Manusia mengalami banyak hal dalam hidup. Namun terdapat suatu pengalaman yang memberi kesan luar biasa dan menjadi sebuah refleksi yang bahkan mengubah cara pandang (world view) kita terhadap dunia. Satu diantara pengalaman tersebut ialah kematian.

Kematian yang dibahas di sini bukan tentang kehidupan setelah kematian. Kita akan menyorot kematian dari sudut pandang eksistensialisme, terkhusus oleh Karl Jasper.

Karl Jasper (1883-1969) ialah seorang filosof berkebangsaan Jerman. Ia bisa kita kategorikan ke dalam filosof eksistensialisme, meski sebenarnya ia menaruh perhatian di beberapa bidang lain seperti ilmu kedokteran dan psikitri.

Namun, sumbangsih Jasper terhadap perkembangan filsafat juga cukup besar terkhusus di Jerman. Adapun beberapa filosof yang mempengaruhi pikirannya ialah Immanuel Kant, Nietzsche, Kierkegaard, dan Max Weber.

Karya pertama Jasper berjudul Psikopatologi Umum secara khusus menjadi batu loncatan menuju pemikiran yang lebih matang, ialah filsafat eksistensi. Di sini ia mendeskripsikan situasi para pasien yang mengalami gangguan psikologis.

Dalam karya tersebut ia hendak melihat apa yang dialami dan rasakan oleh para pasien, serta berbagai sikap yang diambil terkait kehidupan.

Sebagai contoh adalah seorang pengidap mental illness (psychosis), sebut saja si A mengalami gejala halusinasi. Pertama-tama, ia membedakan antara form dan content. Apa yang dilihat oleh si A disebut content, dan ketidaksesuaian antara persepsi dan obyektivitas disebut form.

Bagi Jasper apa yang penting ialah memahami form. Memahami form berfungsi untuk memasuki dunia eksistensi si A. Alih-alih menyorot delusi yang dilihat oleh pasien, mendasari pencarian dari apa yang dipercaya dirasa lebih penting.

Dari penjelasan ini, kita mengetahui bahwa pemikiran Jasper sebenarnya mengarah ke persoalan eksistensi, ialah sikap manusia terhadap kehidupan. Selanjutnya, ia akan menggali pemikiran filsafat eksistensinya lebih jauh dengan menyebut konsepnya dengan Existenzerhellung (penerangan eksistensi).

Tentang Manusia dan Eksistensi

Dalam karya berjudul Philosophie bagian kedua ia beri subjudul ‘Penerangan eksistensi’. Secara khusus bagian ini menguraikan tentang bagaimana manusia bisa memasuki diri atau eksistensinya. Dengan kata lain memahami kebebasan dirinya.

Kata eksistensi sendiri umumnya dikaitkan dengan aliran filsafat eksistensialisme, ialah teori filsafat tentang kebebasan individu yang didorong oleh kehendak atau otentisitas diri. Kebebasan di sini berbeda dengan bersikap individualis yang tidak mementingkan urusan orang lain.

Kebebasan dalam eksistensialisme justru bersikap intersubyektif, artinya kebebasan yang dimaknai lewat pertemuan dengan subyek lain di mana terdapat konsekuensi dan tanggung jawab yang mengikutinya.

Jasper sendiri memperoleh pengalaman eksistensial pertama kali ketika ia menginjak umur 18 tahun. Akibat penyakit yang tertentu, ia mengalami apa yang kelak ia sebut dalam konsepnya sebagai “situasi-batas” (boundary situations). 

Situasi batas ialah pengalaman hidup yang tidak bisa dihindari oleh manusia seperti kematian, penderitaan, kebersalahan, dan sebagainya. Mengalami, menghayati, dan mengatasi situasi itu dengan baik adalah cara mendasar untuk memaknai kehidupan.

Jasper memberi perbedaan antara dimensi empiris dan non-empiris dalam diri manusia. Dimensi empiris ialah bagian dari manusia yang bisa dipahami melalui penelitan sains (seperti: biologi, psikologi, dan sosiologi). Sedangkan dimensi non-empiris tidak bisa dipahami dari segi sains melainkan melalui pendekatan hermeneutik-psikologis atau refleksi filosofis.  

Lebih jauh, berdasarkan realisasi diri (self-realisation) ia membagi manusia ke dalam empat dimensi, yakni vital existencence (eksistensi vital), consciousness in general (kesadaran secara umum), geist (reason, spirit, atau akal budi), dan Existenz (eksistensi).

