Karier merupakan kebutuhan yang harus terus ditumbuhkan dalam diri seseorang. Pengembangan karier harus dilakukan melalui penciptaan kesempatan melalui kerja, karya, dan prestasi.

Karier merupakan bagian dari perjalanan dan tujuan hidup. Setiap orang berhak dan berkewajiban untuk sukses mencapai karier yang baik, itulah obsesi. Dalam menekuni karier/bidang pekerjaan tentu memiliki suka duka tersendiri.

Pengalaman 18 tahun menjalani pekerjaan sebagai dosen, suka dan duka telah dilewati. Terima kasih tulus dari mahasiswa atas ilmu atau keberadaan saya di dunia kampus menjadi pengalaman paling berkesan yang dirasakan selama bergelut di dunia pendidikan tinggi.

Tidak pernah terpikirkan sejak bangku sekolah dulu menjadi seorang dosen. Tidak pernah juga membayangkan sebelumnya profesi dosen inilah yang juga membentuk kepribadian dan kebahagiaan yang saya rasakan saat ini.

Bagi saya, profesi dosen adalah pengabdian dan karya yang dibarengi dengan dedikasi dan keikhlasan. Profesi dosen membuat kita “kaya” akan banyak hal. Mapan dalam penghasilan hanyalah sebagian kecil dari berkah mulia lainnya. Punya banyak relasi dan koneksi dengan berbagai macam stakeholder seperti pemerintah dan swasta dari dalam ataupun luar negeri.

Bisa kenal dan menjalin silaturahmi tanpa batas dengan puluhan ribu mahasiswa. Mendapat kesempatan berkarya dalam pemenuhan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara berkala sangat mendewasakan diri.

Saya senang setiap mengajar dan membimbing mendapatkan sebuah ungkapan yang tulus dari peserta didik atas perbuatan yang saya lakukan. Hal-hal itu yang tidak akan mungkin saya lupakan, sekaligus membuat saya tetap semangat berbagi ilmu.

Dosen harus menjadikan ilmu sebagai ladang ibadah dan kontribusi nyata sebagai pendidik yang berintegritas. Melalui profesi ini bisa hadir segudang kesempatan di kehidupan kita.

Sebut saja ada kesempatan untuk menjadi pembicara, ikut workshop/pelatihan gratis, jaringan pertemanan yang makin luas, kesempatan untuk mengenal banyak karakter manusia sebagai ajang pembelajaran, dan masih banyak kesempatan baik lainnya.

Menjadi dosen tidak hanya bicara kuantitas (jabatan, peringkat, background lulusan, dan penguasaan ilmu) semata, tapi lebih mengedepankan faktor kualitas. Dosen yang amanah akan mengajar dengan persiapan yang baik, tidak hanya mengandalkan materi yang sudah usang, apalagi tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Perlu dipahami, dengan perubahan karakter mahasiswa yang berasal dari generasi millenial, dosen harus lebih mengedepankan pendekatan student-centered learning. Dosen tidak boleh “ketinggalan zaman” harus selalu “upgrade diri”.

Mempersiapkan diri secara optimal berarti menghargai profesi yang dijalani dan menghargai para mahasiswa yang kelak akan menjadi individu sukses kelak.

Ingatan mahasiswa akan dosennya akan dikenal sepanjang hidupnya, pastikan rekam jejak menjadi seorang dosen dapat menjadi “kenangan indah”, bukan malah menjadi “mimpi buruk” bagi mereka.

Dosen sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan peserta didiknya. Dosen sebagai teladan (role model) akan dicap gagal atau bahkan mendapat predikat “dosen abal-abal” kalau tidak berhasil dalam memberikan inspirasi dan transformasi diri anak didiknya.

Mendidik yang baik sepantasnya perlu dibarengi dengan hati nurani, tidak hanya mendewakan kompetensi duniawi. Perlu disadari juga bahwa tanggung jawab moral seorang dosen sebagai pendidik ada di ranah Ilahi bukan hanya memberi pencerahan teknis peserta didiknya.

