8 bulan lalu · 559 view · 4 menit baca · Gaya Hidup 64035_98305.jpg
designby.vitaelenology.net

Karyaku Kandas di Bungkus Gorengan

I have always imagined that paradise will be a kind of library. ~Jorge Luis Borges~

Jujur, banyak orang—terutama para penggemar dunia membaca—yang mengamini ungkapan Borges tersebut. Betapa akan indahnya suatu surga impian, bila ia, salah satunya, berwujud seperti perpustakaan yang penuh dengan rahasia-rahasia dan pusparagam imajinasi yang dikodifikasi atau dibukukan.

Dunia buku atau ruang penuh bacaan yang memiliki desain nyaman, bahkan tidak perlu untuk menunggu sampai ke surga sekalipun, akan tercapai sejauh manusia mampu menghargai dunia literasi. Dunia baca dan keilmuan.

Namun, bagaimanakah wajah sesungguhnya penghargaan masyarakat atas dunia literasi belakangan ini, utamanya di Indonesia? Tidak perlu tentang “minat baca” dulu, minimal apakah sikap perseorangan bangsa ini masih menaruh rasa hormat terhadap suatu karya—khususnya buku dan tulisan apa pun?

Beberapa masyarakat masih menghargainya, sedang yang sisanya, dan ini yang lebih banyak, memilih tidak mengindahkannya sama sekali—untuk tidak menyebutnya “mencampakkannya”.

Alih-alih merawatnya atau umpamanya membikin suatu kolase dan kliping karya-karya tulis, kebanyakan masyarakat kita lebih nyaman menjadikannya bungkus gorengan. Di sekitar kampus, saya menemukan banyak makalah yang dijadikan sebagai bungkus gorengan dan kacang rebus.

Tidak hanya itu, ada sebagian pihak yang bahkan termasuk ke dalam struktural civitas akademika fakultas yang dengan sengaja mengoper kiloan kertas dari makalah atau skripsi untuk dijual kepada para pedagang yang membutuhkan.

Maka oleh fakta tersebut, hati saya sedikit was-was dan merasa agak kecewa ketika menemukan beberapa makalah dari jurusan yang sama, telah berakhir sebagai bungkus gorengan. Jika kebetulan saya menyetel lagu Ebiet G. Ade yang berjudul Cintaku Kandas di Rerumputan, akan saya ganti liriknya menjadi: Karyaku kandas di bungkus gorengan!

Terutama, yang memiriskan kami, tidak jarang bungkus tersebut ada yang bertuliskan ayat-ayat Alquran dan aneka ragam keilmuan lain mulai dari soal UN hingga cerpen-puisi yang dimuat koran-koran. Meskipun secara pribadi, saya sama sekali tidak tersinggung dan kalap, karena kitab suci yang sesungguhnya itu bukanlah huruf-huruf belaka.

Namun daripada itu, bagi kebanyakan mahasiswa—dan penulis—hal tersebut seakan menekankan fakta sosial bahwa seistimewa apa pun makalahmu, skripsimu, karyamu, toh, kelak hanya akan menjadi bungkus gorengan. Persoalan inilah yang menggemboskan semangat berkarya dalam sanubari para mahasiswa dan penulis, walau tidak semuanya.

Mengolah sesuatu untuk jadi bermanfaat itu memang baik. Sama sekali tidak berdosa, kalau dalam keyakinan saya. Meski demikian, apabila menengok ke perkataan Pramoedya Ananta Toer, bahwa “setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian,” betapa nelangsa para penulis yang sudah dengan sungguh-sungguh mencurahkan fokus pikirannya untuk membuat tulisan.

Hingga kemirisan lainnya yang terkandung dalam ungkapan Pram satu ini agaknya juga baru menemukan contoh aslinya, “Aku kita, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan.”

Tapi tenang saja. Semua pernyataan tersebut, toh, tidak akan berefek pada mereka yang bermental tangguh dan hanya betah akan ketidakberesan. Kita juga tidak perlu berusaha untuk menumbuhkan kemajuan dalam dunia literasi dan minat baca masyarakat Indonesia. Wong sejak 2016 silam, kita sudah menggaet juara ke-2 dalam urusan minat baca.

Iya, kita juara II, Bung! Dari bawah tapi.

Berdasarkan studi “Most Littered Nation In The World” yang diselenggarakan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, seperti yang juga dilansir Kompas, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara. Hebat kan?

Sekali lagi, mohon rileks saja. Saya bertanya kepada Anda, apakah selama hidup, Anda pernah disurvey soal minat baca oleh lembaga tertentu? Saya 20 tahun lebih belum pernah satu kali pun. Jadi tenang saja, mungkin penghitungan mereka hanya dari random-sample yang kebetulan tidak suka baca. Atau malah sekadar dari penjualan buku.

Padahal, jika hanya dari penjualan buku, masih banyak sekali teman saya yang tidak pernah beli buku lantaran tidak mencukupi budget-nya namun ia gemar membaca dari meminjam buku teman atau perpustakaan. Ini memang hanya asumsi spekulatif pribadi, tapi bagaimana jika benar? Ya, tidak bagaimana-bagaimana juga.

Namun pada intinya, soal karya saya—dan barangkali juga sebagian dari Anda—yang berakhir jadi bungkus gorengan ini, sungguh tidak akan masuk ke dalam permasalahan nasional. Bahkan mustahil sekali. Tapi, bukankah kita sama-sama percaya kepada pepatah nothing is impossible? Berarti segalanya itu masih mungkin, dong? Iya, boleh jadi. Jika segalanya mungkin, maka itu berarti “kemustahilan” pun akan termasuk pula ke dalamnya.

Mari kita tidak perlu heran. Sambil, mulai dari sekarang, melatih diri untuk setabah mungkin jika kenyataannya kita akan menemukan karya kita kandas menjadi bungkus gorengan. Apalagi saat itu, yang membelikan gorengan untuk kita adalah sang mantan.

Ah, lengkap sudah. Komplit. Namun tidak usah Anda mendemo siapa pun setelahnya. Cukup legakan hati, dan merenungi ucapan Seno Gumira Ajidarma yang berbunyi,

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. -Seno Gumira Ajidarma- [Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara]

Barangkali yang dimaksud oleh Bung Seno pada kata “ditimbang-timbang” itu adalah dikilokan, untuk kemudian dikemas jadi bungkus gorengan. Ah, tidak mungkin. Ya, mungkin saja. Tapi yang lebih penting, kalau Anda sempat, coba dengarkan lagu Ebiet G. Ade tadi, lantas ubahlah liriknya saat mendendangkannya, Karyaku Kandas di Bungkus Gorengan.

Alangkah asyiknya hidup sebagai manusia Indonesia ini, ya. Ada saja bahan untuk dijadikan obrolan, obralan, tulisan hingga candaan dan bungkus gorengan. Betapa ruginya orang yang pindah KTP ke negeri lain nun jauh di sana.