Mahasiswa
1 bulan lalu · 71 view · 4 menit baca · Hiburan 94971_46245.jpg

Karya yang Mengandung Nilai Magis

Telah sampai lagi pada gerbang fajar. Sendiri, sesekali menatap kosong setiap yang berwujud di depan mata. Meresapi setiap tarikan nafas, menikmati proses berpikir yang memang pada waktu-waktu tertentu, itu menjadi candu. Rangkaian kisah dalam buku bertajuk Pacar Seorang Seniman karya W.S. Rendra hampir lagi selesai kubaca.

Dari kejauhan, suara azan masjid terdengar ragu-ragu. Akan tetapi, pantang rasanya tidur tanpa menyelesaikan sebuah karya yang sangat memukau ini. 

W.S. Rendra adalah seorang penyair besar, aktor panggung, dan rupa-rupanya juga seorang cerpenis andal. Karya-karyanya yang memukau menjadikan ia layak diperhitungkan dalam sejarah kesastrawanan.

Lagi pula, kantukku ini juga rasa-rasanya belum terlalu kuat menghadirkan kata istirahat. Entahlah, mungkin saja ini efek kafein dalam segelas kopi yang kuseruput sedikit demi sedikit dari beberapa jam yang lalu, sembari menikmati aromanya. Atau mungkin aku sedang dalam peralihan menjadi Nocturnal. Aku sendiri pun juga bingung, tapi bodo amat.

Pada sebuah kisah, dalam buku ini menjadikan aku sedikit merenung, atau lebih tepatnya ‘berkontemplasi’. Pasalnya, kisah tersebut hampir mirip dengan sepenggal kisah masa laluku yang kelam. Namun, masa lalu tetaplah masa lalu, mustahil jika terulang kembali sama persis pada masanya.

Kumpulan cerpen dalam buku Pacar Seorang Seniman dengan sejujur-jujurnya aku katakan sangat ‘menghipnotis’ para pembacanya. Menggunakan gaya bahasa yang penuh gairah, sedikit ‘erotis’, dan juga sarat akan makna. Namun, bagi seorang amatiran seperti saya, tetap mudah memahami gaya bahasa yang digunakan. Hal ini berkat kelihaian Rendra dalam menyajikan kata-kata.


Si Burung Merak. Ya, begitulah julukan beliau. Dalam karya-karyanya yang masyhur, begitu kuat menggambarkan suatu realitas. Tentang tragedi-tragedi penindasan, ketimpangan, dan kemapanan yang melahirkan amoral begitu mudah kita temui dalam karyanya.

Walaupun beliau telah tiada walakin karyanya seperti memiliki ‘Roh’ yang abadi melintasi generasi ke generasi. Zaman telah berganti, namun karya beliau tetap layak dijadikan sebagai referensi dalam dunia sastra.

Kisah cinta yang begitu menghanyutkan lagi menggairakan dalam beberapa cerpen yang disajikan di dalamnya, apalagi bagi pembaca berusia remaja. Kisah tentang pertemanan serta hubungan kekeluargaan sungguh sangat dekat dengan keseharian kita.

“Orang-orang Peronda” adalah salah satu cerpen dalam kumpulan karyanya. Pernah dimuat dalam ‘Majalah KISAH’ tahun 1955. Alur cerita ini menggambarkan tentang hubungan yang sangat erat antartokoh di dalamnya. Hubungan sosial yang masih bersifat ‘mekanik’ di mana antara individu yang satu dengan yang lainnya dapat dengan mudah saling berinteraksi tanpa kepentingan profesi.

Tokoh utama dalam kisah tersebut adalah seorang remaja, yang menceritakan hubungan antar warga desa di dalamnya. Pos ronda sebagai objek utama tempat berkumpulnnya orang tua, dan remaja-remaja desa untuk bersenda gurau, bertukar pikiran serta menjaga keamanan dan ketertiban dalam kampung tersebut di malam hari.   

Kisah yang sederhana namun penuh makna tersebut sudah jarang kita temui di masyarakat perkotaan, apalagi di daerah ibu kota. Jenis solidaritas masyarakat dalam kisah “Orang-orang Peronda” sudah mulai tergeser oleh modernisasi menuju solidaritas masyarakat yang bersifat organik.

Dalam kisah lain berjudul “Pertemuan dengan Roh Halus,” mengisahkan bagaimana seorang pria bernama Hasan yang ditinggal mati oleh kekasihnya yang bernama Endang. Konflik dalam cerita tersebut dimulai ketika seorang wanita mendaki sebuah gunung batu yang bernama Gunung Gandul, kemudian gadis tersebut menjadi kalap, hilang kendali seperti sakit jiwa.

Gadis tersebut dikabarkan telah dirasuki oleh arwah Endang, kekasih Hasan yang dulunya meninggal di Gunung Gandul. Setelah kerasukan arwah Endang dan hilang kendali, Gadis yang bernama Fatimah kemudian lari memasuki gua kecil, dan tak mau keluar dari situ.


Berbagai cara telah ditempuh oleh keluarga Fatimah. Namun, hasilnya nihil. Hingga akhirnya orang tua Fatimah dan beberapa orang lainnya mengunjungi Hasan untuk meminta pertolongan.

Awalnya Hasan merasa bingung. Hingga akhirnya ia sanggupi akan datang ke gua tersebut, dan berbuat sesuatu. Akhir kisah, setelah negosiasi panjang antara Hasan dan roh Endang melalui tubuh Fatimah, alhasil Hasan berhasil mengeluarkan roh Endang dalam tubuh Fatimah.

Pada akhir kisah tersebut, Hasan juga berikrar tidak akan menikah lagi, sebab cintanya kepada Endang begitu dalam, dan sangat kuat mengakar di hati dan pikirannya. Sebuah kisah yang terdengar sangat memilukan, namun sarat akan makna.

Begitu pun dengan kisah-kisah yang lain. Nilai-nilai kekeluargaan, pertemanan, dan kisah percintaan terasa begitu nyata dalam keseharian kita.

Ya, begitulah W.S. Rendra, seorang penyair besar, aktor panggung, dan cerpenis andal. Dalam setiap karyanya, para pembaca akan merasakan magis dalam setiap baris maupun bait-baitnya.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WITA. Satu jam lagi akan ada perkuliahan di kampusku. Sebagai mahasiswa pencinta sastra, aku benar-benar merasa bergairah dan penuh semangat untuk kuliah sehabis membaca kumpulan cerpen karya W.S. Rendra tersebut.

Berangkat kuliah tanpa tidur tidak menjadi masalah, bahkan sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Tidak mandi juga bukan masalah.


Entah karena efek daya magis dalam karya ‘Si Burung Merak’ tersebut, atau benar-benar aku sudah dalam masa peralihan menjadi Nocturnal. Aku sendiri pun juga tak tahu. Yang pastinya, semua orang di sekitarku bersepakat bahwa begadang adalah kebiasaan buruk.

Semoga kebiasaan buruk ini tidak berlaku bagi kalian, para mahasiswa baik-baik.

Artikel Terkait