Urusan tonton-menonton adalah kegemaran lama manusia yang kini telah terfasilitasi oleh sebuah benda bernama televisi. Dibanding saluran lain, televisi punya paket yang lebih komplet. Ia menawari kita dua hal yang bisa dinikmati sekaligus, yakni audio-visual.

Ketimbang membaca koran dan menerka adegan sendiri di kepala, banyak manusia lebih suka mendengar dan melihat langsung sajian gerak gambar, daripada harus puas dengan radio—suara yang tak kelihatan rupa pengucapnya.

Di Indonesia sendiri, TVRI adalah stasiun televisi pertama yang dibidangi langsung oleh negara. Kali pertama mengudara pada 24 Agustus 1962, dengan siaran pesta olahraga ke IV Asean Games. Saat itu televisi berfungsi sebagai media informasi, tak lebih dari sekadar peliputan berita atau produk jurnalistik yang berupa video. 

Seiring waktu berjalan, TVRI beroperasi dengan macam-macam program tayangan. Hampir semua yang dibingkai oleh TVRI adalah acara-acara nirkeburukan. Citra positif negara dipoles. Tak jarang TVRI disebut sebagai alat propaganda negara.

Pasca Orde Baru, barulah kemudian bermunculan stasiun televisi swasta yang bersifat komersial, di antaranya RCTI, SCTV, TRANS TV, ANTV, NET TV, dan masih banyak lagi. Kehadiran televisi swasta seolah menambah fungsi lain dari televisi.

Selain media edukasi dan propaganda yang menjenuhkan, ia juga berfungsi sebagai media penghibur yang tentu saja segar. Televisi swasta menyuguhkan varian menu. Ia menyumbang lebih banyak jenis tontonan kepada publik.

Berdasarkan kategorisasi, setiap stasiun televisi umumnya menayangkan beberapa acara hiburan, seperti film, musik, kuis, reality show, talk show, dan sebagainya.

Karma Balik: Potret Buram Tayangan Televisi Kita

Kita bisa sepakat, beberapa program siaran televisi mengandung sisi positif, sayangnya lebih banyak yang tidak. Tanpa harus disebutkan, masing-masing dari kita, saya yakin, punya preferensi mengenai tayangan yang baik dan yang buruk. 

Hal sederhana yang dapat menjelaskan merebaknya fenomena itu, ada pada satu kata: industri. Industrialisasi dalam televisi sama halnya dengan satu program adalah sebuah perputaran bisnis. Konsekuensi logisnya, yang dipertaruhkan tak lain adalah mutu siaran itu sendiri.

Sebagai sebuah media, cara kerja televisi persis seperti lembaga ekonomi yang mengapitalisasi pasar secara digital. Disadari atau tidak, hubungan antara penonton dan pihak televisi adalah sebagaimana mekanisme pasar pada umumnya.

Dalam konteks ini, penawaran adalah produk atau jasa yang disediakan oleh produsen kepada konsumen. Produk utama perusahaan media termasuk televisi adalah konten atau yang disebut program tayangan.

Dan memang, kotak ajaib kecil yang berwarna itu lebih dari apa yang kita bayangkan. Ia punya banyak keajaiban. Di antara sekian banyak, salah satu di antaranya melalui acara Karma Balik, yang tayang di stasiun televisi ANTV, sepekan dua kali pada Kamis-Jumat. Dengan durasi waktu sekira 150 menit.

Sebenarnya Karma Balik adalah persalinan wajah dari program sebelumnya, yakni Karma, yang sempat dihentikan oleh KPI Pusat. Semula, Karma dibawakan oleh aktor film-film horor Roby Purba yang bertindak selaku pembawa acara dengan Roy Kiyoshi, yang digadang-gadang sebagai indigo, menjadikan tayangan tersebut makin pas dengan konsep mistisisme yang diusung. Setelah berganti nama Karma Balik, kini posisi host digantikan oleh Ichsan Akbar.

Dalam setiap episode, ada 31 partisipan dengan tanggal lahir yang berbeda. Mereka berada di tribun, nantinya akan dipilih 1 orang secara acak oleh Roy Kiyoshi. Mereka dipilih berdasarkan insting si anak indigo. 

Setelah itu, partisipan naik ke panggung utama untuk menceritakan persoalan pelik hidup mereka, mulai dari pesugihan, terjerat utang, KDRT, perselingkuhan dalam rumah tangga, sampai dengan menjadi korban guna-guna.

Pengakuan demi pengakuan partisipan diolah sedemikian rupa melalui kemampuan supranaturalnya. Roy Kiyoshi beratraksi seperti melakukan penerawangan.

Mengutip dari laman website, “Acara Karma Balik membawa Roy Kiyoshi mengungkap dan membebaskan jiwa yang terbelenggu dari jeratan rantai yang tak kasat mata.”

