21 April, dimana Kartini dilahirkan menjadi momentum memeringati kembali betapa perempuan Indonesia memerlukan perjuangan untuk sampai pada kondisi di masa ini.

Di masa hidupnya, Kartini bahkan untuk sekolah saja. Itupun mendapatkan perbedaan dengan laki-laki.

Kondisi kini secara umum, masih sama. Ketika dalam keluarga hanya satu kesempatan untuk melanjutkan sekolah, maka yang diminta untuk meminggirkan diri, tak lain adalah perempuan.

Laki-laki mendapatkan keutamaan. Semata-mata karena urusan jenis kelamin. Bukan karena kemampuan yang dicapainya.

Itu kondisi abad 21. Pada masa Kartini tentu lebih berat lagi. Perempuan tetap saja menjadi “barang” yang sepenuhnya tunduk pada kemauan orang tua.

Sebagaimana Kartini, harus pasrah atas perintah ayahnya untuk menikah. Namun, pada kesempatan yang lain, menumpahkan curhatannya  melalui surat.

Dari sini, kita dapat belajar. Bahwa sekecil apapun itu aksi yang dikerjakan, pada saatnya tetap akan mendapatkan tempat pada kondisi tertentu.

Kartini melakukan itu. Menuliskan keluh kesahnya dalam bentuk surat, dan dengan itu kemudian dikompilasi sehingga menjadi sebuah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Bukan berarti tidak lagi relevan untuk menuliskan keluh kesah. Tetapi medium untuk menuntaskannya itu semakin terbuka luas. Tidak lagi dengan surat saja, tetapi media sosial dengan pelbagai ragam juga dapat menjadi pilihan.

***

Sejenak kita berpaling pada perempuan lain, ada yang tekun dalam ilmu pengetahuan. Colliq Pujié yang berarti Pucuk yang Terpuji, dengan nama lengkap Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana. Ratu di Pancana, sekarang ini wilayah Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Dengan luas dan kekuatan pengaruhnya, bahkan disebut Datu’ Pancana. Ketidakmauan untuk bekerja sama dengan Belanda akhirnya harus ditahan. Namun bukan itu saja, Arung Pancana-lah yang menjadi perantara, sehingga kita mewarisi La Galigo hingga hari ini.

Dengan tangannya, kemudian menyalin 12 jilid La Galigo. Pada kesempatan berikutnya, tersimpan pada perpustakaan di Belanda.

Perjuangan yang dilakoninya bukan pada kecemasan akan perlakuan laki-laki pada perempuan, tetapi justru menyerahkan masanya untuk mengurusi kepentingan orang banyak. Sebagaimana yang dilakukan laki-laki.

Dari pulau Sumatera kita bisa menyaksikan Haji Rangkayo Rasuna Said. Perempuan yang tidak berpangku tangan, mengurusi domestik saja.

Turun ke masyarakat mengajar. Juga menerbitkan surat kabar. Bahkan aktif di partai politik untuk menyuarakan kepentingan orang ramai.

Prinsip yang diyakininya, diperjuangkan melalui aktivitas politik. Aktif menyuarakan kegelisahan. Hingga suatu saat dikenakan pasal Speek Delict, dimana pidatonya dianggap menyerang kedaulatan pemerintahan saat itu.

Namun, itu tidak menghentikannya. Sekeluarnya dari penjara di semarang meneruskan pendidikan di lembaga Islamic College dengan pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja.

Selanjutnya, menulis dan menerbitkan cetakan berkala. Tidak lagi setakar berpidato saja. Tetapi tulisannya tersebar melalui majalah yang didirikannya, Menara Poeteri.

Sampai akhir hayatnya, Ketika Indonesia sudah merdeka tetap duduk di posisi politisi untuk perjuangan dan kejuangan.

***

Dari ketiganya, kita belajar betapa perjuangan dan kejuangan jikalau disandingkan dengan aktivitas menulis, akan dapat mengabadi.

Baik Kartini, Colliq Pujié, dan HR Rasuna Said, semuanya melengkapi diri dengan kemauan dan kemampuan menulis. Bahkan sesederhana apapun itu bentuknya. Tetap saja, menulis mendapatkan apresiasi.

Perempuan kini, juga tentu tetap saja relevan jikalau melaksanakan akselerasi yang sama.

Kita dapat melihat, seperti Najwa Shihab yang disapa akrab Nana. Sebagai jurnalis, tentu kemampuannya menyebarkan informasi menjadi salah satu fungsi yang diembannya.

Namun, tidak sebatas itu saja. Nana menjadi Duta Baca Indonesia, dan Duta Pustaka Bergerak. Aktivitas literasi menjadi langkah emas untuk menapaki perjuangan.

Setidaknya, dengan membaca dan menulis, akan memberikan aksentuasi pengetahuan yang meluas dalam masyarakat.

Sehingga, tidak menjadi kemewahan individu semata. Tetapi menyebar dan merata dalam setiap unsur masyarakat.

Maka, perjuangan kini dan juga di masa yang akan datang adalah memberikan perluasan akses kepada setiap orang. Terutama bagi para perempuan.

Dari rahim mereka akan lahir para pejuang dan penerus bangsa. Hanya saja, jikalau tidak diasupi dengan informasi yang memadai, maka tetap saja mereka akan berada dalam kegelapan yang nyata.

Sekalipun itu berada dalam hiruk-pikuk maklumat yang berkelimpahan. Namun, diperlukan kemahiran tambahan. Dimana kemampuan untuk memilih dan memilah  maklumat yang ada sehingga dapat digunakan untuk memperluas cakrawala.

Bukan sebatas pada mengkomsumsi apa yang tersedia. Sehingga pada kesempatan tertentu, perlu juga memproduksi maklumat yang sesuai dengan keperluan lingkungan. Tidak serta merta hanya menguyah apa yang ada, tetapi juga mengembangkan apa yang dibutuhkan dalam keluarga masing-masing.

Akhirnya, pada perempuan memang diletakkan kodrat perjuangan. Mereka yang mengandung, selama sembilan purnama. Seusai itu, bukan selesai. Tetap saja menyusui dan mengasuh sampai tahun kedua usai.

Namun, sebagai ibu. Mendampingi tumbuh kembang anak juga tetaplah perjuangan. Maka, pada perempuanlah, tak  ada kata untuk durhaka. Mereka telah memanggul amanah untuk berjuang dalam kehidupan ini.