Lecturer
2 tahun lalu · 445 view · 5 menit baca · Politik img_20160419_183833.jpg
Siti Masyitoh Yusuf Samaun. Photo: Dokumen Pribadi

Kartini yang Terkuburkan

Meski pada setiap bulan April ini lazimnya masyarakat Indonesia memperingati hari Kartini dan tulisan yang biasanya beredar adalah membedah seputar Kartini dalam beragam aspeknya, tetapi tulisan ini tidak hendak menuliskan hal yang sama, melainkan menuliskan kerja-kerja seseorang yang tidak dikenal secara luas, tetapi sepanjang hidupnya melakukan kerja-kerja pendidikan sebagaimana yang menjadi perhatian utama dari perjuangan Kartini, yakni Nenekku sendiri: Hj. Siti Masyitoh Binti Yusuf Semaun.

Nenekku, meski ia tidak menempuh pendidikan formal produk kolonial Belanda --karena itu ia tak bisa menulis huruf Latin-- tetapi sepanjang hidupnya ia mengajar dan mendirikan sekolah dasar Islam di beberapa tempat dengan harta yang ia miliki dimana sekolah-sekolah tersebut hingga kini masih ada dan diteruskan oleh anak-anak dan cucu-cucunya.

Ia sering bercerita kepadaku tentang bagaimana beratnya tantangan yang ia hadapi saat mendirikan sekolah-sekolah tersebut, tetapi ia berjalan terus dengan penuh keyakinan dan keberanian sehingga darinya melahirkan peserta didik dari generasi ke generasi yang dapat mengubah status sosial ekonomi mereka. Semangat untuk mencerdaskan orang-orang di sekitarnya adalah semangat yang tak pernah padam hingga menjelang wafatnya pada tahun 2000.

Ia seorang guru yang berdedikasi. Waktu-waktu dalam kesehariannya ia habiskan untuk mengajar. Setelah salat Subuh berjamaah, ia mengajar ngaji anak-anak muda di sekitar kampung dan demikian pula pada malam harinya. Di sore hari ia mengajar di sekolah Ibtidayaiyyah, sebuah sekolah agama Islam formal yang secara kurikulum menginduk ke Departemen Agama.

Bagi peserta didik yang pernah diajarnya, nenek adalah seorang guru yang berpengaruh. Entah kekuatan kharisma apa yang ia miliki, sehingga murid-muridnya amat menghormatinya. Umpamanya saja, jika ia belum tiba di sekolah, para murid akan ribut sesama mereka, tetapi ketika ia sudah datang, keributan akan berakhir karena takut pada Ibu Haji. Demikian Nenekku dipanggil.

Pengaruh itu pun kuat di tengah-tengah masyarakat sekitar; laki-laki maupun perempuan. Misalnya, jika ada perempuan-perempuan diluar rumahnya tidak menggunakan baju lengkap, tetapi hanya menggunakan kutang sebagaimana lazimnya perempuan-perempuan di kampung, maka perempuan itu akan lari masuk ke dalam rumahnya jika yang lewat adalah nenek.

Mereka merasa malu kepada Nenek karena hanya mengenakan kutang dimana mereka beranggapan pasti Nenek tidak menyukainya karena telah memperlihatkan auratnya. Sikap serupa juga dilakukan oleh para laki-lakinya. Mereka nampak menyeganinya dan menaruh hormat terhadapnya. Agaknya, karena nenek berani, maka mereka menaruh sungkan dan segan.

Nenekku mengajar dengan sepenuh hati dan pengabdiannya. Ia tidak mengandalkan pekerjaan mengajar sebagai sandaran ekonominya. Saat ia ditawari oleh seorang pengurus NU setempat untuk menjadi pegawai negeri, ia ragu menyanggupinya.

Pasalnya, ia mengkuatirkan ketulusannya akan luntur dan pekerjaan mengajar hanya untuk memperoleh upah. Ia pun ragu akan kehalalan dari uang tersebut, tetapi karena sang pengurus NU itu meyakinkan bahwa uang itu halal dan nenekku berhak memperolehnya, maka ia pun menyanggupinya dalam usia yang tidak muda lagi saat ia menjadi guru dengan status pegawai negeri. Selain menjadi guru, nenekku menopang ekonominya dengan berdagang pakaian dan bertani.

***

Nenekku adalah produk Muslim kolonial. Di masa kolonial, banyak para pelajar dari Indonesia yang belajar ke luar negeri, terutama ke Mekah. Pada awalnya, kepergian mereka ke Mekah adalah untuk naik haji, tetapi karena ada guru agama termasyhur yang mengajar di Masjidil Haram, seperti Syaikh Nawawi Tanara dan Syaikh Ahmad Khatib, mereka tak segera kembali ke tanah air, melainkan bermukim di negeri Arab Saudi tersebut untuk mendalami ilmu pengetahuan.

Sedikit tentang Syaikh Ahmad Khatib. Ia lahir di Bukittinggi pada tahun 1855 dari keluarga yang mempunyai latar belakang agama dan adat yang kuat. Ia pergi ke Mekah pada tahun 1876 dimana ia mencapai kedudukan tertinggi dalam mengajarkan agama, yaitu sebagai imam dari mazhab Syafi’i di Masjidil Haram.

