"Kamu kok nggak peka, sih?"

Mungkin kita sudah tidak asing mendengar kalimat tersebut, yang seolah-olah menuntut kaum pria untuk selalu mengerti keadaan wanita. Lantas, mengapa wanita ingin dimengerti?

Sering saya amati ketika ada seorang teman atau sahabat sedang mencurahkan isi hatinya, si pendengar cenderung mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya. 

Bagi pria, mendapatkan solusi adalah jawaban yang tepat. Namun, berbeda dengan wanita. Yang dibutuhkan wanita adalah didengarkan, bukan penawaran solusi, seperti, 

"Ya sudah nggak apa-apa, nggak usah dipikirin," atau "Ya kamu seharusnya begini," dan semacamnya. 

Mungkin jawaban tersebut adalah salah satu bentuk kepedulian dari si pendengar supaya wanita tersebut tidak terlalu khawatir dan juga bisa mendapat solusi atas permasalahannya. 

Namun, di sisi lain, jawaban tersebut bukan jawaban yang diharapkan sehingga bisa membuat mood wanita menjadi lebih buruk.

Di dalam rumah tangga pun, ketika istri mencurahkan isi hatinya, terkadang suami merasa bahwa istri terlalu banyak mengeluh. Karena berpikir mau menolong, sang suami kerap kali menyelanya dengan menawarkan beberapa solusi terhadap kesulitan istrinya. 

Sang suami tidak mengerti mengapa istrinya tidak merasa senang. Kesalahpahaman ini tentunya bisa berakibat hubungan antar suami dan istri menjadi tidak harmonis. Kabar buruknya, bisa berujung pada perceraian yang salah satu penyebab terbesarnya adalah komunikasi. 

Alasan Wanita Ingin Dimengerti

Bukan tanpa alasan mengapa wanita ingin dimengerti. Dalam buku "Men are from Mars, Women are from Venus" karya John Gray, Ph.D., disebutkan bahwa kaum wanita sangat menghargai cinta, komunikasi, dan hubungan. Oleh sebab itu, berbagi perasaan pribadi jauh lebih penting daripada mencapai suatu keberhasilan.

Ketika kaum wanita membicarakan masalah-masalahnya atau mencurahkan isi hatinya dengan orang lain, hal itu dimaksudkan supaya hubungan menjadi akrab, bukan semata-mata untuk mencari penyelesaian. 

Bila sedang mengalami ketegangan jiwa, secara naluriah wanita merasa perlu membicarakan perasaannya dan segala masalah yang mungkin berkaitan dengan perasaan itu, entah kesulitan, kekecewaan, kemarahan maupun frustasinya. 

Misalnya, seorang ibu lelah setelah mengurus anak dan mengurus pekerjaan rumah seharian. Sang ibu menceritakan apa yang dirasakannya dan mengeluarkan segala uneg-unegnya kepada sang ayah.

Namun, terkadang sang ayah tidak memahami alasan mengapa wanita mencurahkan apa yang dirasakannya dan cenderung berpikir untuk mencari solusi. 

Padahal, membagi kesulitan dengan orang lain merupakan bentuk cinta dan kepercayaan dari wanita, bukannya beban. Dengan mengungkapkan perasaannya, wanita bisa menjadi lebih lega dan membuat mood-nya membaik. 

Kesalahpahaman Umum

Dalam kasus antara pria dan wanita, atau suami dan istri, kurangnya pemahaman terhadap wanita membuat pria cenderung membela diri karena pria merasa sebagai pihak yang disalahkan sehingga menyebabkan pertengkaran. 

Misalnya, ketika sang wanita bercerita namun sang pria sedang asyik bermain ponselnya.

"Kamu kok nggak dengerin sih", sang pria menjawab,
"Aku dengerin kok," sambil tetap menatap layar ponselnya.

Kesalahpahaman ini termasuk yang umum terjadi. Pria yang sedang beraktivitas tetap dapat merekam apa yang dikatakan wanita, dengan lima persen pikirannya masih bisa mendengarkan. 

Pria menganggap bila ia mendengarkan lima persen, berarti ia sudah mendengarkan. Namun, kaum wanita menginginkan perhatian seutuhnya. Selain itu, sang wanita tidak merasakan kehadiran pria, walaupun secara kasat mata tubuh pria tersebut ada didepan mata. 

Hal itu dikarenakan wanita menginginkan seluruh kehadirannya, dengan memusatkan perhatian kepada wanita dan mendengarkan tanpa diselingi bermain ponsel atau aktivitas yang lain. Dalam kasus lain, misalnya,

"Duh, aku lupa ngabarin mbak Wulan kalo sore ini belum bisa ketemuan. Kerjaan kantor lagi banyak, ini aja masih belum kelar," dan sang pria menjawab,
"Yaudah lain kali aja ketemunya. Mestinya dia juga paham."

Pria menganggap bahwa berusaha memecahkan masalah adalah bentuk kepeduliannya terhadap wanita. Namun, kaum wanita menganggap bahwa mereka perlu merasakan perhatian langsung dan kepedulian dari si pria. 

Dari beberapa kesalahpahaman umum di atas, sebaiknya perlu dihindari supaya pria tidak merasa sebagai pihak yang disalahkan dan pertengkaran bisa diminimalisir.

Reaksi yang Tepat Ketika Wanita Berbicara

Ketika wanita berbicara mengenai masalah-masalahnya kepada sesama wanita, biasanya mereka cepat memahami dan mengerti apa yang dirasakannya.

Berbeda halnya dengan pria, biasanya mereka menolak untuk mendengarkan karena pria menganggap bahwa mereka sebagai pihak yang bertanggung jawab. Semakin banyak masalahnya, maka pria merasa semakin disalahkan. 

Selain itu, pria tak sabar apabila wanita bercerita mengenai masalahnya secara mendetail. Seringkali pria merasa kesal dan bingung karena wanita mengutarakan beberapa persoalan secara sekaligus sehingga sulit mencari inti permasalahan wanita tersebut.

Sebenarnya, jika pria menyadari bahwa tujuan wanita berbicara adalah untuk mencari perhatian dan pengertiannya, maka menghadapi wanita ketika berbicara atau mencurahkan isi hatinya tidaklah sulit. 

Caranya, dengarkan dengan sabar dan penuh empati, juga bersungguh-sungguh berusaha memahami perasaannya. Misalnya,

"Aku ikut sedih apa yang kamu alami sekarang,"
"Pasti berat ya dapat masalah itu, tapi aku yakin kamu bisa melewati ini semua,"

Untuk memudahkan pria, wanita bisa mengingatkan kepada pria bahwa ketika wanita membicarakan masalah-masalahnya, mereka tidak perlu memberikan solusi. Cukup didengarkan maka perasaan wanita menjadi jauh lebih lega.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk membuat wanita menjadi manja. Bukan. Namun, sebagai pelajaran bagi kita dan khususnya kaum pria, bahwa memang fitrahnya wanita adalah ingin dimengerti. 

Harapannya, kita dapat memahami bagaimana mencintai dan mendukung orang yang kita sayangi dengan cara yang lebih baik. Hubungan pun menjadi lebih mudah dijalani karena didasari dengan pemahaman yang baik tanpa ada yang saling menggurui.