Ketika impiannya—yang ia perjuangkan selama bertahun-tahun—sudah hampir terlaksana, Kartini menyerah untuk memenuhi tuntutan keluarga dan budaya. Ia menerima untuk dinikahkan dengan laki-laki yang sudah memiliki tiga istri sebelumnya.

Keputusan yang mengejutkan dan sulit dipahami orang-orang yang mengenal Kartini saat itu, dan juga mungkin oleh kita yang memperingati kepahlawanannya setiap tahun. Ia yang menentang patriarki, mengapa ia tunduk pada sistem ini?

Ia cerdas tetapi sayang ia lemah hati, demikian kalimat yang saya temukan pada beberapa artikel yang berbicara mengenai Kartini. Kalimat yang mengabaikan fakta bahwa pilihan Kartini ini menentang prinsipnya sendiri tentang poligami.

Kelemahan hati apakah yang dimaksud ketika seorang perempuan memilih untuk menyelamatkan reputasi keluarga dan membahagiakan orang tua dengan mengorbankan prinsip-prinsip yang ia pegang teguh? Tentu bukan hal yang mudah untuk mengambil dan menjalani keputusan yang bertentangan dengan prinsip yang kita yakini dan bahkan kita perjuangkan. 

Calon suami Kartini adalah laki-laki terpelajar, yang berjanji akan mendukungnya untuk mendirikan sekolah bagi perempuan bumiputra. Yang berarti adalah tujuan akhir yang Kartini harapkan untuk dapat memajukan kaumnya seyogianya (dalam pemikiran Kartini saat itu) tetap akan tercapai.

Etika kepedulian dan keputusan-keputusan moral perempuan

Dalam salah satu suratnya, Kartini menyatakan bahwa apa yang ia perjuangkan tidak berubah, ia hanya mengubah caranya. Dengan memilih cara ini, ia mengorbankan prinsip diri tetapi dengan mempertimbangkan perasaan orang-orang terdekatnya, kepentingan keluarga, dan juga kepentingan kaumnya. 

Pengambilan keputusan Kartini sebenarnya mencerminkan pengambilan keputusan perempuan pada umumnya. Jika kita perhatikan, refleksi yang sama umumnya dilakukan oleh perempuan dalam kasus-kasus berbeda. 

Sebagian besar perempuan korban KDRT yang saya temui, baik di Indonesia ataupun Prancis, cenderung memilih untuk bertahan demi anak-anak. Tetapi ketika melihat kekerasan suaminya sudah berdampak buruk pada anak-anak, atau bahkan membahayakan anak-anak, mereka seperti tersadar untuk segera pergi menyelamatkan diri dan anak-anak.  

Untuk anak-anaklah mereka memilih tetap bersama pelaku, dan untuk anak-anak pula mereka meninggalkan pelaku. 

Demikian pula dengan perempuan yang melakukan aborsi karena memikirkan masa depan anak yang akan dilahirkan. Mampukah ia menghidupi dan membesarkan anak ini mengingat ia sendiri masih belia dan belum bekerja? Yang jika dibalik adalah apakah kebutuhan si anak kelak akan terpenuhi? Atau bagaimana kondisi psikologis si anak jika kelak mengetahui bahwa ayahnya adalah pemerkosa?

Atau mereka yang memilih untuk tidak aborsi karena tidak ingin menyakiti dua kali hati orang tua, dan beberapa pertimbangan lainnya yang orientasinya adalah kepentingan orang lain.

Pertimbangan-pertimbangan semacam ini yang memikirkan konsekuensi tindakannya pada orang-orang terdekat sepertinya yang telah mengantarkan perempuan pada keputusan untuk melakukan aborsi atau sebaliknya memilih untuk tidak melakukan aborsi. 

Demikian hasil penelitian Carol Gilligan, filsuf dan psikolog feminis asal Amerika sekaligus profesor di New York University mengenai perkembangan moral perempuan yang ia tuangkan dalam bukunya In a Different Voice (1982). Bahwa perempuan memiliki dasar keputusan moral yang khas, yang membedakannya dari laki-laki. 

Perlu diketahui bahwa penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa level perkembangan moral perempuan selalu lebih rendah dari laki-laki. Penelitian-penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif. 

Sementara itu, temuan Gilligan dengan metode kualitatif menyatakan bahwa tingkat perkembangan moral perempuan tidak lebih rendah, tetapi kita yang telah salah menerapkan teori perkembangan moral yang maskulin untuk memahami keputusan-keputusan moral perempuan.

Saat itu, dunia psikologi hanya mengenal satu teori tahapan perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg yang didasarkan pada disertasinya (1958) dengan subjek penelitian terbatas pada anak laki-laki. 

Sebuah buku kecil yang memicu revolusi, demikian catatan Harvard University Press mengenai karya Gilligan ini. Temuan Gilligan sangat berperan besar dalam kemunculan feminisme gelombang kedua pada masa itu. 

Etika kepedulian sebagai dasar keputusan moral perempuan adalah gagasan utama Gilligan yang menobatkannya sebagai pelopor care-based feminism.

Kembali kepada Kartini, ia punya dua pilihan, melanjutkan studi untuk menjadi guru, yang tujuan akhirnya adalah memajukan kaumnya, atau menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. 

Pilihan kedua ini menentang prinsipnya sendiri tentang poligami, tetapi menyelamatkan nama baik keluarga, dan membahagiakan orang tua. Sambil ia menyadari bahwa calon suaminya akan mendukungnya untuk membuka sekolah, yang akan berujung pada pencapaian tujuan yang sama untuk kaumnya tanpa mengorbankan kehormatan dan perasaan orangtuanya. 

Salahkah keputusan Kartini? Kalahkah Kartini melawan patriarki? Saya kira keputusan-keputusan yang melibatkan penalaran moral semacam ini pada akhirnya tidak untuk dinilai baik buruknya. 

Karena, bila boleh saya simpulkan, landasan keputusan moral perempuan adalah kepedulian terhadap orang lain, yang dimungkinkan oleh kemampuannya untuk berempati. Dan jauh sebelum Gilligan berbicara mengenai etika kepedulian, Sabina Spielrein, psikoanalis feminis pertama, telah menyatakan bahwa empati dan kepedulian memang merupakan keutamaan jiwa perempuan (Spielrein, 1912).