Kemarin, Kamis, tanggal 22 April 2021, Maarif Institute (for culture and humanity) mengadakan serial tadarus online ramadan 1442 Hijriah dengan tema, Kajian pemikiran Islam Kontemporer. 

Kali ketiga ini dengan judul “Kartini dan spirit perjuangan di tengah pandemik” yang menghadirkan dua narasumber yaitu, Assoc. Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tenaga ahli utama kedeputian V KSP dan Andri Ardiansyah, alumni sekolah kebudayaan dan kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif  (SKK) angkatan III.

Acara dibuka oleh moderator, Cici Situmorang yang merupakan alumni SKK II, kemudian acara diantarkan dengan sepatah kata dari abang Shofan yang merupakan kepala sekolah kami selama bersekolah di Maarif Institute. Lalu kemudian ada pengantar dari bapak Rohim Ghazaly sebagai Direktur Eksekutif Maarif Institute.

Rohim Ghazaly mengatakan bahwa pertama-tama ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran ibu, ibunda Ruhaini atas kesediaan beliau menjadi narasumber tetap di Maarif Institute bahkan sekaligus menjadi penguji (tulisan) para peserta sekolah kebudayaan dan kemanusiaan ini. Beliau sangat concern dalam hal keperempuanan dan hak-hak asasi manusia (perempuan), beliau juga pernah memimpin rapat dengan komisi HAM di OKI (organisasi konferensi Islam).

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada mas Andry yang menjadi pembicara tadarus online ini. Tak lupa, ia berterima kasih atas kehadiran alumni SKK mulai dari yang pertama, kedua, hingga ketiga ini dan masyarakat umum yang juga mengikuti acara ini. Semoga spirit Maarif Institute yang egaliter, inklusif, non diskriminasi, dan toleran ada dalam perjumpaan ini.

Lebih lanjut ia mengatakan kegiatan tadarus online ramadan ini adalah bagian dari program Maarif Institute yang diselenggarakan di bulan suci ramadan di setiap tahunnya. “Alhamdulillah, tadarus ini kembali dihadirkan untuk membincangkan kembali berbagai persoalan (kemanusiaan). Apalagi kemarin (21 April) kita memperingati hari Kartini, kali ini dengan spirit bagaimana perempuan menghadapi pandemi ini.” Kata Rohim Ghazaly.

Lanjut, Rahim, Apalagi perempuan banyak menjadi korban diskriminasi, kekerasan, dan lain sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena tidak adanya pemasukan ekonomi. Oleh karena itu, sangat topik jika salah satu topik diskusi dalam tadarus ini adalah perjuangan perempuan. Bukan sekedar meneladani perjuangan Kartini dalam melawan feodalisme dengan berbagai tantangannya, yang akan dijadikan teladan dan dikontekstualisasikan dalam kehidupan sekarang ini.

Tak Kenal maka Tak Sayang

Andry sebagai narasumber pertama dalam tadarus itu dalam pemaparannya, ia lebih dulu memperkenalkan biografi tokoh RA. Kartini. Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879. Beliau merupakan anak keturunan bangsawan, ayahnya seorang bupati Jepara, hingga akhirnya, Kartini menikah dengan bupati Rembang.

Diumur 12 tahun, beliau harus masuk dalam “dunia pingitan”. Walau sebenarnya, ayahnya adalah seorang yang maju dan progresif namun, semua harus dijalani karena adat. Walau, pada akhirnya Kartini harus tetap dipingit dan tidak diberi kesempatan untuk berpendidikan tinggi.

Selama dipingit, Kartini rajin menulis. Beliau menulis dan mengirim surat pada teman-temannya. Kartini mengemukakan uneg-unegnya tentang perempuan, keinginannya untuk terus belajar, meraih pendidikan. Beliau ingin kebebasan dalam berpikir terbebas dari kungkungan patriarki. Sehingga, Kartini menjadi perempuan emansipatoris .

Andry lebih lanjut mengatakan bahwa, bagi Kartini, manusia itu sama, baik laki-laki dan perempuan itu sama. Dari sisi keislaman, Kartini mengatakan manusia itu sama di hadapan Tuhan, Allah. Manusia memiliki kreatifitas yang sama dan kebebasan yang sama. 

Kartini kemudian mempertanyakan, mengapa ia (perempuan) harus dikungkung sehingga aktifitasnya dan perempuan lainnya menjadi mati lebih-lebih perempuan yang hidup di dalam keraton atau kerajaan.

Kartini pun berdialog melalui surat dengan teman-temannya di Belanda. Awalnya Kartini yang hanya ingin mencurahkan perasaan hatinya, kemudian menjadi meratapi nasibnya sebagai seorang perempuan yang tidak memiliki manfaat sedikit pun.

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak kuketahui apa manfaatnya, aku tidak lagi membaca Al Quran dengan bahasa asingnya yang tidak kumengerti.”

Kemudian ada surat yang redaksinya kurang lebih seperti ini: 

"Mengenai agamaku, Islam, aku tidak tahu mengatakan apa. Aku beragama Islam karena nenek moyangku beragama Islam. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan."

Namun, ketika beliau bertemu dengan Kiai Soleh Darat,  pola pikir Kartini berubah. Beliau pun menjadi mengenal agamanya dengan baik dan belajar menjadi pemeluk agama Islam yang baik karena telah mendalami makna spiritualitas.

