Konsultan
1 bulan lalu · 20 view · 6 min baca menit baca · Lingkungan 71905_37754.jpg
Youtube.com

Karena Setiap Kita Adalah Sexy Killer

Pelajaran rantai makanan pertama sekali saya dapatkan waktu SD.  Daun jatuh diurai cacing. Cacing dimakan ayam. Ayam diterkam musang. Kadang, musang dihabisi harimau. Harimau mati meninggalkan belang. Tubuhnya membusuk lalu diurai cacing. Begitulah seterusnya. 

Kala itu, saya menerjemahkan rantai makanan sebagai siklus hidup, bukan pembunuhan, apalagi soal siapa yang paling kuat. Toh, pemangsa paling puncak, yaitu harimau, pada akhirnya diurai cacing dan ulat juga menjadi tanah. Tanah lantas subur sehingga menjadi tempat yang baik untuk rumput. Kelinci makan rumput sebelum akhirnya dimangsa harimau lagi.

Secara fisik, dalam skema rantai makanan, manusia sebenarnya berada di bawah harimau dan binatang buas lainnya, seperti gajah, hiu, serigala. Namun, karena manusia ternyata tidak semata soal fisik, tetapi lebih pada otak, manusia dengan mudah mampu membuat harimau mati, bahkan tanpa meninggalkan belang lagi. 

Dalam studi di Taman Nasional Gorongosa, Mozambik yang dipublikasikan di National Geographic, misalnya, karena sering diburu manusia, gajah bahkan sudah lahir tanpa gading. Begitulah manusia. Tubuhnya lemah sehingga akan membuatnya jadi santapan nikmat untuk harimau, hiu, singa. Namun, otaknya hebat sehingga bisa membunuh, bahkan tanpa bertemu.

Tinggal tekan tombol, harimau tiba-tiba bisa tergeletak nun jauh di sana. Berbekal "klik", hiu mati tanpa ampun. Bahkan, kompilasi nalar dan supranatural, beragam cerita kita dengar bahwa hanya bermodal bisik-bisik tanpa berjumpa, lesung bisa beterbangan untuk meremukkan apa saja. 

Belakangan, manusia tampil semakin agresif lagi. Jika sebelumnya ada suatu masa di mana manusia memuliakan dan memuja-muja binatang (Spinx, Centaurus, dan sebagainya), lalu ada pula suatu masa di mana manusia tak lagi memuliakan binatang dan sudah menganggap binatang sebagai makhluk hidup biasa, bahkan lebih rendah, kini masa sudah berubah, yaitu manusia menjadi “Tuhan”.

Semua Menjadi Mulut

Betapa tidak, saat ini manusia sudah mengolah siklus hidup hewan. Reproduksi alami direkayasa sehingga lebih cepat. Pertumbuhannya digegas segegas mungkin. Tidak hanya pada hewan, pada tumbuhan juga manusia seperti itu. Tumbuhan unik dijarah. Tumbuhan yang serasa tak berguna dibabat. Sayangnya, tingkat kepuasan manusia tak terbatas. Syahwatnya selalu bertambah-tambah. Akibatnya, dengan membabi buta, bumi pun dibor, digali, dikeruk untuk mengambil emas, tembaga, batubara, minyak, dan sebagainya. Sejengkal perutnya tak bisa kenyang oleh sekerat daging atau sekilo beras lagi.

Manusia nyata-nyata punya perut yang jauh lebih besar dan tak terduga sehingga kesehatan alam diabaikan. Jadi, jika kini bumi disebut-sebut pada fase kritis lantaran pemanasan global atau iklim berubah, itu semua adalah hoaks yang dikarang manusia. Yang sesungguhnya yang membuat bumi pada fase kritis seperti itu tak lain tak bukan hanyalah perut manusia yang tak kunjung kenyang atau mulut yang tak kunjung berhenti mengunyah. Manusia ingin lebih kenyang lagi. Maka, jadilah pencemaran lingkungan mahadahsyat, jadilah pemanasan global. Itu semua terjadi karena satu hal: mulut manusia tak kunjung berhenti mengunyah.


Pasalnya, manusia kini tak lagi punya satu mulut. Segala pancaindra manusia kini berubah  menjadi mulut. Bahkan, segala tubuh manusia kini menjadi mulut yang jauh lebih rakus dari organ mulut itu sendiri. Tembaga dimakan, emas dimakan, batubara dimakan, segalanya dimakan. Khusus batubara, misalnya, sekadar menyebut contoh, kita menjadikannya sebagai alat pemuas nafsu untuk mata, tangan, telinga, dan semacamnya. Kita tidur harus pakai AC, mandi harus otomatis, memasak dengan gampang, bahkan duduk pun harus main gawai. Hal itu semua membutuhkan listrik, bukan? Dan, listrik paling mudah didapatkan dari batubara, bukan?

Maka, jika di film Sexy Killer disebutkan ada beberapa tokoh politik dan pebisnis yang bertanggung jawab, saya kurang sepakat dengan dalih itu. Ya, mereka bertanggung jawab. Tetapi, bukankah kerakusan mereka menggali bumi adalah demi memenuhi syahwat mulut kita yang juga semakin rakus? Kita butuh listrik. Bahkan ketergantungan. Maka, jangan salah jika kemudian CO2 semakin membludak. Jangan meratap pula jika kemudian karena CO2 yang membludak itu mengakibatkan panas bumi memuncak. Jangan meradang jika panas bumi memuncak, beberapa sumber makanan kita pun kini punah tak bersisa.

