Ada banyak cara orang menuangkan fikiran dan perasaanya terhadap sesuatu berdasarkan yang ia rasakan. Seperti dengan mulusnya terlontar kata-kata dari mulut, intonasi dan romantika yang indah sehingga dapat mengadaptasi bagi pendengarnya. Namun, tidak sedikit pula justru sulit untuk mengungkapkannya secara langsung dari mulut.

Hidup adalah pilihan dan setiap manusia memiliki caranya masing-masing.  Ada karakter pendiam dan ada pula yang cerewet, ada yang bar-bar ada pula terlalu berhati-hati. Seperti halnya pribadi saya yang sulit untuk menceritakan masalah privat kepada orang lain secara langsung. Entah, itu apakah sifat bawaan sejak lahir ataupun ada faktor lingkungan yang mempengaruhi. Intinya saya sangat sulit untuk berbagi cerita pada orang lain secara langsung.

Tetapi karena dengan tulisan, justru tangan ini dengan mudahnya beraksi dan bergerak menuangkan perasaan dalam bentuk tulisan. Walaupun tulisan tidak seindah dan tersusun rapi seperti halnya tulisan para sastrawan, tetapi itu semuanya dapat tercurah berdasarkan cara kita sendiri sebagai penulis.  

Menulis, bagi saya itu adalah hobi. Entah,  kenapa ada perasaan bangga dan gembira ketika suatu tulisan bisa diterbitkan. Walaupun disadari bahwa tulisan tidak memiliki kualitas yang terlalu baik, mengingat dengan banyaknya penulis-penulis yang memang ahli dalam bidangnya.

Sedikit demi sedikit tulisan mampu diselesaikan. Tulisan yang berserakan mampu disatukan yang akhirnya dapat menjadi pengingat bahwa kita pernah hidup berdasarkan pada dokumen yang telah dibuat dalam tulisan. Makanya penting kiranya untuk tetap produktif menulis, menulis dengan tema apapun dan gendre apa pun. Asalkan tidak menulis hal-hal yang dapat mengundang permusuhan dan perpecahan.

Curhatan dari saya, sebagai mahasiswa jurusan Matematika. Ketika berbicara tentang Matematika, bisa saja akan terlintas di fikiran kita tentang angka-angka dan simbol-simbol. Latihan secara terus-menerus telah menjadi budaya bagi yang mengambil jurusan Matematika. Bolak-balik menurunkan rumus yang berjuta-juta jumlahnya meskipun sangat mempusingkan.

Ilmu Matematika memang dikenal dengan ilmu pasti. Rumus-rumus dan ketentuan yang telah ditetapkan harus dapat menjadi pedoman untuk belajar Matematika. Daya kreasi dan inovasi tentu harus berdasarkan pada ilmu Matematika yang telah ditetapkan. Beda halnya dengan ilmu sosial, yang bisa saja dibebaskan untuk dapat berfikir dan menganalisis sendiri.

Tetapi jika jurusan Matematika tentulah tidak. Matematika sudah menyediakan rumus yang memungkinkan kita berfikir berdasarkan pada aturan rumus-rumus yang telah diwariskan para pendahulu seperti Aljabar, Galileo Galilei dan filsuf Matematikiawan yang sederetan lainnya.

Inilah yang menjadi kegelisahan dan tantangan jika mengambil jurusan Matematika. Harus berani duduk berjam-jam hanya untuk latihan dan terus latihan mengerjakan soal-soal jika ingin memahami kerja-kerja dari ilmu Matematika.

Ilmu Matematika tidak akan dapat dipahami jika hanya dibaca tanpa dibarengi dengan praktik kerja soal. Karena jika tidak tabah mengerjakan soal dengan berjam-jam maka siap-siap saja untuk menanggung kepusingan yang tidak ada habis-habisnya.

Kegelisahan inilah yang menggelitik fikiran saya, sehingga memicu untuk terus bertanya-tanya. Kenapa saya mesti jurusan matematika?, bagaimana sih aktualisasinya dalam dunia nyata?, bagaimana ya, penerapan sin dan cosinus dalam dunia kerja, kemudian kenapa kita mesti banyak belajar membuktikan teorema-teorema namun tidak ada yang bisa kita jumpai pada dunia nyata.

Yang ada hanyalah kepusingan, menghabiskan waktu yang sedemikian banyak, hanya untuk bergelut dengan tugas-tugas. Bukannya saya menolak adanya tugas, tetapi pertanyaan yang terus menghantui fikiran saya adalah kenapa mesti kita membuktikan berbagai simbol tetapi ekspektasinya dalam dunia nyata tidak ada juga. 

Kalaupun ada berarti itu sudah terprogram dengan tekhnology seperti komputer, kita sebagai manusia mestinya menggunakan teknology tersebut hanya untuk keperluan kita saja.

Seharunya waktu yang kita miliki dipergunakan pada hal-hal yang dapat menimbulkan inovasi dan kreasi, bukan malah dihabiskan dengan berjumpa simbol x, y dan z. Pusing rasanya, karena tidak tau juga ekspektasinya seperti apa.

Apalagi kalau menjadi mahasiswa yang organisatoris, maka sangat jaulah apa diperlajari di kampus dan di organisasi. Oleh karena itu, mahasiswa yang jurusan Matematika masuk organisasi pergerakan, maka dibutuhkan kerja keras dan manajemen waktu yang baik antara bergelut dengan tugas-tugas kampus dan tanggungjawab organisasi.