28416_14658.jpg
Sejarah · 7 menit baca

Kartini di Antara Yahudi dan Teosofi

Setiap jatuh Hari Kartini (21 April), bukan hanya diramaikan dengan ritual tahunan berupa parade pakaian daerah atau lomba puisi serta berbagai pagelaran untuk memeriahkan hari tersebut di berbagai institusi pendidikan, namun juga berkembang berbagai wacana yang disebarluaskan di media sosial perihal koneksivitas Kartini dengan Yahudi dan Teosofi.

Kartini memang banyak bergaul dan melakukan korespondesni dengan orang-orang Belanda berdarah Yahudi seperti J.H. Abendanon dan istrinya Ny Abendanon Mandri, seorang humanis yang ditugaskan Snouck Hurgronje untuk mendekati Kartini. 

Istri Abendanon kelahiran Puerto Rico berdarah Yahudi. Bahkan, dalam beberapa suratnya, terlihat minat dan perhatian Kartini terhadap Teosofi sebagaimana dikatakan, “Orang yang tidak kami kenal secara pribadi hendak membuat kami mutlak penganut Teosofi, dia bersedia untuk memberi kami keterangan mengenai segala macam kegelapan di dalam pengetahuan itu. Orang lain yang juga tidak kami kenal menyatakan bahwa tanpa kami sadari sendiri, kami adalah penganut Teosofi.” (Surat kepada Ny Abendadon, 24 Agustus 1902).

Dalam suratnya yang lain dikatakan, “Hari berikutnya kami berbicara dengan Presiden Perkumpulan Teosofi, yang bersedia memberi penerangan kepada kami, lagi-lagi kami mendengar banyak yang membuat kami berpikir.” (Surat kepada Ny Abendadon, 15 September 1902).

Sayangnya, narasi yang dibangun bukan bertujuan untuk memberikan deskripsi sosiologi dan historis apa dan bagaimana Yahudi, Yudaisme, dan pergerakan Teosofi, serta pengaruhnya di era kolonial. Sebaliknya, seperangkat kotak pemahaman telah dikonstruksikan bahwa Yahudi dan Teosofi adalah simbolisasi segala bentuk kejahatan dan keburukkan.

Sehingga, ketika Kartini dihubungkan dengan Yahudi dan Teosofi sebagaimana terekam dalam surat-suratnya, maka secara otomatis Kartini diposisikan dalam stigma yang sama dengan Yahudi dan Teosofi.

Gerakan Teosofi dan Pengaruhnya di Era Kolonial

Menurut Iskandar P. Mugraha, Gerakan Teosofi didirikan pertama kali di New York, Amerika Serikat pada tahun 1875 oleh seorang perempuan bangsawan keturunan Rusia, Helena Petrovna Blavatsky, yang dibantu dua orang Amerika, Henry Steel Olcoot dan W.Q. Judge. Selanjutnya, Henry Steel Olcoot diangkat menjadi presiden pertama perkumpulan tersebut yang kemudian diberi nama Theosophical Society (TS). 

Gerakan ini selalu menekankan bahwa anggotanya berkewajiban membuat pikiran merdeka dan bekerja demi perubahan rakyat, yakni lewat cara batin untuk melawan segala hawa nafsu manusia. Menurut mereka, agama-agama konvensional tidak lagi memiliki pengaruh (Teosofi, Nasionalisme, dan Elite Modern Indonesia, 2011).

Melihat sifat gerakannya, Theosophical Society (TS) merupakan suatu gerakan Hindu Baru (Neo Hindu Movement) yang terinspirasi mistisisme-esoteris Yahudi bernama Kabbala dan Gnosticsm, suatu ilmu rahasia keselamatan serta bentuk-bentuk okultisme Barat. Demikian Iskandar Nugraha memberikan ulasan pembuka.

Pada tahun 1885-1891 ,organisasi TS melancarkan pengaruhnya ke Barat dan Timur India. Pemikiran-pemikiran H.P. Blavatsky dituangkan dalam majalah The Rheosophist. 

Pada tahun 1895, dimulailah babak perkembangan baru dengan bergabungnya Annie Besant. Berkat kepandaiannya menggabungkan prinsip kebatinan Timur dan Barat serta kelihaiannya dalam menyosialisasikan gerakan dalam berbagai propaganda, maka pengaruh gerakan Teosofi bukan hanya di India, melainkan sampai ke Hindia Belanda (Indonesia) dan berbagai dunia.

Berbagai organisasi didirikan di bawah TS yang dipimpin Annie Besant, termasuk di Hindia Belanda seperti Perkumpulan Freemasonry, Moeslim Bond, Theosofische Wereld Universiteit, dan The Liberal Catholic Church. Gerakan Teosofi berkembang pertama kali di Pekalongan pada tahun 1883 di bawah kepemimpinan Baron van Tengnagel. 