Kemudian Andry melanjutkan, bagaimana “mengenal” Kartini saat ini? Adalah mempelajari sejarah pergerakan Kartini yang melawan patriarki, dominasi laki-laki yang kurang diajarkan kepada generasi-generasi selanjutnya. Sehingga, tidak ada lagi penindasan dari yang kuat ke lemah. Dari yang kaya ke yang miskin dan sebagainya.

Di era pandemi saat ini, perempuan tidak hanya di kasur, sumur, dapur, tapi harusnya ada yang lebih yaitu, pengetahuan, pendidikan. Kartini adalah pejuang yang tangguh, ibu yang kuat dengan jiwa sosialnya untuk keluar dari dominasi laki-laki.

Mengapa kemudian Kartini?

Pembicara kedua ibu Profesor Ruhaini diawalnya mengatakan bahwa undangan dari Maarif Institute adalah sesuatu yang tidak bisa ditolak, apalagi ke Maarif Insitute adalah panggilan jiwa. 

Menurut ibu Ruhaini, ada tiga hal yang ingin saya disampaikan di sini yaitu, Kartini, Ramadan, dan pandemi. Bagaimana menempatkan Kartini di dalam sejarah Indonesia, apa saja sebetulnya substansi dari semangat Kartini, ketika direlefansikan dengan tantangan hari ini. 

Kartini adalah sosok multidimensial. Banyak gugatan terhadap Kartini, mengapa Kartini yang menjadi "pahlawan". Padahal, kita punya banyak tokoh seperti:  Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Marta Christina Tiahahu, Nyi Ageng Serang, dan lain sebagainya yang sebetulnya menjadi kontestasi kehadiran Kartini di panggung sejarah. 

Namun, tanpa mengurangi kepahlawaan tokoh-tokoh yang lain mengapa kemudian kartini? Karena kartini menulis, dan sebagian yang lain menjadi legenda.

Oleh sebab itu, yang menjadikan Kartini menjadi fenomenal dalam sejarah adalah otentitas dari apa yang dilakukan oleh Kartini. Kartini betul-betul otentik, Keotentitasan dari Kartini dengan otobigrafinya dari kumpulan tulisan-tulisan Kartini yang menggambarkan pemikiran-pemikiran, kekecewaan, dan sebagainya yang memberikan pelajaran. Intinya menulis mendukung keotentikan Kartini.

Dari sini kita bisa  melihat bahwa Kartini menulis, itu posisioning atau posisinya dari Kartini. Kartini adalah pahlawan, beliau kalah dari apa yang diperjuangkannya. Seperti pahlawan yang lain yang gugur memperjuangkan apa yang diinginkannya. Medan perang bagi Kartini adalah kehidupannya.

Lanjut ibu Ruhaini mengatakan, satu hal yang perlu digaris bawahi di sini yang berkaitan erat dengan bulan ramadan yaitu pentingnya dengan apa yang disebut dengan Iqra atau membaca. 

Membaca memiliki pasangan yaitu menulis. Islam dan agama-agama yang lain mengajarkan kepada kita itu untuk membaca dan menulis. Dan Kartini memiliki itu.

Kemudian, profesor yang menjadi staf presiden ini melanjutkan, berbicara mengenai poligami yang dihadapi Kartini. Saya ingin bercerita ketika hidup di Jepara, kisah hidup Kartini menjadi ownership pada masyarakat sekitar. Oh, iya, saya ingin mengajak terutama kaum muda, milenial untuk melihat film kartini yang disutradarai oleh Suman Jaya yang otentik.

Film ini tidak hanya berdasarkan dari buku Armin Pane, atau tulisan dari cicit Kartini, Sulistiani, namun, juga dilakukan secara riset berdasarkan wawancara dengan murid-murid Kartini.  

Di film ini lebih mengedepankan kontradiksi kehidupan kartini, Kartini perempuan yang priyayi (ningrat) yang tidak bisa keluar rumah. Walau sebenarnya, bukan ayahnya yang progresif itu mengurungnya, namun masyarakatnya, dan ibu tirinya.

Perlawanan Kartini terhadap poligami dilakukan dengan caranya sendiri. Namun, dia tidak melawan secara terbuka kepada ayahnya.

Perlawanan Kartini dilakukan secara personal, menerima istri atau selir dari suaminya. Dan juga perlawanan secara simbolis dengan memisahkan tidurnya, pisah ranjang dengan suaminya. Kartini tidur di ruang belajarnya.

Saat itu, Kartini gugur dalam patah hatinya pada hidup. Sehingga, Kartini lama tidak menulis dalam waktu yang cukup lama. Bagi kartini menulis adalah kehilangan nyawa. Nyawa dia adalah menulis. Beberapa sesaat sebelum wafat, dia pun menulis.

Kartini merasa berat menghadapi semua. Kita menempatkan Kartini sebagai pahlawan dari apa yang diperjuangkan. Pahlawan adalah orang yang kalah dari apa yang diperjuangkan.  Gugur dari apa yang diinginkan, dicita-citakan.

Kemudian, lebih lanjut, ibu Ruhaini mengungkapkan bahwa, di pandemi ini, kita perlu merefleksikan ketangguhan, dan  kepahlawanan Kartini. Apalagi banyak beban ganda dan berlebihan, yang dihadapi oleh perempuan. Mereka bekerja dari rumah, sekaligus belajar bersama anaknya.

Terakhir, semoga spirit, energi Kartini, dan dari pahlawan-pahlawan lainnya yang harus kita sadari bahwa (kebesaran) bangsa ini bukan sesuatu yang datang begitu saja, namun, dari berbagai perjuangan baik fisik dan non fisik (pemikiran).

Sampai jumpa pada serial kajian pemikiran Islam kontemporer lainnya.