Belum lama ini saya memaksakan diri membeli buku yang saya pesan via online. Memaksakan diri karena sebenarnya isi dompet sedang pas-pasan.

Buku itu saya pesan setelah melihat postingan salah satu penulis kenamaan yang merekomendasikannya sebagai "buku wajib baca" di media sosial Facebook. Saya membeli tiga buku sekaligus.

Pada masa lalu, saya banyak membaca buku, saya meyakini bahwa bacaan adalah "jendela dunia" yang membawa saya ke pertemuan-pertemuan gagasan, kisah hidup, pengetahuan hingga ke wacana-wacana intelektual. Tak cuma buku, saya juga rajin membaca artikel  - at least, one day one article - dari pelbagai media online yang saya anggap kredible.

Namun seiring berjalannya waktu, entah kenapa, minat saya pada buku sirna seketika. Bahkan, sekira setahun belakangan ini saya belum (lagi) menambah referensi bacaan dari buku. Lebih tepatnya, tidak pernah baca buku.

Hal ini bukan sebab aktivitas saya yang padat atau sibuk, namun karena saya seperti orang yang sedang linglung dalam pergulatan, entah itu intelektual, entah itu spiritual, seperti kehilangan identitas diri.  

Saya yang sedang terombang-ambing dan bersikeras sedang berusaha mencari identitas diri, tiba-tiba terseret njebur ke dunia politik praktis. Berawal dari seorang kawan yang ujug-ujug datang, lalu mendorong saya untuk maju menjadi calon anggota legislatif (caleg) di Pileg 2019 lalu. 

Karena sedang linglung, tanpa banyak perhitungan, saya pun memberanikan diri maju menjadi caleg. Alhasil, sebagaimana sudah diprediksi banyak orang, saya kalah dalam pertarungan politik itu.

Selepas pencalegan, saya makin terombang-ambing dalam pencarian identitas diri yang sempat terhenti karena keriuhan politik. Tak sedikit yang mengira saya akan stress akibat kalah dalam kontestasi politik lima tahunan itu. Alhamdulillah, perkiraan banyak orang itu meleset.

Hingga pada suatu ketika, belum lama ini, secara tak sengaja saya membaca (lagi) ungkapan seorang sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, yang muncul di laman Facebook saya.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

Ungkapan Pram yang populer itu saya baca berulang kali dan di kemudian hari saya sadari telah memberi saya lecutan kebahagiaan yang memberi arah serta gambar besar ihwal akar identitas diri saya yang sebenarnya. Saya harus kembali menulis! It's my passion! Gumam saya.

Sialnya, setelah sekian lama tak menulis, mungkin karena efek terjun ke dunia politik yang katanya "kotor" itu, saya kesulitan untuk sekadar memulai menulis walau barang satu paragraf. Saat tengah duduk bersila menghadap laptop - dalam waktu yang lama - untuk mencoba menulis sesuatu, tak sepatah kata pun yang berhasil saya tulis. 

Ketika akan menulis sesuatu, saya segera sadar bahwa apa yang akan saya tulis itu tidak memiliki kekuatan argumentasi.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk tidak menulis dulu, tapi pelan-pelan mulai membaca buku dan artikel. Sulit? Iya. Memulai sesuatu yang sudah lama terhenti itu sulit. Bahkan untuk menulis sebuah kata untuk mengawali sebuah artikel susahnya luar biasa. 

Kadang muncul godaan untuk berhenti, takut bacaaan tidak dilihat oleh orang banyak dan bahkan tidak bisa menulis seperti yang dulu membuat niat saya untuk menulis kembali berhenti. Belum lagi, sekarang ini ketersediaan waktu untuk membaca relatif terbatas karena terbentur kesibukan lainnya.

Ketika godaan, hambatan, dan segala macam jenis inferioritas diri untuk kembali menulis datang, biasanya saya lawan dengan cara melihat dan memantau postingan tulisan  beberapa kawan penulis yang terbilang produktif di FB. Saya percaya bahwa lingkungan sangatlah berperan dalam membentuk kebiasaan seseorang. 

Tak hanya itu, sesekali saya juga mendatangi rumah kawan penulis lokal untuk sekadar sharing soal tulisan. Ketika melihat deretan lemari dengan tumpukan buku, ditambah lagi dengan melihat hasil karyanya, gairah untuk kembali menulis kembali menggebu. Ada rasa iri dan tidak mau kalah dengan kawan saya itu.

Pernah suatu ketika, belum lama ini, mata saya terbelalak. Saya dibuat tak percaya. Ketika ada seorang tokoh, Kyai sepuh, bisa menghasilkan karya dua buah buku hanya dalam waktu dua bulan. Dua buku tersebut ditulisnya selama masa pandemi yang membuatnya tidak bisa ke mana-mana, hanya bisa berdiam diri di rumah. Wow!

Kadang saya merenung, membayangkan betapa nikmatnya mereka yang menghabiskan sepanjang waktunya untuk menulis. Duduk berjam-jam sambil berpikir keras di depan komputer atau laptop hanya untuk menuangkan isi pikirannya kedalam sebuah tulisan.

Beberapa kawan penulis yang saya tanya, meski melelahkan dan menguras energi, menulis sudah menjadi pekerjaan yang begitu dinikmati oleh mereka. Ada yang mengatakan "menulis itu membebaskan. Membebaskan dari bigotisme". Ada juga yang mengatakan "menulis itu seperti bercinta, bikin ketagihan. So, no days without writing". Begitu ucap seorang kawan.

Siapa bilang pekerjaan penulis itu ringan? Beberapa penulis yang saya jumpai merupakan manusia kalong, siang dibuat malam dan malam dibuat siang. Kebiasaan begadang hampir tiap malam dilakukan karena inspirasi biasanya muncul pada malam hari. 

Beberapa penulis juga sering kali abai akan kesehatan. Saking asyiknya menulis, mereka kerap lupa makan dan minum. Sehingga jangan heran jika banyak penulis yang tampak kurus dan kering.

Mungkin benar kata Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Untuk menghasilkan sebuah karya yang abadi dibutuhkan perjuangan yang melelahkan. Termasuk untuk begadang di setiap malam, sebagaimana yang dilakukan kawan-kawan penulis.

Akhirnya, saya pun bertekad untuk kembali menulis, kembali untuk menemukan tujuan awal, kembali untuk merasa anak baru yang memulai menulis bahkan ketika tidak ada yang mau membaca tulisan ini pun, tak mengapa. Tugas saya hanyalah kembali menulis.