Sehingga perlu direnungkan, ilmu yang disampaikan dengan hati nurani dan disertai cara penyampaian yang baik akan menjadi kebaikan mulia yang berlipat dampaknya bagi diri seorang dosen. Sementara Ilmu dengan penyampaian seadanya hanya akan menghasilkan mahasiswa robot dengan karakteristik “referral thinker“.

Ruang berpikir, daya kreativitas, dan imajinasi otak kanan akan kerdil karena stimulus yang diberikan oleh dosen tidak maksimal. Ujung-ujungnya yang disalahkan adalah mahasiswa, padahal “response” berbanding lurus dengan “stimulus” yang diberikan.

Banyak dosen yang khilaf dengan menganggap dirinya sebagai “dewa” yang memperlakukan mahasiswa sesuai kehendak dirinya, mereka terperangkap dalam situasi power syndrome, sense of intellectual arrogance, dan google syndrome (merasa paling mengetahui banyak hal).

Jean Piaget mengungkapkan, “Tujuan utama pendidikan adalah menciptakan manusia yang bisa melakukan hal baru, tidak sekadar mengulang apa yang telah dilakukan generasi sebelumnya. Manusia yang kreatif memiliki daya cipta, memiliki hasrat keingintahuan.”

Pendidikan yang sempurna lahir dari proses perubahan yang diselami dengan pendekatan “Intellectual Humility“. Mahasiswa yang ada dihadapan dosen sudah sepantasnya diperlakukan sebagai “subjek” perubahan, bukan “objek perubahan”.

Dengan memahami sudut pandang ini, maka proses transfer ilmu perlu dilakukan dengan cara, gaya, dan daya yang memanusiakan mahasiswa. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah dengan penggunaan bahasa penyampaian bahan ajar yang mudah dimengerti. Pemberian contoh bahan ajar yang dekat dengan dunia mereka dan serta situasi masa kini.

Banyak dosen yang lupa bahwa mahasiswa hadir ke dalam kelas dengan tingkat kematangan (ilmu, emosi, pengetahuan, dan kemampuan) yang berbeda. Pendekatan “grassroots” perlu dikedepankan agar bahan ajar yang diberikan mudah dipahami dan bermanfaat bagi kedua belah pihak.

Salah satu ujian terberat sebagai dosen ialah “Classroom Management“. Ini erat sekali dengan kecerdasan emosi (EQ) seorang dosen. Pintar, cerdas, dan punya latar belakang edukasi yang mumpuni tidak cukup membantu kita menjadi “dosen sukses” di dalam kelas.

Perlu adanya kemampuan khusus dalam hal penguasaan serta pengelolaan emosi dalam menguasai mahasiswa sebagai penghuni kelas. Terpancing emosi dan mengumbar kemarahan di dalam kelas akan menjadi “boomerang” tersendiri bagi dosen. Versi dosen teladan menurut saya adalah ketika ada dosen yang mampu berdamai dengan hati dan dirinya sehingga tidak sirna termakan sifat egoisme diri.

Mahasiswa adalah pengamat (observer) terbaik di dalam kelas, just make sure we can gain their heart & attention with an elegant way. Dosen perlu mahir untuk menciptakan suasana yang terbuka, santai tetapi tetap tegas dan serius. Seperti layaknya seorang “Conductor” yang memimpin suatu pertunjukan.

Our class is our own stage & it’s belong to us as a lecturer… to share, to educate, to entertain and to inspire, our best results shown by the students with their “standing applause”.

Karier dosen, cepat atau lambat, ditentukan oleh produktivitas, kemampuan, dan determinasi masing-masing individu. Makin rajin memproduksi karya ilmiah dan diterbitkan ke dalam jurnal akreditasi, makin pesat kemajuan karier seorang dosen.

Setiap “track record” dosen ada nilai ekonomi dan reputasinya, sehingga perlu dijaga dan dijalani dengan komitmen yang tinggi. Dosen teladan selayaknya harus punya panggilan untuk lebih melayani tugas Tridharma perguruan tinggi yang kuat, penuh komitmen dan disiplin.

#SemogaBermanfaat #KeepSpirit @MajuTerusPendidikanTinggiIndonesia