Pagi nampak ceria, suasana alam disambut aroma kehangatan. Sabtu, tepat 25 September 202, satu hari setelahnya bertepatan dengan momentum ‘Hari Tani Nasional’ yang jatuh pada setiap tanggal 24. Melalui Hari Tani mesti dapat menjadi momentum untuk merefleksi akan pentingnya pertanian di negeri ini. Iya, mengingat pertanian sebagai budaya lokal Indonesia dan warisan dari leluhur, petani pemberi manfaat pada umat manusia.

Sedikit menengok di negeri kita, pertanian justru masih menjadi polemik yang sampai hari ini belum terselesaikan, mulai dari kedaualatan petani, minimnya lahan pertanian, sampai pada krisis generasi untuk bertani. Dengan itulah, menjadi sangat penting untuk terus dapat memberikan edukasi, baik pada diri sendiri maupun orang lain, tak terkecuali juga pemerintah perlu didongkrak agar ada perhatian khusus terkait dengan persaoalan pertanian kita.

Melalui momentum Hari Tani Nasional, organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Majene tengah melakukan kunjungan dengan pemuda Loka Tani di Mapilli kabupaten Polewali Mandar, guna sharing-sharing terkait dengan persoalan pertanian.

Sekitar pukul 09.00 waktu Indonesia di Majene, anggota GMNI Majene tengah bersiap-siap untuk menuju ke tempat lokasi pemuda Loka Tani. Iya, karena kebiasaan lama, malah tak terasa dengan waktu, kami baru bisa berangkat sekitar pukul sepuluh.

Anggota dan kader GMNI Majene berangkat berjumlah 14 orang dengan mengendarai motor, perjalanan kami pun ditempuh kurang lebih satu jam, lalu dapat sampai di lokasi. Alhasil, sesampainya kami, malah kami tak langsung menuju lokasi ‘Loka Tani’, justru perbincangan banyak terjadi di rumah salah satu pemiliki lahan Loka Tani di Mapilli, beliau biasa disapa kak Taswin.

Kak Taswin salah satu pemuda yang merintis ‘Loka Tani’ di Mapilli, walau awalnya 'Loka Tani' terbentuk karena tuntutan pekerjaan dan juga karena orang tua beliau adalah petani. Hal itu pun yang mendasari ‘Loka Tani’ dirintis dan mulai untuk menamam serta perangkat-lerangkat petani yang lain pun dikerjakan.

Dalam kondisinya, saat ‘Loka Tani’ sudah nampak terlihat hasilnya, akhirnya banyak masyarakat setempat mulai teredukasi untuk bertani. Selain itu, beberapa kegiatan di ‘Loka Tani’ pun banyak yang sempat dilaksanakan, seperti kegiatan sharing antar petani, sampai dengan seringnya mendapat undangan untuk memberikan edukasi terkait pertanian. Nah, itulah sedikit gambaran kondisi ‘Loka Tani’ saat sebelum-sebelumnya, mengingat agenda menanam untuk Loka Tani kali ini diliburkan.

Sharing Bersama Pemuda Loka TaniBanyak yang mesti dapat dipetik dalam sharing bersama dengan kak Taswin. Sharing dan bercengkrama berada di rumah yang sudah tua dan sederhana, malalui itu kami disambut oleh  kak Taswin bersama dengan dua orang temannya.

Bung Agung selaku ketua cabang GMNI Majene juga banyak berbincang dengan kak Taswin. Perbincangan menuai kehangatan akan banyaknya masalah terkait dengan persoalan pertanian dan ketidakesejahteraan petani.

Ada hal menarik yang sering disampaikan oleh kak Taswin, “bagi petani, termasuk Loka Tani sendiri hanya butuh stabilitas harga yang jelas, agar petani sendiri pun tahu, kapan dan mulai dari mana harus menanam. Hal itu bertujuan supaya petani mengetahui segala kemungkinan dan resiko yang terjadi.”

