Researcher
3 tahun lalu · 100 view · 4 min baca menit baca · Hukum kartu.jpg

Kartu Pegawai, Lebih Dari Sekedar Status

Mungkin ini bukan pengalaman unik atau special, tapi untuk saya ini pengalaman pertama tahu bahwa di gerai makanan, kita bisa pakai bukan hanya promo kartu kredit, tapi juga kartu pegawai untuk dapat diskon 10% untuk food and beverages di merchant yang ada.

Saya tidak tahu persis di mana lagi ada merchant yang mempunyai kebijakan yang menarik untuk konsumen ini, but one thing for sure, it’s nice! Saya bukan bicara soal nominal semata, tapi the fact kalau kartu pegawai, termasuk kartu PNS bisa berlaku untuk promosi tersebut, is awesome! Lumayan, loh! Apalagi pas tahu tidak ada minimum pembelian dll. Seru kan J.

Rasanya gak akan terbayang sebelumnya kalau kartu identitas kita (bukan kartu nama seperti yang saya sempat pikirkan sebelumnya dan bukan KTP, paspor, dll), berupa kartu pegawai bisa ‘laku’ dan ‘berguna’ untuk kita. Dan hal ini berlaku di merchant di mal besar, so I think that’s really cool! Sayangnya, saya sendiri tidak punya kartu pegawai, but I was glad that my boyfriend has.

So, yup, kami menikmati sajian di merchant tersebut dengan diskon 10 persen saja. Harusnya saya tanya masa berlakunya ya, but well, just want to enjoy the discount moment when I could. Interestingly, this brought me to this reflection kalau bekerja, mempunyai pekerjaan, dan kartu pegawai itu lebih dari sekedar status! Bagi saya, bekerja adalah hal yang personal dan relasional. Bekerja adalah soal memiliki self-esteem dan aktualisasi diri.

Bicara soal bekerja sebagai bagian dari interaksi sosial, gak heran kalau bekerja, punya pekerjaan, dan rekan kerja juga jelas jadi hal yang relasional, multidimensional, dan somehow gak lepas dari prestige. Apalagi kalau sector dan posisi dimana kita bekerja dianggap ‘sesuatu’ dan ‘demikian’ compared to other jobs.

Thus, bekerja somehow juga adalah soal harga diri, when we fulfill our tasks and accomplish something. Dan kartu pegawai is just one of the symbols of having a job. Lebih jauh, kalau sampai kartu pegawai kita ‘dihargai’ sedemikian rupa, kebayang gak sih betapa uniknya itu?

Dan kalau mengacu pada kebijakan di merchant itu, rasanya any job will do selama kita punya kartu pegawainya! Artinya, promosi yang ditawarkan tidak diskriminatif dan yang jelas menarik bukan? Entah ini hanya semacam promo ringan, test the water of the market, atau sekalian market research to see professional dari kalangan mana aja dan industry apa aja yang makan di tempat itu, atau apalah apalah.

But data should be useful and meaningful right? Saya sendiri berpikir promosi seperti itu cukup kreatif, well unique in a way. Bukan sesuatu yang biasa dilihat kalau ada promosi di merchant-merchant. Kan biasanya promosi sebatas keanggotaan di klub tertentu, nasabah di bank tertentu, hari-hari special, dan sebagainya. Tapi kartu pegawai? Think about that.

Well, untuk saya yang suka jajan dan nongkrong di tempat-tempat makan, promosi unik macam ini menarik. Dan somehow jadi kepikiran, bisa gak sih kartu nama berlaku, gak cuman kartu pegawai? Apa karena kartu pegawai lebih resmi dan jelas masa validnya, hehehe. Well, in that sense, promosi ini bisa dibilang a bit discriminatory atau bahkan totally discriminatory karena gak semua industry dan pekerjaan dilengkapi dengan kartu pegawai. Gimana kalau modelnya sector informal, tapi potensial untuk target market merchant tersebut?

Atau it’s just that test-the-water marketing promo, non-mainstream, creative, and unique one? Soalnya kalau model promo kartu debit, kredit, klub belanja, atau kartu pelajar bukan barang baru untuk kita. Yang jelas, sebagai konsumen, saya diuntungkan dengan adanya pilihan untuk mendapatkan diskon tersebut.

Nah, benefit itu biasanya baru ketahuan kalau attendants di merchant-merchant terkait menginformasikan di awal atau pas mau bayar, or memajang informasi terkait dan menawarkannya di meja kasir. Jujur saja, gak semua konsumen aware dan benar-benar membaca soal informasi yang sering tercetak di pelbagai leaflet, standing banner, billboard, dll itu. Termasuk saya. Apalagi kalau ada kalimat dengan font kecil di pojok kiri bawah, atau anywhere di pojok, dengan tanda *, yang mengatakan syarat dan ketentuan berlaku J

Dari situlah refleksi saya bergeser ke soal pentingnya menjadi konsumen yang sadar soal hak dan tanggung jawabnya juga, termasuk juga kalau tidak bertanya dari awal, sehingga salah menangkap maksud dari promo marketing yang ada. Namun, hal itu hanya mungkin terjadi, kalau kita ada di semacam pasar yang sempurna dengan informasi yang selengkap-lengkapnya, dan transparan both for the producers and consumers.

Dan yang pentiiiing, harus ada informasi yang sejelas mungkin terutama untuk konsumen, yang most of the time gampang terbujuk oleh beragam promosi, tanpa bertanya lebih lanjut, jika tidak faktor malas juga, soal konsekuensi yang mungkin terjadi kalau gak paham model *syarat dan ketentuan berlaku.

So, pertanyaan selanjutnya? Apakah promo dengan kartu pegawai ini akan terus berlanjut? Apakah merchant akan cukup berani untuk menaikkan prosentase diskon atau bahkan memungkinkan konsumen memakai business cards biasa? Creative dan innovative marketing memang seru.

Dan somehow dengan model modalitas berupa kartu identitas atau apapun yang melekat pada diri kita, sebagai konsumen kita jadi tahu, bahwa what we do and who we are, are indeed valuable. After all, pembeli adalah raja. And again, bekerja dan memiliki kartu pegawai memang lebih dari sekedar status! Besides, nothing’s such a free lunch juga, toh.

Artikel Terkait