3 tahun lalu · 1185 view · 3 min baca menit baca · Perempuan raden_adjeng_kartini.jpg
Kartini and her husband

Kartini Sebagai Simbol Kelemahan Perempuan Indonesia

Di Indonesia, tanggal 21 April selalu diperingati untuk mengenang pahlawan nasional perempuan bernama Kartini. Ia disimbolkan sebagai pejuang wanita yang berjasa mengangkat derajat perempuan. Narasi sejarah selalu menempatkan Kartini sebagai simbol feminisme utama di Indonesia.

Sebelum kemunculan cerita Kartini, perempuan Indonesia selalu ditempatkan pada posisi subordinat laki-laki. Perempuan hanya boleh menempati ruang-ruang domestik dan hanya diberi peran macak , masak, manak dalam sistem sosialnya.

Namun apakah setelah kemunculan Kartini masih relevan menjawab persoalan perempuan di Indonesia di era globalisasi? Saya rasa terlalu berlebihan menarasikan Kartini sebagai pejuang feminis berpengaruh di Indonesia di abad modern ini.

Di abad 21, peran perempuan semakin krusial. Hal ini disebabkan karena efek globalisasi yang begitu kuat. Perempuan dituntut mempunyai peran lebih, baik di ruang privat maupun di ruang publik. Perempuan juga semakin dituntut untuk memiliki kompetensi setara dengan laki-laki. Namun segenap persoalan perempuan masih membelenggu kaum perempuan itu sendiri. Kekerasan dan marginalisasi misalnya, menjadi isu yang tak pernah terselesaikan, baik oleh masyarakat maupun negara.

Perbudakan seksual yang selalu menjadi momok menakutkan bagi perempuan Indonesia juga menjadi isu yang masih menggantung. Data Komnas Perempuan selalu menunjukkan stagnansi bahkan peningkatan kasus kekerasan perempuan.

Data Komnas Perempuan pada 2014 menunjukkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 293.220 kasus. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2013 sebanyak 279.688 kasus. Peran negara dianggap abstain dalam menyelesaikan persoalan pelanggaran HAM yang menyangkut perempuan.

Lalu, menggunakan narasi perjuangan Kartini sebagai simbol perjuangan perempuan di era sekarang dapat dikatakan sudah tidak relevan dan terkesan berlebihan. Bahkan Kartini dapat disebut sebagai simbol kelemahan perempuan. Ia seorang perempuan Jawa, yang menyerah terhadap keadaan sosial yang membelenggunya pada zamanya.

Bahkan ketika ia dilarang untuk sekolah oleh ayahnya, ia tidak melakukan perlawanan dan akhirnya mau menjadi istri kedua seorang penguasa di daerahnya. Ironis, Kartini harus mati muda sebelum ia berhasil meraih mimpi-mimpinya. Terlalu naif hidup Kartini sebagai pejuang feminisme.

Era demokrasi telah memberikan ruang seluas-luasnya untuk eksistensi perempuan. Perempuan semakin bebas untuk menentukan peranya dalam sistem sosial. Kran demokrasi yang semakin memberi kesempatan terhadap perempuan seharusnya dapat mengaktifasi peran perempuan sebagai masyarakat sipil yang memperjuangkan hal-hal ihwal publik. Oleh karena itu, memperjuangkan kesadaran perempuan menjadi cita-cita feminisme yang harus diwujudkan paling utama.

Di abad demokrasi, Indonesia perlu untuk merubah cara pandang lama dalam upaya perjuangan feminisme dengan tidak selalu menempatkan Kartini sebagai satu-satunya pejuang wanita yang menginspirasi kaum perempuan. Mengadopsi nilai-nilai feminisme melalui tokoh-tokoh perempuan yang lebih struggle dalam perjuangannya menjadi penting bagi perempuan Indonesia  abad modern.

Jika kita merefleksikan sejarah perjuangan perempuan di Indonesia, masih banyak pejuang kemerdekaan yang mau untuk turun ke medan perang melawan penjajah. Cut Nyak Dien dari Aceh dan Martha Kristina Tiyahahu dari Maluku adalah dua nama yang juga disebutkan dalam narasi sejarah namun jarang dijadikan simbol perjuangan feminis di Indonesia.

Tokoh-tokoh perempuan lain yang berpengaruh di dunia internasional seperti Margaret Thatcher, Mantan Perdana Menteri Inggris, berhasil menerapkan kebijakan ekonomi deregulasi terhadap bisnis, pemotongan pajak, dan privatisasi dalam memperbaiki krisis di negaranya. Atau Malala Yousafzai, pejuang perempuan Pakistan yang memperjuangkan hak-hak pendidikan dan penghargaan terhadap perempuan.

Inspirasi perjuangan perempuan di abad modern juga harus dibarengi dengan gerakan konkrit untuk mengubah kondisi subordinasi perempuan beserta permasalahan-permasalahan yang masih menghantui. Melalui gerakan dan organisasi perempuan, perempuan lebih memiliki daya dobrak yang terorganisir dalam menggugat sistem patriarki. Ide-ide gerakan perempuan tidak hanya mampu mempengaruhi aturan dan kebijakan, tetapi mampu mendorong munculnya organisasi-organisasi gerakan perempuan dalam kelompok masyarakat sipil.

Contonhya adalah adanya Yayasan Pulih yang berdiri tahun 2002, Lingkaran Pendidikan Alternatif untuk Perempuan atau KAPAL Perempuan yang berdiri pada 8 Maret 2000, Rahima berdiri tahun 2000, Fahmina yang berdiri tahun 2000 di Cirebon , Perempuan Kajian Islam dan Sosial (LKIS) dibentuk tahun 2006, SAPA Institut yang berdiri tahun 2007 di Bandung, Serta Institut Perempuan yang semuanya menyerukan gerakan advokasi dan edukasi terhadap perempuan-perempuan tertindas dan marginal.

Beberapa organisasi perempuan tersebut adalah gerakan feminisme yang lebih dibutuhkan bangsa Indonesia dewasa kini. Mengingat bahwa Indonesia juga memiliki bonus demografi pada 20145 yang menuntut adanya perbaikan kualitas sumberdaya manusia, utamanya perempuan. Menggantungkan pada negara juga hal yang harus dihindari oleh para akativis feminis. Karena pada kenyataanya, negara masih menjadi sosok maskulin yang tidak mampu menyelesaikan persoalan perempuan.

Pada akhirnya, Kartini bukan lagi kebutuhan aktivis feminis abad modern di Indonesia. Menjadikan Kartini sebagai simbol feminisme adalah kesalahan berfikir yang terus dilanggengkan oleh narasi sejarah yang diulang-ulang. Kartini adalah simbol kelemahan perempuan itu sendiri. Gerakan feminisme di Indonesia jauh dapat lebih berkembang dengan adanya ide-ide dan wacana feminisme modern, dengan menekankan pada aktivasi masyarakat sipil, perempuan lebih mampu bergerak secara terorganisir dalam memperjuangkan hak-hak kaumnya. Kartini kini hanya bisa dikenang sebagai perempuan bangsawan yang menyerah pada keadaan sosial di masanya, tidak lebih.

Artikel Terkait