Lebih lanjut kak Taswin menyampaikan, “petani sebenarnya sudah siap dan punya keinginan untuk menanam, akan tetapi karena kondisi harga yang tak jelas dan tak menentu, makanya dapat menjadi iming-iming kekhawatiran oleh petani, karena jangan sampai berada pada harga yang anjlok.”

Hal itu terkait dengan kondisi yang terjadi di ‘Loka Tani’ sebagai petani lombok/cabe, mengingat juga ‘Loka Tani’ yang sebelumnya menanam lombok sebagai komoditas bagi ‘Loka Tani’ sendiri.

Namun untuk hari ini, ‘Loka Tani’ sementara libur dan belum membuka lahan yang bisa untuk ditanami kembali. Dalam penyampaian kak Taswin, “seandainya Loka Tani dari kemarin-kemarin tetap menggarap tanah dan menanam lombok, tentu musimnya akan jatuh pada anjloknya harga lombok.” Itulah mengapa ada keinginan baru dari pemuda ‘Loka Tani’ untuk memulai menanam tanaman lain seperti bawang.

Oleh karena itu, pemerintah setempat mesti hadir di tengah-tengah petani untuk menyelesaikan segala problemnya petani, termasuk penetapan regulasi terkait masalah harga. Maka dari itu, problem tersebut mesti terus di pressure oleh mahasiwa kepada pemerintah agar adanya perhatian khusus kepada petani, termasuk persoalan harga dan lahan.

Bukan malah seperti yang dilakukan para penyuluh, dengan gercapnya mereka melakukan studi banding di daerah pertanian yang dapat dianggap contoh, tetapi saat turun ke petani malah tak mampu memberi solusi. Nyatanya, yang pergi studi banding malah PNS yang tak pernah terlibat di dalam pertanian, dan juga mereka hanya datang ke petani untuk menjelaskan terkait kondisi pertanian di daerah lain, dan tak terkecuali hanya menyuguhkan hasil dokumentasi, tanpa ada solusi sedikit pun.

Padahal, kalau dipikir secara masuk akal, mestinya petanilah yang harus studi banding, bukan malah para PNS yang tidak pernah turun di lahan, lucu sih kedengarannya, wkwkwk. Itulah megapa harus petani supaya mereka dapat menyaksikan langsung kondisi pertanian, mulai dari cara menanam, perawatan, dan pemasaran, serta masih banyak yang dapat dipetik oleh petani ketika ia sendiri turun langsung di lapangan.

Bertani Warisan Leluhur

Mesti diakui bahwa pertanian termasuk bidang pekerjaan unggulan di Indonesia. Mayoritas penduduk Indonesia bekerja pada bidang pertanian dan bahkan berlangsung sudah sejak lama. Makanya sangat tidak wajar jika samangat bertani bagi generasi merasa gengsi untuk bertani, karena bertani adalah warisan dari leluhur yang mestinya terus dilanjutkan.

Orang-orang tua terdahulu bertani supaya mampu bertahan hidup, bekerja dengan penuh semangat dan antusias bertani. Bahkan melalui pertanianlah, budaya lama Indonesia gotong royong justru terbangun erat, warga masyarakat dapat saling bahu-membahu untuk bertani, mulai dari garap tanah sampai pada penanaman tanaman.

Hal senada pun disampaikan oleh kak Taswin, “mungkin karena orang tua saya juga adalah sebagai petani, sehingga keinginan untuk bertani sangatlah tinggi, entah itu karena hobi atau apa, namun yang pastinya saya suka bertani.” Ujarnya kak Taswin.

Dengan demikian, generasi saat ini mesti melek bertani, bertani itu indah dan menyenangkan, dan yang paling penting “berikanlah kedaulatan pada petani.” Ketika petani sudah dapat berdaulat, para petani dapat makin semangat untuk bertani, dan generasi pun akan terpatri untuk bertani. Bertani sebagai sumber pemberi kehidupan orang banyak sehingga mereka dapat makan, karena memang bertani adalah warisan dari leluhur yang mesti terus dijaga dan dilanjutkan.