Dewasa ini, persoalan mengenai perempuan masih menjadi topik yang hangat, sehingga perlu didiskusikan lebih lanjut. Berbicara mengenai perempuan tentu tidak luput dengan salah satu tokoh nasional yang berperan dalam memperjuangkan hak perempuan, yakni Kartini. Artinya, persoalan perempuan tidak berhenti setelah Kartini mengemukakan emansipasi sebagai modal (Capital) perempuan dalam bermasyarakat. Maka dari itu diskursus mengenai perempuan adalah bagian penting dalam kehidupan manusia.

Dalam sebuah gagasan, Kartini menilai bahwa kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan adalah imbas dari keterbatasan akses pendidikan. Sehingga, pendidikan adalah suatu yang utama dan perlu didapatkan oleh kaum perempuan. Menurut pendapat saya bahwa dengan hal tersebut dapat berdampak baik bagi proses kemajuan Bangsa Indonesia.

Lebih lanjut, apa yang menjadi gagasan Kartini merupakan titik tolak dari pandangan perempuan Indonesia hingga saat ini. Pemikiran Kartini tentang emansipasi yang melampaui zamannya itu sangat memengaruhi perempuan Indonesia, bahkan tidak sedikit juga dari perempuan mengilhami emansipasi sebagai sebuah pedoman dalam beraktivitas terutama ketika perempuan merasa terdeskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada ruang publik. Hal ini diperparah dengan stigma bahwa perempuan yang dinilai lemah acap kali bergantung pada laki-laki. Oleh sebab itu, stigma yang sudah mengakar ini cepat atau lambat harus ada pembaruan dengan mengedepankan kebersamaan satu sama lain, tanpa adanya sebuah deskrimasi yang mengarah kepada perempuan sedikit banyak masih dialami.

Perempuan dan Pembangunan di Pedesaan

Pada masyarakat di daerah pedesaan, perempuan dianggap yang masih sangat dekat dengan apa yang dimaksud sebagai pekerjaan tradisional. Pekerjaan demikian adalah yang memungkinkan bagi perempuan dalam membantu suami dalam mencukupi ekonomi keluarga. Oleh karena itu, hal tersebut adalah sebuah kebiasaan yang diterima dan wajar dalam masyarakat di pedesaan, sebelum modernisasi desa yang didasari pembangunan yang mengaburkan makna desa itu sendiri.

Meskipun demikian, pandangan Hersri S (1981), dalam Wanita: Alas Kaki di Siang Hari, Alas-Tidur di Waktu Malam. Menurutnya, tetap saja modernisasi dan pembangunan belum mampu meringankan beban perempuan. Belum lagi aktivitas rumah tangga yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Bahkan, hal tersebut mempertajam dimensi individualisme yang semakin larut. Mirip seperti yang diungkapkan Henriette Roland Holst, seorang penyair dan sosialis Belanda yang dekat dengan pejuang kemerdekaan Indonesia yang mengatakan “jiwa raga wanita retak”. Hal ini kemudian diartikan bahwa posisi perempuan terbagi menjadi 2, yaitu sebagian pada beban rumah tangga, tetapi di sisi lain beban membantu mencari nafkah.

Sementara itu, pembangunan adalah sebuah proses yang menggambarkan kemajuan sebuah daerah, termasuk di pedesaan. Bagi masyarakat pedesaan, pertanian mempunyai arti penting sebagai penunjang kehidupan sebelum dimasuki perekembangan pembangunan industri. Adanya pembangunan tentu akan bersinggungan dengan aktivitas masyarakat tradisional, yang berpotensi mengubah pola kebiasaan yang sebagain besar mobilitasnya tidak jauh dengan lahan pertanian, serta keberadaan bangunan tersebut akan melahap lahan produktif yang sudah tersedia. Hal ini kemudian memantik lahirnya sebuah fenomena sosial, yakni gerakan sosial. Sebagai contoh, yakni tulisan Cusdiawan (2020), Membedah Gerakan Subaltern dalam Melawan Pembangunan PLTU di Indramayu.

Dalam studinya tersebut, Cusdiawan melihat gerakan “Jatayu” (Jaringan Tanpa Asap Batu Bara Indramayu) berusaha melawan pembangunan PLTU di Indramayu yang akan dibangun pada tahun 2022. Di mana Jatayu dimaknai sebagai gerakan subaltern, hal ini didasari dari latar belakang pendidikan massa yang rendah, pekerjaan utama sebagai buruh tani, dan tidak termasuk ke dalam kelas menengah, serta tidak memperoleh akses kekuasaan. Perlawanan tersebut merupakan buah pikir dari ketakutan terutama kelangsungan hidup baru setelah lahan yang dimiliki kemudian dialihfungsikan menjadi bagian dari proyek pembangunan.

Lebih lanjut, dampak yang ditimbulkan dari pembangunan yakni tersingkirnya masyarakat yang mengandalkan hasil pertanian. Proses pembangunan diartikan sebagai upaya peminggiran, karena masyarakat setempat bukan sebagai pihak yang diuntungkan, justru dijadikan penonton dari proses pembangunan tersebut. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh pemerintah lebih dimaknai warga desa tidak lebih sebagai penghancuran dari pada pembangunan, (Abdoellah dan Mulyanto, 2019; Cusdiawan, 2020).

Selain itu, menurut Toeti Heraty Noerhadi (1981) dalam tulisan yang berjudul Wanita dan Citra Diri berpendapat bahwa pengaruh pembangunan menunjukan kerugian bagi perempuan, di mana pola pembangunan yang berasal dari Barat tersebut, membersamai perspektif baru terhadap aktivitas sebelum pembangunan, yakni membawa masuk pandangan kelas mengenai kepantasan pekerjaan perempuan yang cenderung membatasi atau pun berpotensi menghilangkan jenis-jenis pekerjaan tradisional. Alhasil, banyak dari perempuan yang terdesak jika dibandingkan masa sebelum pembangunan.

Daftar Pustaka

Cusdiawan. 2020. Membedah Gerakan Subaltern dalam Melawan Pembangunan PLTU di Indramayu. Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya (PMB)- LIPI. Vol. 11, No. 21, 3 November 2020.

Noerhadi, Toeti Heraty. 1981. Wanita dan Citra Diri, dalam Wanita Indonesia: Terpaku Dipersimpangan. Jakarta Barat: LP3ES.

S, Hersri. 1981. Wanita: Alas-kaki di Siang Hari, Alas-tidur di Waktu Malam, dalam Wanita Indonesia: Terpaku Dipersimpangan. Jakarta Barat: LP3ES.