3 bulan lalu · 676 view · 4 menit baca · Tips & Trick 44307_39921.jpg
motivasi-islami.co

Karena Membenci Zona Nyaman Mereka Sukses

Setiap orang membutuhkan motivasi. Tanpa motivasi, manusia akan hidup tanpa gairah, dan lamban dalam mengerjakan apapun. Oleh karenanya motivasi sangat berharga untuk menjadi surplus pembangkit semangat seseorang untuk meraih apa yang diinginkannya.

Untuk membangkitkan motivasi, bahkan seseorang bela-belaan membayar mahal untuk hanya bisa mengikuti seminar yang diadakan oleh motivator-motivator terkenal. Memang cara ini cukup ampuh. Namun, tahukah Anda bahwa seminar ini hanya cukup memotivasi Anda selama maksimal 3 bulan saja? 

Jika selanjutnya Anda tidak lagi menemukan hal yang bisa melecutkan semangat, maka Anda akan menjadi kurang termotivasi, kembali loyo, dan mudah untuk bermalas-malasan dan bersantai. Itu sebabnya mengapa kita harus berusaha menemukan apa yang sekiranya bisa menjadikan kita semangat setiap saat. Karena akan sangat tidak mungkin jika kita ingin mengikuti seminar motivasi terus-terusan.

Nah, ada satu hal yang saya kira bisa membangkitkan semangat setiap saat, dan akan membuat Anda mampu jadi benar-benar termotivasi untuk terus bekerja keras. Apakah itu? Ia adalah tekanan.

Memang tidak ada seorang pun yang menyukai tekanan. Semua dari kita akan selalu berusaha menghindari segala bentuk tekanan hidup. Tetapi percayalah bahwa ketika tidak hal yang menekan Anda, Anda akan hanya bersantai-santai saja, merasa semua baik-baik saja, dan merasa betah di zona nyaman. Inilah yang sangat berbahaya. Hal ini akan sangat berbeda jika tekanan menghampiri, Anda akan terpacu untuk bekerja, berpikir cepat, dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Inilah yang kemudian membuat sejarah mencatat bahwa rata-rata orang sukses sebagian besarnya,  lahir di bawah tekanan-tekanan hidup yang berat dan cukup kompleks. Tekanan hidup bisa berasal dari beragam hal. Bisa saja ketika Anda memiliki hutang namun kondisi uang Anda sudah habis, maka Anda akan memutar otak dan bekerja ekstra keras untuk menghasilkan uang, supaya hutang Anda terlunasi. Terlebih lagi jika kondisi Anda sudah didatangi Debt Collector berulang-ulang untuk ditagih. Mau tidak mau, Anda akan berpikir bagaimana pun caranya supaya bisa dapat uang dalam waktu cepat. Tekanan harus diakui sungguh mencabut kenyamanan dalam hidup kita, tetapi ketahuilah bahwa pada situasi genting seperti inilah proses kreativitas seringkali tumbuh. Sebut saja Merry Riana.

Awalnya gadis kelahiran Jakarta ini ingin kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti. Tetapi cita-citanya buyar karena kerusuhan yang terjadi di Jakarta Mei 1998. Untuk alasan keselamatan, akhirnya orang tua Merry memutuskan untuk mengirimkannya pergi kuliah ke Singapura.

Merry pun nekat berangkat ke Singapura tanpa persiapan dana yang memadai. Ia pun masuk Teknik Elektro di NTU (Nanyang Technological University). Dengan uang saku hanya 10 dolar per minggu, hidupnya harus superhemat. Untuk biaya kuliah ia bahkan berutang kepada pemerintah Singapura sebesar 40.000 dolar Singapura. Untuk makan sehari-hari, Merry lebih sering makan roti, mi instan, atau bahkan berpuasa.

Setelah dua tahun kuliah dengan kondisi ekonomi yang memprihatinkan, Merry mulai berani merancang cita-citanya. Tepat ketika ulang tahun ke-20 ia membuat semacam resolusi, “Aku harus punya kebebasan finansial sebelum usiaku 30 tahun.”

Cita-cita itu makin kuat dari hari ke hari. Namun meski sudah ada cita-cita dan semangat, Merry belum tahu bagaimana cara mewujudkan cita-cita itu. Pikirannya baru mulai terbuka setelah ia magang di perusahaan produsen semikonduktor.

Dari pengalaman magang ini, Merry melakukan hitung-hitungan, seandainya ia menjadi karyawan di perusahaan seusai kuliah, ia ternyata baru bisa melunasi utang dalam waktu 10 tahun, tanpa tabungan. Dia pun mikir, “Kalau begitu caranya, mimpi saya untuk bisa bebas finansial sebelum usia 30 tahun tak akan terwujud.” Setelah berpikir panjang Merry akhirnya memutuskan jalan berwirausaha untuk mencapai mimpinya.

Oleh karena tidak punya latar belakang dan pengalaman bisnis, Merry memutuskan belajar bisnis dengan mengumpulkan informasi melalui berbagai seminar dan melibatkan diri dalam organisasi yang berhubungan dengan dunia bisnis. Merry juga mencoba praktik dengan terjun ke MLM (Multi Level Marketing) meski akhirnya rugi 200 dolar.

Setelah tamat kuliah, Merry lebih intens belajar dari pengalaman para pengusaha sukses. Dia memulai kariernya dari sektor penjualan di bidang jasa keuangan. Kerja kerasnya menjual berbagai produk keuangan, seperti tabungan, asuransi, dan kartu kredit, hingga 14 jam sehari mulai membuahkan hasil. Dalam waktu enam bulan setelah bekerja, Merry bisa melunasi utang pada pemerintah Singapura.

Setahun setelah ia bekerja, tepatnya di usia 23 tahun, Merry sudah berpenghasilan 220.000 dolar singapura atau sekitar Rp 1,5 miliar. Setahun berikutnya, dia berhasil mendirikan perusahaan Merry Riana Organization (MRO) dan menjadi Group Director-nya. Dua tahun berikutnya, di usia 26 tahun, penghasilan totalnya mencapai 1 juta dollar Singapura atau sekitar Rp 7 miliar.   

Cita-cita Merry yang diucapkan pada saat berusia 20 tahun akhirnya terwujud. Inilah yang mungkin oleh Al-Quran dikatakan, “Sesungguhnya bersama kesulitan, selalu ada kemudahan”. Tekanan hidup (kesulitan) yang dialaminya semasa kuliah di Singapura justru pada akhirnya mengantarkannya mencapai sebuah keberhasilan.

Dari beliau juga kita belajar, bahwa sebesar apa pun tekanan hidup, cita-cita harus tetap ada. Karena itulah yang akan membangkitkan semangat kita untuk keluar darinya dan bisa memiliki kesempatan guna menikmati masa depan yang cerah.

Masih banyak sebenarnya kisah orang-orang sukses yang bernasib sama seperti Merry Riana. Silahkan baca kisah hidup orang-orang sukses, niscaya akan Anda temukan di sana pergulatan hebat tentang bagaimana mereka menghadapi kerasnya hidup sehingga mereka bisa menjadi seperti yang Anda lihat sekarang ini. Untuk itu sebagai penutup, di akhir tulisan ini saya ingin mengutip ungkapan Dahlan Iskan, beliau mengatakan, bahwa “Orang-orang hebat tidak dilahirkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Melainkan mereka dibentuk oleh kesulitan, tantangan, dan bahkan air mata.”