Di sini saya tidak akan berfokus pada dimensi terakhir saja.

Dimensi terakhir yaitu existenz merupakan bagian terpenting karena menyangkut sisi eksistensial manusia. Ketiga dimensi selain existenz masih bergantung pada sesuatu dari luar atau bersifat empiris, lain halnya dengan existenz yang bersifat non-empiris.

Existanz menjelaskan tentang tahapan realisasi diri tertinggi manusia yang bersifat non-empiris, otentisitas paling dasar, otonomi personal, kebebasan eksistensial, dan keputusan moralitas. Sedangkan diri yang bersifat empiris disebut Dasein.

Dasein di sini tentu saja berbeda konsep dari Martin Heidegger. Dasein bagi Jasper ialah mode ber-Ada secara empiris –merepresentasikan diri secara konkrit, fisikal, dan sosiologis. Mode ini belum cukup untuk memahami ada secara transenden.  

Sedangkan bagi Heidegger, Dasein  ialah pembeda manusia dengan benda-benda. Dasein dicirikan sebagai eksistensi dan berada dalam dunia. Ia tidak membedakan antara dasein dan eksistensi.

Existanz ialah aku yang bersifat unik dan sama sekali tidak objektif. Ia dapat dipahami dengan penghayatan atas kehidupan melalui refleksi filosofis. Jadi, existanz merupakan dimensi non-empiris dan dasein merupakan dimensi empiris manusia.  

Kematian sebagai Situasi-Batas Manusia

Kematian merupakan situasi yang tidak terhindarkan. Kita selalu terikat pada situasi itu betapa besarpun aktivitas yang kita lakukan untuk menghindarinya. Situasi batas hanya mampu dibuka oleh eksistensi. Situasi ini ia sebut sebagai situasi batas (Grenzstuation)

Jasper sendiri mengatakan bahwa, “mengalami situasi batas dan ber-eksitensi adalah hal yang sama”. Seseorang yang hidup secara eksistensial ialah ia yang berefleksi atas situasi-batas, ia tidak menutup mata pada kemungkinan-kemungkinan akan kematian.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk merefleksikan kematian, misalnya, kematian orang terdekat atau diri kita sendiri. Kematian membuat kita merasa sedih dan takut. Namun lebih dari itu, ia juga menyempurnakan eksistensi dengan mendorong kita untuk hidup lebih otentik.

Segala hal yang eksis di sekitar manusia tak terkecuali manusia itu sendiri bersifat tidak sempurna, tidak cukup, dan serba kontingen. Alih-alih kebenaran dan kebaikan, begitu banyak kebohongan dan kejahatan yang kita temui.

Kita tidak bisa menghindari kenyataan tersebut. Namun apakah kehidupan masih layak untuk diafirmasi? Jawabannya tentu saja ‘iya’.

Kita merasakan ketertindasan oleh kapitalisme, diskriminasi gender dan rasial, perdebatan politik menjenuhkan, relasi pertemanan dan percintaan yang terkadang toxic, dan sebagainya hampir setiap saat.

Menurut Jasper, satu-satunya jalan untuk mengatasi keinginan kita yang tidak ada habis-habisnya untuk memberontak pada kehidupan ialah melalui resignation (pengunduran diri atau kepasrahan), yakni menerima kehidupan apa adanya.

Dengan demikian, manusia dapat mengindari rasa benci yang kuat atas kehidupan kemudian mengakui bahwa hidup telah terberi begitu saja dan kita sudah siap untuk menerima segala absurditas di dalamnya.  

Hidup otentik berarti terlepas dari jeratan apapun sehingga mereduksi kemungkinan-kemungkinan manusia untuk mengada. Singkatnya usia manusia tidak lantas membuat ia membohongi diri bahwa sesuatu itu adalah takdir yang melekat pada dirinya.

Eksistensi adalah kebebasan yang perlu diisi. Seorang filosof Cina, Laozi, menganalogikan manusia sebagai sebuah wadah. Konsepnya disebut kosong dan penuh. Manusia perlu memahami kapan ia harus mengisi dan mengosongkan dirinya.

Jika wadah itu selalu penuh, ia tidak bisa terisi. Apabila ia selalu kosong, wadah itu akan kotor dan berlumut. Karena itu manusia perlu mengisinya dengan hidup yang otentik, hidup bebas yang tahu batas.