2 tahun lalu · 146 view · 6 min baca · Cerpen caspar_david_friedrich_-_zwei_manner_in_betrachtung_des_mondes_metropolitan_museum_of_art.jpg
“Dengan mengajakmu menuju duniaku; dunia yang kamu buat."

Karya Terakhir Seorang Penulis

            Pukul sebelas malam. Sang penulis masih menggerakkan tangan kanannya yang ringkih, menuliskan kata demi kata, membuat pensil kayu yang ada di tangannya itu menari dengan gemulai diatas kertas putih. Di samping kirinya adalah setumpuk kertas putih yang sudah berisi kata dan kalimat yang membentuk sebuah kisah yang belum selesai. Hanya sang penulislah yang tahu kapan tumpukan itu akhirnya berisi sebuah kisah yang lengkap.

            Tujuh halaman lagi. Ia merencanakan kisahnya agar selesai tepat pada pukul dua belas malam. Mengingat bahwa sebentar lagi kisahnya akan selesai, ia semakin bersemangat menggerakkan tangan kanannya itu. Bunyi gesekan antara mata pensil dan kertas putih semakin jelas terdengar, saling sahut menyahut bersama dengan bunyi gerakan jarum jam. Seakan bersama ingin menemani sang penulis, mereka terus berkumandang, membuatnya benar-benar bahagia dengan karyanya yang akan selesai tak lama lagi.

            Ini adalah karyanya yang terakhir setelah ia menghasilkan tujuh ratus tujuh puluh enam prosa. Sebuah kisah tentang seorang lelaki yang hanya berada dalam ruangannya, namun memiliki sebuah jendela yang membuatnya mampu melihat ke seluruh penjuru dunia. Tidak seperti karya lainnya yang ia tulis dengan menggunakan mesin ketiknya yang berada agak jauh ke kiri dari dirinya, karya terakhirnya ini ia tulis dengan pensil, sehari satu halaman. Alasannya sederhana, ia merasa karya terakhirnya ini adalah karyanya yang teragung dan paling bermakna, maka itu haruslah ia tulis dengan lebih bekerja keras.

            Ditambah lagi, ia dulunya mulai menulis hanya dengan menulis-nulis puisi di sebuah buku catatan kecilnya ketika ia masih belia. Buku catatan kecil yang berisi coretan-coretan dan kata-kata kecilnya itu masih ia simpan di sebuah tempat yang memiliki sebuah kenangan indah baginya, dan tidak jarang ia mendatangi tempat itu hanya sekadar untuk membuka kembali kenangan-kenangannya yang terukir dalam kata-kata dalam buku catatannya. Atas alasan itu jugalah mengapa ia menulis karya terakhirnya itu dengan pensil. Ia mulai dengan goresan pensil, dan akan ia akhiri pula dengan goresan pensil.

            Beberapa lama ia menggerakkan tangannya untuk menuliskan lanjutan kisahnya. Sesekali terlihat raut bahagia di wajahnya, lalu terlihat pula raut kesedihan, lalu terlihat pula raut kesepian. Seolah-olah, hatinya sudah menyatu dengan tarian pensilnya. Namun setelah beberapa saat, raut itu berubah menjadi raut kebingungan. Beberapa kali ia menulis sebuah kalimat, menyusunnya menjadi paragraf, lalu terdiam. Setelah terdiam beberapa saat, ia menggeleng dan menghapus paragraf yang sudah ia buat. Berulang kali ia lakukan itu, hingga akhirnya ia bersandar di kursinya dan menatap karyanya itu dengan pandangan hampa dan bingung.

            Tokoh dalam karyanya itu hanya satu. Pada hakikatnya, tidak banyak yang bisa dilakukan seorang penulis dalam menulis novel jika tokohnya hanya satu, namun itulah yang menjadi tantangan sendiri baginya. Dalam sejarah sastra di negeri tempat ia tinggal, belum  pernah ia dengar sebuah novel yang tokohnya hanya seorang. Karya terakhirnya ini ingin ia jadikan sebuah catatan sejarah; novel panjang pertama yang memiliki hanya satu tokoh. Namun nampaknya, itu memang bukan hal yang mudah. Sudah bisa ia buat pengenalan dan konflik utamanya, namun ia tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya.

            Maka dalam kebingungannya, sang penulis tertidur.

            “Hei, bangun, bangun!”

            Sang penulis terbangun dari tidurnya. Sesekali ia mengerjap, dan menengok-nengok ke sekitarnya dengan pandangan yang masih kabur. Masih dalam keadaan setengah tidur, ia mengambil pensilnya dan mulai menulis. Masih terhuyung gerakan tangannya, memandang ia adalah seorang penulis uzur yang sudah tidak bisa lagi terbangun secara kaget dan langsung berkegiatan. Namun dalam otaknya kini hanya ada bagaimana ia bisa menyelesaikan karya terakhirnya. Maka ia pun mulai menulis. Namun betapa kaget dirinya ketika mendapati bahwa semua tulisannya menghilang. Goresan-goresan pensil yang sudah bersemayam di ratusan kertas putih sudah tidak ada lagi.

            “Hei, arah sini. Di kananmu.”

