Siapa yang tak mengenal kitab “Ihya Ulumuddin” karya Imam Ghazali? Namanya saja sudah tidak asing di telinga umat Islam pada umumnya, khususnya di kalangan para santri.

Ulama yang mendapat gelar “Sang Hujjatul Islam” ini memiliki pribadi yang menonjol dan disebut-sebut sebagai mujaddid (pembaru agama). Beliau telah berhasil menciptakan karya menumental mahadahsyat. Kitab beliau yang satu ini merupakan khazanah tasawuf-fikih yang menjadi rujukan oleh umat Islam seluruh dunia, lebih-lebih di kalangan pesantren.

“Hampir saja posisi Ihya menandingi Alquran” (maksudnya, karena saking banyaknya umat Islam yang membacanya), sanjungan tersebut disampaikan oleh tokoh karismatik Imam An-Nawawi yang masyhur dengan julukan “Shohibul Majmu”. Tidak hanya sampai di situ, Sayyid Bakri dalam kitab Kifayatul Atqiya’ Wa Minhajul Asfiya berkomentar:

“Tetaplah kalian melazimkan kitab Ihya Ulumuddin, karena itu tempat pandangan Allah dan keridaan-nya. Maka barangsiapa yang menyukainya dan menelaahnya serta mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, maka sungguh ia berhak mendapat kecintaan Allah dan kecintaan Rasul-Nya, malaikat, para nabi, para wali, dan berarti ia telah menjadikan antara syariat, tarekat dan hakikat di dunia dan akhirat, jadilah ia orang alim baik di alam mulk dan malaikat.”

Dan masih banyak lagi pujian yang dilontarkan oleh para ulama.

Dua komentar tersebut tampaknya sudah cukup untuk membuktikan keagungan kitab ini dan besarnya anugerah yang dimiliki oleh imam al-Ghazali. Maka tidaklah berlebihan bila syariah (penjelasan) kitab tersebut berstatemen, “andaikan ada Nabi setelah Muhammad, maka al-Ghazalilah orangnya (ittihaf as-sada al-muttaqin).

Begitu juga Al-faqih Al Allamah Ismail bin Muhammad al-Yamani ketika ditanya tentang karya Imam Al-Ghazali beliau menjawab, "Muhammad bin Abdullah (Rasulullah) ialah Sayyidul Anbiya, Muhamad bin Idris (Imam Syafi’i) ialah Sayyidul Aimmah, Muhammad bin Muhammad (Imam Ghazali) ialah Sayyidul Mushonnifiin."

Tanpa Ihya, mungkin ilmu tasawuf tak akan berkembang pesat pasca Al-Ghazali. Al-Ghazali membagi ilmu tasawuf menjadi dua macam. Pertama ilmu muamalah dan kedua ilmu mukasyafah.

Adapun yang dimaksud muamalah di sini adalah selain harus diketahui, juga harus diamalkan, baik secara lahir maupun batin, seperti tata cara melakukan taharah, salat, puasa, haji, dan lain-lain. Singkatnya, tasawuf sebagai ilmu muamalah memberikan baju spiritual atau rohaniah untuk ilmu fikih yang berkesan fokus pada ritual dzohir saja, tanpa ada sisi rohani yang jelas.

Sedangkan tasawuf jenis kedua, yaitu mukasyafah dijelaskan oleh Al-Ghazali dengan menggunakan bahasa kiasan dan metafora. Beliau mempraktikkan cara yang dilakukan oleh para nabi, yakni lebih banyak menyampaikan ajarannya melalui isyarat-isyarat dan simbol-simbol.

Inilah posisi Ihya yang membuatnya rujukan awal yang penting dalam mengenal tasawuf sebagai jembatan yang menghubungkan aspek syariah lahiriah (fikih) dengan aspek ekstoteris (tasawuf) dalam Islam.