Tahun 1901, dimulai babak baru organisasi Teosofi di Hindia Belanda seperti di Semarang, lalu Surabaya (1903), Yogyakarta (1904), serta Surakarta (1905).

Pertemuan kelompok Teosofi biasanya dilaksanakan di sebuah tempat yang disebut Loji (lodge). Loji di lingkungan Gerakan Teosofi diartikan sebagai suatu perkumpulan dengan jumlah minimal anggota tujuh orang. 

Loji harus mendapat izin dari perkumpulan induk yang berpusat di Adyar, India, dengan bukti berupa akta yang ditandatangani Presiden Gerakan Teosofi. Loji-loji itu melakukan aktivitas sesuai dengan apa yang digariskan pusat. Kegiatan utama mereka masih terbatas pada bidang mistis dan kebatinan.

Loji sebagai pusat kegiatan Freemasonry kerap mendapatkan sorotan negatif dari masyarakat dengan sebutan Omah Setan karena kerap dijadikan media pemanggilan arwah. Abdurachman Surjomiharjo mendeskripsikan sebagai berikut:

“Pertemuan kaum mason diadakan di loge atau Loji Mataram di Jalan Malioboro. Pada waktu Yogyakarta menjadi ibukota Republik Indonesia, gedung ini dipakai oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Loji Mason di kalangan masyarakat bumiputera disebut sebagai ‘Rumah Setan’. Upacara penerimaan anggota baru mason diliputi oleh keanekaan dan kerahasiaan. Upacara ini diadakan di loji, dalam bahasa Belanda disebut Huis van Overdenking atau dalam bahasa Jawa disebut Omah Pewangsitan” (Kota Yogyakarta Tempoe Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930, 2008:49). 

Beberapa pengikut Freemasonry (Vrijmetselarij) membela bahwa istilah “rumah setan” merupakan pengrusakan istilah dari “rumah pamagsitan” atau “rumah permenungan” (Th. Steven, Tarekat Mason Bebas dan Kehidupan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, 2004: 320).

Gerakan Teosofi memiliki pengaruh terhadap tokoh pergerakan Indonesia seperti Tjipto Mangoenkoesoemo (Pendiri Boedi Oetomo, 1908), Douwes Dekker (pendiri Indische Partij, 1912), bahkan Kiai Haji Agus Salim."

Dalam komentarnya yang dikutip oleh Solichin Salam dalam bukunya Hadji Agus Salim, Hidup dan Perdjuangannja, Agus Salim mengatakan simpatinya terhadap organisasi TS, “Saya bergabung ke dalam Theosophical Society karena saya melihat mereka mengakomodasi banyak kaum Muslimin, khususnya Muslim yang diasingkaan karena pendidikan barat-nya, namun masih berpegang kuat pada tradisi. Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada Theosophical Society” (Teosofi, Nasionalisme dan Elite Modern Indonesia, 2011:32).

Sekalipun Ir Soekarno bukan anggota Teosofi, namun melalui ayahnya, R. Soekemi, beliau memperoleh akses pemikiran-pemikiran Teosofi dan pemikiran besar tokoh dunia lainnya sebagaimana Iskandar P. Nugraha mendeskripsikan, “Sukarno bukan anggota Gerakan Teosofi, namun berkat keterlibatan ayahnya, ia dapat menempa keintelektualannya lewat Gerakan Teosofi.” 

Pemaparan kondisi sosio-historis kemunculan dan pengaruh Gerakan Teosofi dalam pemikiran sejumlah kelompok masyarakat termasuk elite Indonesia pra kolonial seperti Kartini adalah hal yang wajar tanpa harus diberi kecurigaan yang berlebihan serta dihubungkan dengan dugaan-dugaan speklulatif dan konspiratif.

Yahudi dan Yudaisme di Era Pra Kolonial dan Kolonial

Sejarah Yahudi dan Yudaisme di Indonesia serbakabur dan tidak teridentifikasi dengan jelas sebagaimana dikatakan Leonard Epafras, “Jadi, secara umum, ada kesan kuat bahwa realitas Yahudi di panggung sejarah Indonesia nyaris senyap, atau berjalan sendiri, diabaikan seakan seperti tidak saling jumpa” (Yahudi Nusantara: Realitas Sejarah dan Dinamika Identitas - Jurnal Religio, Vol 03, No 02, 2013: 13). 

Namun demikian, dalam artikelnya, Leonard Epafras mencoba menelusuri jejak-jejak samar kehadiran dan interaksi Yahudi di Nusantara pra kolonial hingga kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang.