            Sang penulis lalu melihat ke kanan, betapa ia kaget ketika melihat seorang lelaki berdiri di depannya. Lelaki itu masih muda, mungkin sekitar 30 tahun, namun memiliki tatapan yang begitu dalam seperti seseorang yang usianya sudah sangat lanjut dan banyak pengalamannya. Sang penulis lalu memehartikan lelaki itu dengan seksama. Setelah beberapa lama ia pandang, kagetnya berubah menjadi sebuah rasa bingung; lelaki yang tiba-tiba berdiri di kanannya itu rasanya begitu ia kenal.

            “Siapa… kamu? Pernahkah kita bertemu?” tanyanya.

            “Aku adalah tokoh dari karyamu itu,” jawab si lelaki.

            “Hah…? A-apa? Aku… tidak mengerti…”

            “Kamu bingung untuk menyelesaikan karyamu itu, bukan? Maka disinilah aku, tokoh dari karyamu, perwujudan dari setiap kata dan kalimat yang kamu tulis di karya terakhirmu.”

            Sang penulis menganga. Sesekali ia mencoba mencubit tangannya. Tidak sakit.

            “Apakah aku sedang bermimpi?” tanyanya kepada lelaki itu.

            “Mungkin. Tapi bagi orang-orang sepertimu, hal-hal seperti mimpi, imajinasi, dan kenyataan tidak begitu jauh berbeda kan?” balasnya.

            “Ya… ya… kamu benar di bagian itu. Bahkan bagiku, kenyataan yang sedang kujalankan ini tidak jauh berbeda dengan kisah-kisah yang kubuat, membuatku berpikir; apakah aku adalah seorang manusia, atau hanya seorang tokoh cerita?”

            “Maka itulah, tidak ada yang bisa membantumu menyelesaikan karya terakhirmu ini kecuali aku; tokoh yang kamu buat dengan tanganmu sendiri.”

            “Namun, bagaimana kamu bisa membantuku?”

            “Dengan mengajakmu menuju duniaku; dunia yang kamu buat. Disana, kita akan melihat dunia lewat jendelaku. Begitulah akhir dari ceritamu itu; si lelaki yang hanya berdua di jendelanya akhirnya mengetahui bahwa tidak ada teman yang lebih sejati melainkan penciptanya. Bukankah itu akhir yang bagus?”

            Sang penulis terdiam. Apa yang dikatakan tokoh ceritanya itu memang benar. Dengan mempertemukan si tokoh cerita dengan pembuatnya, maka ia akan berada pada dua keadaan sekaligus; ia sendirian dan tidak sendirian dalam waktu yang bersamaan. Namun itu cukup baik. Ada perkembangan dalam dinamika si tokoh cerita, yaitu beranjak dari seorang lelaki yang kesepian lantaran hanya bertemankan sebuah jendela menjadi seseorang yang sendirian. Pada hakikatnya, kesepian dan sendirian memang jauh berbeda.

            Namun jika dipikir kembali, apakah tokoh yang ia ciptakan itu memang benar-benar kesepian pada awalnya? Selama ini ia memiliki sebuah jendela yang mampu membuatnya melihat dunia bahkan di sudut yang paling terpencil. Hanya dengan duduk disamping jendelanya, ia sudah mengetahui banyak hal dan menemui berbagai penemuan baru. Apa yang awalnya disembunyikan oleh Sang Pencipta, kini sudah ia kuak. Pada dasarnya, dalam segi ilmu, dia sudah menjadi yang paling kuat. Dengan segala ilmu dan kemampuannya untuk melihat itu, apakah ia masih merasakan kesepian? Jika tidak, bukankah menambahkan sang pencipta tokoh akan sia-sia rasanya? Untuk apa mendampingi seseorang yang sudah mengetahui segalanya?

            “Ya, begitulah. Membosankan ketika kamu tahu banyak hal dan mampu menonton dunia seperti sebuah acara di televisi, tapi kamu melihatnya sendirian. Pernahkah kamu menonton televisi di sebuah sofa lebar sendirian?” tanya sang tokoh ketika sang penulis mengutarakan pemikirannya.

            “Selalu,” jawab sang penulis.

            “Bagaimana rasanya?”

            “Membosankan.”

            “Nah itulah yang kurasa. Aku mengetahui segala apa yang ada di dunia ini dengan jendela itu, tapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kepadanya. Aku tidak tahu kepada siapa aku bisa menceritakan hal-hal yang kutemukan. Pada hakikatnya, semakin banyak seseorang mengetahui, semakin kuat keinginannya untuk mengadukan atau menceritakan penemuannya kepada seseorang yang lain.”

            Sang penulis terdiam kembali. Benarkah akan begitu akhir dari karya terakhirnya ini? Pada akhirnya, karya terakhirnya benar-benar memerlukan dirinya secara utuh untuk berakhir. Ia, sang pengarang kisah, harus menyerahkan jiwa dan raganya untuk mengakhiri kisahnya sendiri. Pada akhirnya, sebuah cerita tidak bisa diakhiri hanya dengan satu tokoh; sebuah kesepian mutlak.

            Namun jika ia pikirkan kembali, bukankah peran itu membanggakan? Ia sebagai sang pengarang kisah akan menyatu dengan karyanya. Di akhir karyanya, akan terbentuk satu persatuan yang begitu indah; pertemuan antara sang tokoh dengan penciptanya. Karya yang bersatu dengan pembuatnya.

            Maka tanpa ada basa-basi lagi, sang penulis meraih tangan tokoh karyanya, meminta agar ia dibawa ke dalam alam karya terakhirnya.

Artikel Terkait