3 tahun lalu · 480 view · 3 menit baca · Budaya collectie_tropenmuseum_portret_van_raden_ajeng_kartini_tmnr_10018776_0.jpg
Foto: id.wikipedia.org

Kartini, Pustaka Feminisme Poskolonial yang Terlupakan

Jauh sebelum Edward Said, Leela Gandhibahwa, Gayatri Spivak bicara tentang teori-teori poskolonialisme, Kartini pada tahun 1900 kartini telah berbicara tentang feminisme postkolonialisme yang menembus tembok batas kolonialisme.

Kartini bicara dan berdialog secara lantang stuktur yang membelenggu hak-hak wanita. Kartini berbicara dengan penguasa dirinya yakni suaminya sendiri Bupati Rembang Adipati Djojo Adiningrat  dan Penguasa Belanda Dr. J. H. Abendanon tentang hak-hak dan kebutuhan wanita melalui surat-suratnya.

Surat-surat Kartini diterbitkan 7 tahun setelah kartini wafat pada tahun 1904. Kumpulan suratnya tersebut diterbitkan pada tahun 1911 dengan judul Door Duistemis tot Licht, habis gelap terbitlah terang di Belanda oleh Dr. J. H. Abendanon yang ketika itu menjabat sebagai Menteri pendidikan Belanda. Kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Agnes Louise Symmers dengan judul Letters of a Javanese Princess.

Suara Kartini dari tebalnya tembok penindasan penjajah sontak terdengar ke seluruh dunia. Meski hidup dalam sangkar emas suami dan dalam tembok penjara penjajahan terdengar seperti melodi cinta ke seluruh dunia. Pemikiran timur Kartini tentang feminisme terbaca oleh dunia. Sosok perempuan oriental yang menantang bertarung wacana feminisme kepada orang tua dan suaminya tercinta serta para kaum penjajah.

Wacana tersebut telah membebaskan diri Kartini dari tekanan tradisi, meski fisiknya terkurung tradisi pernikahan paksa dan terbelenggu tembok struktur penjajahan. Melalui surat-suratnya yang ditujukan kepada kawannya di belanda Abendanon, Kartini berhasil membongkar atas kuasa-kuasa budaya yang ditimbulkan oleh kolonialisme.

Surat-surat Kartini berisikan pemikiran murni kartini yang tidak lazim kala itu dan membuka mata dunia abad 20. Sebuah pemikiran yang universal dari hasil perenungan dan penelitian kartini sendiri yang merupakan manifestasi pemikiran terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri.

Sebuah pemikiran yang lahir dari buah mengaji dari KH Sholeh Darat dan membaca buku hadiah perkawinan tafsir Al Qur’an dari Gurunya KH Sholeh Darat. Tidak ada yang menyangka, hasil pendidikan informalnya melalui pengajian agama yang biasanya berguna untuk melipur lara untuk menerima takdir menginspirasi Kartini untuk melawan takdir. 

Tafsir Al Qur’an Surat Al Baqoroh ayat 257 dari KH Sholeh darat yang berbunyi, “Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari al-zhulumât kepada al-nûr. Dan orang-orang kafir, pemimpin-pemimpin mereka ialah al-thâghût, yang mengeluarkan dari al-nûr kepada al-zhulumât. Mereka itu adalah penghuni neraka. mereka kekal di dalamnya” menjadi ruh surat-suratnya.

Melalui suratnya kartini mendorong dan memotivasi wanita untuk dapat mandiri secara ekonomi. Keyakinannya kebebasan wanita hanya dapat diperoleh melalui kemandirian ekonomi. Hal ini tercermin dari suratnya yang berbunyi, “Secara pribadi Kartini lebih suka menjadi pembantu juru masak daripada dipaksa nikah paksa kepada laki-laki yang tidak dikenalnya”.

Namun demikian konsep feminism Kartini menolak konsep femenisme eropa seperti  tercermin dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon: “Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna?”

“Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan”

Dalam suratnya kepada Nyonya Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis, “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”

Dari surat yang dikirimkan kepada Nyonya Abendanon dan Nyonya Van Kol secara jelas Kartini berusaha membongkar stigmatisasi atau cap bangsa Eropa terhadap orang Timur terutama kaum wanita. Wanita Timur dicap kurang beradap daripada wanita eropa demikian pula ajaran-ajaran spritualitas, budaya dan agama.

Untuk itu dalam pembelaannya keseharian, Kartini terus berupaya membedakan diri dengan wanita Eropa, salah satunya dia tetap setia memakai pakaian Jawa, yakni kebaya. Perjuangan Kartini tidak hanya sebatas menulis surat, namun dengan upaya nyata dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak wanita, yakni sekolah menjahit dan memasak.

Kartini membuka sekolah pertama di Batavia (Jakarta) pada tahun 1907 atas bantuan kawannya Dr. Abendanon sebagai gubenur jenderal Belanda-India kala itu dan Ratu Belanda. Kemudian cabang-cabang sekolah Kartinipun banyak berdiri di Jawa diantara di Malang, Cirebon, Surabaya, Semarang dan Surakarta.

Uraian di atas adalah hasil bacaan dari buku habis gelap terbitlah terang dari buku terjemahan yang berjudul Letters of a Javanese Princess. Baru sedikit yang bisa saya uraikan dan masih banyak sisi lain dari wacana generik feminisme poskolonial. Saya berharap untuk penulis feminisme tidak melupakan mengutip kajian Kartini tentang femisme yang selama ini terlupakan.

Artikel Terkait