada musibah dan kemalangan seseorang bergeraklah ia senantiasa atas dasar kasih. Saling mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri. 

Untuk contoh personal ini Bunda Teresa adalah teladan yang sungguh hadir tanpa pandang soal suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ia bergerak atas nama kasih. Perwujudan ajaran kasih dalam kehidupan nyata untuk menolong orang yang tidak berdaya, kaum papa, orang miskin, dan kaum terpinggirkan lainnya. 

Di Indonesia, suri teladan demikian itu terejawantahkan dengan paripurna melalui sosok Y.B. Mangunwijaya yang akrab disapa Romo Mangun. Sosiolog Arief Budiman dalam kumpulan tulisan Dialog: Kritik dan Identitas Agama Seri Dian I Tahun IInterfidei pada halaman 185(1993) menuturkan cerita ihwal Romo Mangun yang membuat program irigasi di Bantul, Yogyakarta. Kemudian sebuah majalah Islam menuliskan bahwa Romo melakukan kristenisasi. Arief bertanya langsung kepada Romo Mangun apakah pengarang Burung-Burung Manyar itu telah mengkristenisasi warga Bantul, dengan tegas dan pasti Romo menjawab tidak. 

Arief kembalimempertanyakan lantas apa fungsi romo dan apa pula keuntungan bagi gereja kalau tidak mengkristenkan warga setempat? Romo Mangun mengungkapkan bahwa pertanyaan Arief itu sudah kuno. Konsili Vatikan menyebutkan ada banyak jalan menuju surga, bukan hanya dari Katolik atau Kristen. Menurut Romo, jika dia berhasil membuat orang itu menjadi baik, maka dia berhasil menjadi pastur yang baik.      

Berkait dengan hal ini, Akademisi dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang menekuni masalah filsafat dan humaniora, ST Sunardi, masih dalam kumpulan buku yang sama menuliskan ihwal kemanusiaan yang dikeluarkan dari deklarasi World Conference of Religions for Peace yang diadakan di Jepang pada 1970. Bunyinya : Kami melihat bahwa kami mempunyai kesamaan dalam : keyakinan akan kesatuan yang mendasar sebagai keluarga bangsa manusia, akan persamaan dan martabat semua manusia (Halaman 93). 

Dari sisi gramatika, Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan daring menampung tiga pengertian ihwal kemanusiaan. Ketiga definisi yakni sebagai sifat-sifat manusia; secara manusia atau sebagai manusia; sifat yang melandasi hubungan antarmanusia. Menurut hemat penulis, pengertian terakhir inilah yang paling mendekati sisi kemanusiaan sebagaimana yang dikenal selama ini. 

Di sisi lain, manusia secara alamiah dibedakan dalam dua hal yakni makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu manusia itu memiliki keinginan, perasaan, dan lain sebagainya yang berbeda dengan manusia lainnya. Sedangkan manusia sebagai makhluk sosial berarti manusia itu tidak bisa hidup tanpa orang lain. 

Ditinjau dari sisi kemanusiaan, maka manusia sebagai makhluk sosiallah yang mesti dikedepankan. Dengan demikian, untuk membahas masalah kemanusiaan, sisi individu manusia harus dikesampingkan. Ingatlah hakikatnya yang saling membutuhkan dengan manusia lainnya.   

Tentu kita mengetahui dan menyadari bersama bahwa keyakinan iman masing-masing orang berbeda satu sama lain. Bangsa Indonesia mengakui ada enam agama resmi yang dianut di negeri ini. Agama Islam, KristenProtestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Keenam agama iniberbeda-beda dalam menyampaikan ajarannya tapi tetap satu untuksaling mengasihi sesama manusia. 

Tidak ada satu agama  pun yang mengajarkan untuk tidak mengasihi sesama manusia. Semua agama mengajarkan untuk saling menyayangi. Bahkan, diantara agama Samawi ada persinggungan soal manusia. Ya, jika umat kristiani menganut ajaran mengasihi sesama manusia, maka saudara muslim meneladani ajaran Nabi Muhammad yang dalam terjemahan bebas diartikan dengan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. 

Dengan demikian, semestinya tidak ada lagi pertikaian antaragama. Orang-orang menjadi fanatik buta dengan keyakinannya. Semua adalah saudara, tepatnya saudara dalam kemanusiaan! 


Sastra 

Membahas ihwal kemanusiaan ini dalam dunia sastra terlintas sosok sastrawan yangmengusung nilai-nilai kemanusiaan yang kuat dalam karya-karyanya:Pramoedya Ananta Toer. Ada sejumlah kutipan berharga ihwal manusiadari sastrawan yang pernah menjadi kandidat peraih nobel sastraberkali-kali itu.   

Yang paling saya sukai dari sejumlah kutipan berharga tentang menusia itu terdapat pada anak rohani (buku) Bumi Manusia. Begini kutipannya:"Cerita, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarkan yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa, atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.” 


Dari kutipan di atas terungkap bahwa kisah atau cerita tentang kehidupan manusia itu selalu menarik. Namun, sang manusia itu pula yang teramat susah untuk dipahami. Dalam artian, membahas dan membincangkan kompleksitas masalah manusia itu tidak akan pernah tuntas hingga ke akar-akarnya. 

Ada satu lagi kutipan favorit lainnya masih dari buku Bumi Manusia. Demikian kutipannya : "Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.” Pramoedya memang pengarang yang malang melintang dalam menulis kemanusiaan, baik tataran idealita maupun realita, jika boleh meminjam istilah Bung Hatta. 

Lain Pram, lain pula Rusdi Mathari. Jurnalis senior yang akrab disapa Cak Rusdi itu mengungkapkan masalah manusia itu hanya sekepalan tangan sebagaimana tertuang dalam bukunya yang berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya. Seperti ini kutipannya: 

Masalah dan persoalan manusia pada hakikatnya sama: hanya sekepalan tangan. Persis seperti garam yang tadi kamu genggam. Hidup bisa menjadi asin(berat) atau menyegarkan (ringan) tergantung manusia dalam menempatkan hatinya. Menjadi hanya sebatas air di gelas atau seluas air di telaga.” 

Belakangan ini kemanusiaan kita kembali terguncang dengan apa yang telah terjadi diDonggala, Palu, dan sekitarnya. Gempa bumi dan tsunami beriringan meluluhlantakkan Palu dan sekitarnya. Padahal, sebelumnya negeri ini belum lagi move on dari musibah di Lombok. 

Di media sosial ramai-ramai orang bersimpati dan berempati pada musibah di Donggala. Ada yang membikin tanda pagar (tagar)#prayforpalu dan lain sebagainya, juga ada yang langsung menggalang dukungan untuk bersolidaritas kepada saudara setanah air. Semua berdoa sembari membantu dengan sebaik-baiknya. Ternyata kemanusiaan jua yang bisa mempersatukan bangsa yang sempat terbelah akibat masing-masing kubu calon presiden yang kian gaduh. Maka, kita perlu menempatkan kemanusiaan yang sudah baik ini dengan adil dan beradab. 

Wandi Barboy, Jurnalis Lampung Post



   

Artikel Terkait