Objek wisata Rammang-Rammang, Salenrang, Maros, Sulawesi Selatan dibuka pada tahun 2013 setelah melalui perjuangan panjang. Masyarakat Rammang-Rammang berjuang agar tempat ini bisa punya "keberlangsungan hidup" yang lebih lama dengan jalan pariwisata di tengah-tengah sesuatu yang ingin mematikannya, tambang. 

Perjuangan masyarakat sekitar karena ikut ditolong oleh orang-orang luar. Termasuk peneliti dari Australia yang datang meneliti kawasan ini lalu menuliskannya ke media tentang kawasan yang terbaik di dunia ini. Kemudian, banyak pihak yang berjuang agar kawasan ini masuk dalam Geopark-nya UNESCO. 

"Pegunungan karts terbaik di dunia setelah China adalah Rammang-Rammang." Begitu kata bapak Ridwan seorang tukang perahu yang mengantarkan kami masuk di kampung karts Rammang-Rammang sekaligus menjadi guide bagi kami. Ia begitu memukau, menerangkan berbagai hal, mengeluarkan ilmunya tentang kawasan Rammang-Rammang yang sangat unik. 

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa wisatawan datang ke Rammang-Rammang karena ingin mendapatkan (wants) kepuasan ketika merasakan pelayanan terbaik selama di sana. Kemudian, mereka juga membutuhkan (need) sesuatu yang spiritual seperti melihat pemandangan karts kemudian mengagumi ciptaan Tuhan karena mendapati wajah Tuhan ada di sana. 

Hal ini sesuai dengan ayat dalam Al Quran, surah Al Baqarah ayat 115; Dan milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh Allah Maha luas, Maha mengetahui.

Rasanya kami dipandu oleh seorang dosen merangkap peneliti dari pusat penelitian negara yang hidupnya penuh filosofi. Pengalamannya dalam dunia pariwisata dan perhotelan di nusantara membuatnya kaya. Ia pun mengantar berbagai macam karakter orang membuatnya banyak disukai orang. 

"Saya juga menemani imam besar saat berkunjung ke sini." Katanya lagi.

Aku dan adik-adikku yang duduk santuy, menikmati teh hangat di gazebo kayu saling berpandang-pandangan dan berpikir, imam besar siapa ini? Apakah ia yang suka lari dan ingin bersembunyi di tempat yang sunyi dan damai ini?

"Imam besar siapa pak? Professor Nasruddin Umar?" Tanya Arfah tiba-tiba.

Pak Ridwan menjawab, iya, imam masjid besar masjid Istiqlal.

"Alhamdulillah kalau beliau. Ia imam kami." Jawab Arfah lagi.

Kami semua tertawa, kami kira imam besar siapa.

Arkeolog yang tidak kesampean

Setelah puas berjalan-jalan di kampung Berua, Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan. Kami melanjutkan perjalanan menggunakan perahu lagi ke area lain di kawasan ini yaitu kampung Batu. Di sana, kami bisa melihat goa, dan karts-karts yang indah.

Kampung Batu juga tidak kalah indahnya dengan kampung Berua. Jika di kampung Berua pemandangan banyak didominasi oleh rumah-rumah kayu tradisional dengan gunung-gunung karts, sawah, danau. Maka, kampung Batu lebih banyak dijumpai Karts di sungai, sawah, dan goa-goa.

 Aku juga sempat was-was, takut ada ular di semak-semak, rumput, dan batu-batu yang kami lewati. Namun, pak Ridwan yang kutaksir umurnya sekitar 60 tahun saja sangat kuat dan bersemangat mengantar kami dan menjanjikan kami sesuatu yang indah. Walaupun tanah yang kami pijaki sangat becek dan tergenang lumpur setinggi 10 cm, kami tetap semangat berjalan tanpa alas kaki.

Akhirnya, kami tiba di sebuah goa yang indah tapi saat itu lagi digenangi air setinggi betis lagipula hari sudah menjelang sore. Kami tak jadi susur goa yang kata pak Ridwan sejauh 1 KM itu. Kami hanya mengabadikan goa dengan berfoto-foto di depannya. 

Cita-cita kami menjadi arkeolog dadakan belum  kesampean hadir di sini. Namun, pak Ridwan bilang, jika musim kemarau, datanglah kembali, kita akan menyusuri goa batu ini, goa 1000 pintu, dan goa leang-leang.

Lebih lanjut ia berkata, jika goa batu bisa disusuri sepanjang 1 KM, goa 1000 pintu cantiknya dua puluh (20) kali lipat dari goa batu karena memiliki stalaktit yang indah. Dan goa leang-leang merupakan tempat dimana ditemukan gambar babi gendut di dinding goa yang diprediksi sebagai gambar cadas figuratif tertua di dunia yang dibuat sekitar 45.500 tahun silam

Aku bersyukur, berarti peradaban di negeri kita sudah sangat tua. Ditambahkan pak Ridwan kawasan pegunungan karts ini ada setelah terjadi gempa tektonik ribuan tahun silam dari dalam laut yang membuat mereka muncul ke permukaan, daratan. Kawasan karts Maros-Pangkep-Bone diperkirakan menjadi tempat hunian masyarakat pemburu yang sangat nyaman. (lihat juga Rahasia Seniman Pertama, National Geography Indonesia edisi 02.2021).

Lalu, kami mengitari area itu, kami mendapati banyak aliran air, sungai, sawah yang di kelilingi oleh Karts. Sungguh, pemandangannya sangat unik. Di bagian lain kami juga melihat rumah dari kejauhan dan melihat anak-anak kecil bermain di sekitar bukit-bukit karts. 

Bahagianya, mereka masih dapat menikmati anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi kampung mereka. Di mana kampung mereka sangat rawan dieksploitasi padahal kampung ini bagusnya dieksplorasi.

Ayo ke Rammang-Rammang. Siapa yang mau ikut berpetualang bersamaku?