Padahal, pada saat yang sama, mulut kita semakin rakus. Saya tak sedang main-main, apalagi menakut-nakuti. Lagipula, apakah manusia abad ibi bisa ditakut-takuti? Hewan buas dihabisi, bahkan Tuhan pun tak ditakuti lagi. Nah, bagaimana bisa jika konon tulisan ini akan menakutkan bagi manusia? Jadi, saya tak sedang menakut-nakuti. Saya hanya membeberkan sebuah fakta gawat bahwa karena kerakusan mulut itu, sumber pakan kita sudah banyak yang lenyap. Saat ini terdapat enam ribu varietas apel di Amerika dari tujuh ribuh seratus varietas pada abad ke-18.

Di beberapa negara, hingga tahun 2030 akan ada beragam varietas makanan yang akan punah, baik itu jenis-jenis jagung hingga kopi arabika karena naiknya suhu bumi. Di lautan, hal paling tampak adalah punahnya binatang-binatang dan komponen phytoplankton di terumbu karang yang berguna menyediakan oksigen. Jika hukum keseimbangan termodinamika di bumi tidak berjalan, di mana oksigen berkurang karena berkurangnya kemampuan phytoplankton dalam memproduksi oksigen, manusia akan terancam tercekik kekurangan oksigen. Pertanyaannya, apakah manusia hingga saat ini sedang mengalami ketakutan luar biasa akan kehabisa oksigen?


Nyatanya tidak. Alasannya, karena manusia memang tak punya rasa takut lagi, kecuali rasa takut jika tak bisa makan banyak lagi. Alasan yang lebih populis karena konon, sembari mengutip Mahatma Gandhi, karena dunia ini sangat mencukupi kebutuhan manusia. Sayang, manusia tak mengutip kalimat selanjutnya bahwa bumi ini nyatanya tak cukup untuk setiap kerakusan mulut kita. Maka, jangan heran jika meski sudah ditemukan cara paling aman untuk memproduksi listrik, misalnya, manusia tetap lebih mengutamakan batubara. Alasannya sederhana: batubara lebih murah dan simpel.

Semoga Mengerti

Ini semua hanya hilirisasi dari mazhab kita: biaya serendah-rendahnya untuk untung setinggi-tingginya. Dalam pada inilah para petambang itu, alih-alih merestorasi galiannya, mereka malah membiarkannya begitu saja: rusak secara perlahan. Sebab, mereka punya perhitungan, merestorasi area galian akan mengurangi keuntungan. Manusia paling tidak suka jika keuntungannya dikurangi, apalagi dibagi-bagi, bukan? Manusia tidak terampil untuk berbagi. Itulah sebabnya mengapa di dunia yang sama, dengan sumber daya alam kaya yang sama pula, justru ada perbedaan signifikan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya.

Satu superkaya, satunya lagi melarat. Laporan dari Credits Cuisse membeberkannya dengan dramatis: 1 persen orang terkaya dunia menguasai lebih dari separuh kekayaan dunia ini. Di Indonesia, menurut Oxfam, harta 26 orang terkaya setara dengan harta separuh warga Indonesia. Ini semua dengan terang membeberkan kepada kita bahwa ada satu yang kekenyangan, ada pula satu yang kelaparan meski di daerah yang sama persis. Ironisnya, sebagaimana dilansir detik.com, justru lebih banyak yang mati karena kekenyangan (obesitas) daripada mati kelaparan: 3 juta dibanding 1 juta per tahun. Ironis bukan?

Saya mengambil semua kenyataan di atas semata-mata hanya untuk menguatkan bahwa pada dasarnya kita semua adalah sexy killer. Setiap kita adalah pembunuh. Hampir tidak ada beda kita dengan para petambang dan pebisnis itu. Justru, petambang dan pebisnis itu sedang memenuhi syahwat dan naluri membunuh kita yang semakin memuncak. Ibaratnya, mereka hanya menyediakan senjata, dan kitalah yang memakainya. Lagipula, saya agak rada-rada yakin, jika kita pada posisi yang sama dengan para petambang itu, kita juga akan melakukan hal yang sama dengan mereka.

 Contoh kecilnya, bukankah kita sangat suka membuang sampah sembarangan? Sampai di sini, saya tidak mengerti bagaimana kita harus menyelesaikan perkara ini karena ternyata kita semua adalah pembunuh berdarah dingin? Semoga kita mengerti maksud terdalam dari ulasan singkat ini. Seharusnya mengerti. Bukankah sudah jelas ditunjukkan di awal tulisan ini bahwa manusia ada karena otaknya? Namun, pada akhirnya, karena setiap kita adalah pembunuh, saya maklum jika pada akhirnya kita pura-pura tak mengerti sehingga tahunya hanya mengkritik yang besar, lalu ketika kita besar, kita lupa pula akan kritik itu.

Artikel Terkait