Saya percaya, selalu ada sisi baik dari sebuah peristiwa. Begitu juga dengan pandemi saat ini. Bagi saya pandemi memberi kesempatan saya menabung dan hasilnya dapat saya gunakan untuk membayar uang masuk sekolah anak saya.

Saya dan keluarga saya tinggal di dua kota yang berbeda. Saya, karena pekerjaan saya, terpaksa berpisah dengan keluarga yang memutuskan tinggal di kota yang lebih kecil, yang kami anggap lebih bersahabat untuk membesarkan anak kami. Kami terpisah lebih dari 500 kilometer.

Keputusan untuk tidak tinggal sekota tidak hanya berdampak pada frekuensi pertemuan yang jarang, tetapi juga pada keuangan kami. Bagaimanapun kami menghidupi dua rumah tangga. Ada fixed cost rumah tangga, yang terpaksa harus digandakan, seperti: biaya rekening listrik, biaya iuran lingkungan RT, biaya internet, dan lain-lain.

Pembengkakan pengeluaran bertambah untuk membiayai perjalanan saya pulang-pergi, setiap kali saya menengok keluarga. Kami memang bersepakat saya akan pulang dua minggu sekali. Selain harga tiket kereta api (saya paling sering menggunakan kereta api), perjalanan dalam kota juga tidak dapat dikatakan sepele. Memang sekarang dimudahkan (dan dimurahkan) dengan adanya ojek online (ojol), tetapi jika hujan, mau tidak mau saya harus naik taksi, dari dan ke stasiun.

Meskipun saya sudah berusaha sehemat mungkin dengan pengeluaran saya, tetap saja gaji saya ngepres. Pendek kata, hidup dengan dua rumah tangga yang harus dibiayai, saya tidak pernah punya tabungan berlebih. Kalaupun ada, sering juga terpaksa terkuras kembali karena ada keperluan mendadak.

Sejak pandemi Covid-19, kantor saya mewajibkan work from home (WFH) bagi karyawannya. Saya melakukannya dari kota tempat keluarga saya tinggal. Sejak Maret 2020 yang lalu, saya bahkan baru sekali menengok tempat tinggal saya di kota tempat saya bekerja. Selebihnya, saya berkumpul bersama keluarga saya.

Tanpa terasa, sudah hampir setahun kita menjalani ‘karantina’. Meskipun kadang kesal karena pergerakan tidak sebebas sebelum ada pandemi, ternyata ada hal positif yang saya petik dari sisi keuangan. Pengeluaran berkurang banyak. Tidak ada biaya perjalanan pulang-pergi antar kota. Tidak keluar uang untuk makan-makan di luar. Pernah berhitung berapa biaya makan-makan di luar? Ternyata lumayan juga, ‘kan?

Tidak ada juga alokasi anggaran untuk berwisata. Ya, meskipun wisata yang kami maksud sebagian besar kami lakukan di dalam kota, atau paling jauh berkunjung ke kota tetangga yang berjarak 60 kilometer dari rumah kami, tetap saja harus ada anggaran untuk melakukannya.

Bahkan tanpa sadar, sudah setahun lebih kami tidak mengeluarkan biaya untuk alas kaki dan baju untuk acara di luar rumah. Bersekolah dan bekerja dari rumah, tidak perlu berpikir tentang sepatu yang sudah ‘tidak layak pakai’. Semua pengurangan pengeluaran itu berarti ada sebagian uang gaji saya ‘tertabung’ (baca: tidak sengaja menabung), selama setahun terakhir ini.

Minggu lalu kami menghadapi wawancara keuangan dengan pihak calon sekolah anak saya. Ya, tahun ini anak saya lulus SMP, dan akan melanjutkan ke SMA. Kami memang mendengar bahwa sekolah yang kami minati itu ‘cukup mahal’. Tetapi kami melihat sekolah tersebut memenuhi kriteria sekolah yang kami inginkan.

Tidak seperti sekolah reguler yang biasanya hanya mengejar kemampuan kognitif siswanya, sekolah yang kami incar ini memiliki kekhasan dalam mengasah soft skill murid-muridnya, terutama dalam hal leadership dan empati pada sesama. Bukan sekedar mempelajarinya dengan cara membaca dan menghapalnya, tetapi mewajibkan siswanya merasakan sendiri hidup dengan keluarga tak mampu, live in. Beberapa teman kuliah saya kebetulan adalah alumni sekolah itu, jadi saya bisa menilai langsung hasil didikannya.

Sekolah itu juga mengenalkan siswanya untuk mencintai alam. Mereka memiliki sepetak lahan yang lengkap dengan ‘suasana’ pedesaan, dimana murid-murid dapat berpraktek menjadi petani dan mengenal alam. Begitu banyak hal ‘menggiurkan’ yang ditawarkan oleh sekolah tersebut, sehingga sejak belum punya anak, saya sudah bercita-cita menyekolahkan calon anak saya ke sekolah itu. Hahaha.. , segitunya, ya?

Ketika akhirnya kami deal dengan pihak sekolah tentang besaran uang pembangunan (uang masuk), saya baru sadar, ternyata saya tidak perlu cari pinjaman untuk melunasi uang sekolah itu. Sesuatu yang semula saya khawatirkan, kini ringan saja saya jalani. Uang tabungan saya bahkan lebih dari cukup, sehingga sisanya bisa saya gunakan untuk mencicil membayar hutang saya ke adik saya. Terima kasih, Semesta..

Pandemi memang membuat kita kerepotan karena mobilitas kita menjadi sangat terbatas. Tetapi ada beberapa hal positif yang juga dapat dipetik. Bagi saya, pandemi ini telah memaksa saya untuk menabung, dan hasilnya dapat saya gunakan untuk membiayai sekolah anak saya di tempat yang kami impikan. Sesuatu yang sungguh sangat saya syukuri.