Meski Syaikh Ahmad Khatib tidak pernah kembali ke daerah asalnya, tetapi ia tetap mempunyai hubungan dengan daerah asal ini melalui mereka yang naik haji ke Mekkah dan belajar kepadanya yang kemudian menjadi guru di daerah-daerah asal mereka masing-masing.

Hubungan tersebut dipererat dengan publikasi tulisan-tulisannya sendiri tentang persoalan yang dipertikaikan yang sering dikemukakan kepadanya oleh bekas murid-muridnya dari Indonesia. Sebagai imam dari Mazhab Syafi’i, Syaikh Ahmad Khatib tidaklah bisa diharapkan untuk meninggalkan mazhab ini, tetapi ia pun tidak melarang murid-muridnya untuk membaca dan mempelajari tulisan Muhammad Abduh, seperti yang terdapat di dalam majalah al-Urwat al-Wustqo dan tafsir al-Manar, walaupun ia membiarkan hal ini dengan maksud agar pemikiran yang dikemukakan oleh pembaharu Mesir tersebut ditolak.

Syaikh Ahmad Khatib melahirkan para pembaru Muslim awal di Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Islam Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Islam Nahdhatul Ulama serta KH. Mas Abdurrahman yang mendirikan perguruan Mathlaul Anwar di Menes, Pandeglang, Banten.

KH. Mas Abdurrahman melakukan pembaruan pendidikan Islam di Menes, Banten dengan mendirikan perguruan Mathlaul Anwar yang mengadopsi sekolah dengan sistem kelas model Belanda. Kesadaran adopsi sekolah model Belanda ini karena mereka menyadari bahwa kemajuan umat Islam di tengah-tengah penguasa kolonial ini tidak akan dapat dicapai jika tidak memperbarui lingkungan keilmuannya dan sistem pendidikannya.

Murid dari generasi pertama KH. Mas Abdurrahman adalah kakek dan nenekku. Bahkan keduanya dinikahkan oleh gurunya tersebut. Bersama suaminya, Nenek mengajarkan kitab-kitab yang ditulis oleh gurunya tersebut kepada murid-muridnya seakan-akan mereproduksi nilai-nilai yang diajarkan oleh gurunya: Etika, Tauhid, Fiqh dan ilmu alat (tata bahasa Arab) adalah mata pelajaran utama yang diajarkan.

Ia kemudian mendirikan beberapa sekolah madrasah berkelas dengan menginduk pada perguruan gurunya, tapi kemudian mendirikannya secara mandiri. Niat yang semula untuk memberantas kebodohan dalam komunitas terbatas, yakni kampung halamanku, tetapi kemudian meluas ke desa-desa dan kecamatan-kecamatan yang lainnya.

Nenekku tidak mengenal ilmu lain selain ilmu agama Islam. Kendati demikian, ia tidak pernah menyebut-nyebut perlunya negara Islam ataupun politik Islam. Baginya, Islam adalah kebenaran prilaku yang bersandar pada moralitas sehari-hari seperti kejujuran, keadilan dan kebaikan pada sesama.

Tradisi ritual Islam yang ia laksanakan sepanjang hidupnya adalah salat wajib dan sunnah serta mengaji dan khatam al-Qur’an. Rumah tinggalnya bersih, sejuk dan penuh keteduhan, hal ini agaknya karena ia menjiwai seluruh proses hidupnya dengan ruh Ketuhanan, sehingga jiwa tersebut memancar ke ruang-ruang tempat tinggalnya dan orang-orang di sekitarnya.

Nenekku pun tidak mengenal kata “feminis” dan tidak pernah mempelajari pengetahuan ini sepanjang hidupnya, tetapi sepak terjangnya mencerminkan nilai-nilai feminis seperti kemandirian dan kemerdekaan atas dirinya.

Barangkali inilah yang disebut sebagai “indigenous feminis”, yakni feminis yang tumbuh dari masyarakat lokal dan berbasis dari interaksi sehari-hari dalam kehidupan nyata seorang perempuan tanpa menyadari, mengenal dan menyebut dirinya feminis.

Hanya saja, kontribusi yang ia berikan di tengah-tengah masyarakat, terutama dalam dunia pendidikan tidak pernah tertulis sebagai bagian dari sejarah hidupnya, sejarah hidup perempuan maupun sejarah pendidikan Islam.

Boleh jadi inilah kekurangan dari penulisan sejarah yang hanya menuliskan orang-orang yang berkuasa atau mereka yang memiliki akses terhadap kekuasaan, sementara orang-orang yang secara nyata hidup di dalam komunitas yang terpinggirkan, bisu dan tidak memiliki kemampuan mengartikulasikan peran hidupnya jarang ditulis sebagai bagian dari sejarah.

Tulisan sederhana ini dipersembahkan untuk mengukir perannya sebagai pendidik yang dengan segenap jiwa dan raganya diabdikan sepanjang hidupnya.