Romi Zarman, dalam tulisannya terkait pelacakan eksistensi Yahudi di Jawa era kolonial, menuliskan perihal tipologi orang Yahudi Eropa dan orang Yahudi Asia serta jumlah mereka yang terekam dalam surat peraturan pencatatan sipil:

“Dari suatu peraturan pencatatan sipil untuk orang Yahudi di Hindia Belanda, Het reglement op den burgerlijken stand, voor alle Christenen en Joden, bertanggal 18 Juni 1828, teridentifikasi bahwa orang Yahudi di Jawa terutama tersebar di Batavia, Semarang dan Surabaya...Pada 1930, berdasarkan sensu Pemerintah Hindia Belanda diketahui bahwa populasi Yahudi Eropa di Jawa adalah 935 jiwa. Adapun Yahudi Asia di Jawa berjumlah 565” (Yudaisme di Jawa Abad Ke 19 dan 20, Ning (tt):6).

Laporan-laporan di atas memperlihatkan bahwa eksistensi dan interaksi Yahudi penganut Yudaisme telah ada sebelum nation Indonesia terbentuk. Berbicara mengenai pijakan historis, saya akan mengutip pidato Raden Adipati Aria Muharam Wiranatakusumah. Siapakah Raden Adipati Aria Muharam Wiranatakusumah?

“Nama kecil beliau adalah Muharam. Wiranatakusumah V adalah gelarnya sebagai Bupati Bandung. Ia lahir di Bandung, 8 Agustus 1888. Versi lain menyebutkan 23 November 1888. Wiranatakusumah adalah putra dari pasangan R. Adipati Kusumahdilaga dan R. A. Soekarsih. Ayahnya adalah Bupati Bandung (1874-1893). 

Ketika Muharam berusia lima tahun, ayahnya wafat. Ia lalu diasuh dan dididik oleh ibunya hingga usia sembilan tahun. Setelah ayahnya mangkat, ditunjuklah tiga orang sebagai walinya, yaitu R. Martanagara (Bupati Bandung), R. Ardinagara (Jaksa Bandung), dan Suriadiningrat (Camat Cilokotot/Cimahi). Kepada ketiganya juga dipasrahkan kewajiban untuk mengurus semua warisan Kusumahdilaga.

Pada usia sembilan tahun, Muharam dititipkan pada keluarga Adams untuk mendapatkan pendidikan ala Barat. Sekolah formal yang sempat diikutinya adalah ELS (1901), sempat melanjutkan ke OSVIA hingga kelas III, kemudian atas anjuran dr. Snouck Hurgronje, pada 1904 ia pindah ke HBS atau Gymnasium Willem III di Batavia dan mendapatkan diploma pada 1910. 

Di Batavia, Muharam tinggal di rumah inspektur sekolah Hellwig. Selain belajar di sekolah, setiap hari Minggu, dari jam 9.00-16.00, ia mendapatkan pelajaran tambahan di rumah Hurgronje. Ia belajar bahasa Prancis, Jerman, dan Inggris. Ketika R. Ardinagara wafat, Hurgronje menggantikannya sebagai wali bagi Muharam. 

Selain Hurgronje, tokoh lain yang ikut membentuk kepribadian Muharanm adalah Prof. G. J. A. Hazeu” (R.A.A Wiranatakusumah “Raja Sunda” Terakhir.

Beliau dikenal sebagai seorang yang menjadi saksi atas pernikahan Soekarno dan Inggit Garnasih. Nasionalisme dan keislaman beliau tidak diragukan. Namun yang menarik, pada tahun 1940, beliau memberikan sebuah pernyataan yang membela kesucian nilai-nilai agama masing-masing yang berada di wilayah Jawa Barat kala itu dan agama Yahudi (Yudaisme) sudah disebutkan eksistensinya sebagaimana beliau katakan:

“Aliran yang serupa itu sudah mesti dicegah. Tentu orang tidak dapat membiarkan manusia dimusnahkan, karena kebatinan yang suci itu sudah lenyap dan karena keingkaran manusia kepada Tuhan. Jika memang ada cita-cita yang demikian, maka sekalian yang masih beriman, semua orang yang masih bercintakan kepada batin yang suci, sudah seharusnya bekerja bersama-sama mempertahankan kesucian agamanya.

Demikianlah maka kita berkumpul di sini, baik Kristen maupun Islam atau Yahudi dan yang memeluk agama-agama lain, putih dan hitam bersisi-sisi, akan membuktikan bahwa ada Yang Maha Kuasa yang akan memenangkan kebenaran.”

Melalui kajian sosio-historis keberadaan Gerakan Teosofi dan orang-orang Yahudi dan penganut Yudaisme, maka ketertarikan dan keterpengaruhan Kartini terhadap aneka ragam pemikiran merupakan sebuah kewajaran dan bagian dari realitas historis sebagaimana layaknya tokoh-tokoh besar selalu berinteraksi dengan banyak pemikiran untuk kemudian membuat sintesis pemikirannya sendiri.