Dalam kitab Ihya, Hujjatul Islam membagi matri yang dibahas menjadi 4 bagian atau rubu’ dan masing-masing rubu’ terdiri dari 10 kitab. Keempat rubu’ tersebut adalah: pertama, rubu’ ibadah, terdiri atas kitab ilmu, kitab aqidah, kitab taharah, kitab ibadah, kitab zakat, kitab puasa, kitab haji, kitab tilawah quran, kitab zikir dan doa dan kitab tertib wirid. 

Kedua, rubu’ adat kebiasaan terdiri atas 11 kitab adab makan, kitab adab pernikahan, kitab hukum berusaha, kitab halal dan haram, kitab adab berteman dan bergaul, kitab uzlah, kitab safar, kitab amar makruf nahi mungkar dan kitab kehidupan dan akhlak nabi.

Ketiga, muhlikat (perbuatan yang membinasakan) terdiri atas: kitab keajaiban hati, kitab olah jiwa, kitab menekan syahwat dan farji, kitab bahayanya lisan, kitab bahayanya marah, benci dan hasud, kitab safar, kitab bahayanya harta dan kikir, kitab bahaya pangkat dan riya, kitab bahaya takabbur dan ujub, dan kitab bahaya terpedaya.

Keempat, rubu’ muhjiyat (perbuatan yang menyelamatkan) terdiri atas: kitab taubat, kitab sabar dan syukur, kitab takut, kitab fakir dan syukur, kitab tauhir dan tawakal, kitab cinta rindu senang dan ridho, kitab niat, jujur dan iklas, kitab muraqobah dan muhasabah, kitab tafakur dan kitab ingat mati.

Secara global, isi keseluruhan kitab mencakup tiga sendi utama pengetahuan Islam, yakni syariat, tahriqot, dan haqiqat. 

Imam Al-Ghazali juga telah mengoreksinya dengan praktis dan mudah dipahami oleh pembaca sehingga As-Sayyid Abdullah Al-Idrusy memberikan sebuah kesimpulan bahwa, dengan memahami kitab ihya, seseorang telah cukup mendapat tiga sendi agama tersebut. Inilah alasan mengapa kitab ini sangat digemari.

Imam Al-Yafi’i mengatakan bahwasanya ada seorang Syekh Imam besar Abu Hasan Ali bin Hirzim, seorang faqih yang terkenal di daerah Maroko. Beliau dahulu sangat mengingkari kitab Ihya Ulumuddin. Di eranya, ia sangatlah ditaati dan didengarkan perkataannya.

Pada suatu hari beliau memerintahkan untuk mengumpulkan semua salinan naskah Ihya Ulumuddin dan ingin membakarnya di masjid pada Jumat. Kemudian di malam Jumatnya, beliau bermimpi seakan-akan masuk ke dalam masjid jami’; tiba-tiba di dalam masjid ada Nabi Muhammad dan bersamanya ada Abu Bakar dan Umar.

Serta Imam Ghazali berdiri di hadapan Nabi. Ketika Ibnu Hirzim menghadapi Imam Ghazali, Imam Ghazali berkata, ”ini musuhku ya Rasulullah. Jika perkara yang terjadi sebagaimana yang ia sangka, maka aku bertaubat kepada Allah, dan jika sesuatu yang aku dapat itu dari keberkahanmu dan mengikuti sunahmu, maka ambillah untukku haqmu dari musuhku ini."

Setelah kejadian itu, beliau melazimkan untuk mempelajari kitab Ihya secara umum tidak bisa mengurangi kebesaran yang telah diraihnya. Dengan keberadaan kitab ini, semoga kita sebagai umat Islam bisa nguri-nguri ilmu agama.

  • Judul kitab: Ihya Ulumuddin 
  • Pengarang: Abu Hamid Muhammad Ibnu Al-Ghazali
  • Tanggal rilis: Tahun 500-an H (1100 M)
  • Genre: Yazkiyatun Nafs
  • Penerbit: Beragam