Di balik itu semua, pesan yang hendak acara ini sampaikan: segala yang buruk akan berakibat buruk bagi manusia, dan itulah yang dimaksud dengan Karma.

Secara kategorisasi, Karma Balik adalah jenis acara reality show. Selayaknya sebuah pertunjukan, penonton kerap disuapi drama-drama berlebihan, sekalipun kita tahu hal tersebut tak jarang berangkat dari realitas atau kenyataan. 

Namun, bukankah kita cukup pintar untuk mencerna, apa yang ditampilkan oleh Karma Balik adalah proses pasca produksi atau hasil olahan realitas atau realitas kedua, atau dalam bahasa yang sederhana, settingan.

Alih-alih memperbanyak tayangan yang mencerdaskan, stasiun televisi justru berebut formula untuk menggapai rating setinggi mungkin. Karma Balik hanyalah satu fragmen kecil yang memotret betapa buramnya kualitas siaran yang dihasilkan oleh industri televisi kita. Kadang-kadang seksisme dan unsur pornoaksi lainnya juga dibalut, dihidangkan dalam kemasan cerita.

Pelanggaran Karma Balik

Sebenarnya, semenjak awal, program ini memang bermasalah. Dari format acara saja, ANTV harus membeli ide dari televisi Thailand. Hal ini menunjukan kreativitas yang miskin atau televisi memang tidak pernah mau ambil pusing soal begituan. 

Membuat konten berkulitas, mungkin saja banyak waktu dan pikiran akan terporsir, dan membeli program adalah jalan pintas. Barangkali demikian jalan pikiran dunia pertelevisian.

Terlepas dari itu semua, Karma punya banyak cara agar tetap bisa berkelindan dan selamat dari jerat KPI. Sebagaimana yang sempat disinggung di atas, program ini berganti nama menjadi Karma Balik untuk melanjutkan bisnisnya. Tak sampai di situ, demi mengakali regulasi, pihak ANTV juga mengubah jam tayang, yang semula pukul 20.00 menjadi 22.30 WIB.

Atas usahanya itu, pertanyaan yang layak untuk kita ajukan, masihkah Karma Balik berulah?

Untuk mendapati jawaban atas pertanyaan di atas, kita dengan sangat mudah mengidentifikasi tiap potongan dalam tayangan Karma Balik. Mari kita bedah.

Misalnya saja, episode yang dimuat pada 7 Februari 2020 mempertontonkan adegan seorang perempuan muda yang meminum darah ayam cemani. Tidak sampai di situ, bahkan partisipan sempat mengeluarkan pengakuan bahwa ia juga meminum sperma demi memenuhi syarat.

Konteksnya adalah, partisipan terikat perjanjian dengan iblis. Ia diharuskan untuk memakai susuk agar terus terlihat cantik, sehingga lawan jenis akan mudah tertarik.

Atau dalam episode dengan tajuk “Sesajen untuk Kuntilanak” yang tayang pada 6 Maret 2020. Partispan yang seorang pria pengangguran terlibat konflik dengan istrinya. Sang istri memaki suaminya ketika menyadari suami berbohong dan memakai cara-cara yang tidak baik.

Ada banyak sekali episode yang bermasalah dalam tayangan Karma Balik, namun hampir semua menampilkan racauan yang sama. Semua permasalahan partisipan dibungkus unsur mistisisme. 

Tayangan dalam Karma Balik mengarah pada pornografi, sensualitas, kekerasan, juga segudang persoalan lain. Jelas, hal tersebut melabrak norma yang berlaku, di antaranya kesopanan dan kesusilaan.

Tinjauan Etika atas Pelanggaran Karma Balik

Stasiun televisi bukanlah pihak tunggal. Ia tak bisa semena-mena menentukan tayangan. Ada ambang syarat yang harus dipenuhi juga dipatuhi. Setiap program siaran harus berpijak pada regulasi yang telah ditetapkan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) adalah sebuah lembaga independen yang mengurusi itu.

Berdasarkan hasil amatan penulis, Karma Balik sudah sangat sering melanggar kode etik penyiaran. Tayangan-tayangan mereka tidak senapas dengan semangat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS).

Pasal-pasal yang dilanggar, di antaranya: Pasal 1 ayat (27) mengenai adegan mistik dan supranatural, dan (28) mengenai kehidupan pribadi yang berkaitan dengan permasalahan rumah tangga.

UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran BAB IV Pasal 36 ayat (1) yang berbunyi: “Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.”

Kita tahu, setiap tayangan dalam televisi tidak mungkin bebas nilai. Hal itulah yang rentan untuk menstimulus penonton, melakukan adegan-adegan serupa dalam praktik keseharian mereka.

Jika demikian, beranikah kita untuk sekadar menegaskan bahwa program tayangan Karma Balik dan sejenisnya tak ubahnya seperti ampas dunia hiburan? Paling tidak dengan cara seperti ini kita menggugat.