Freelancer
2 bulan lalu · 37 view · 5 min baca menit baca · Lingkungan 97438_26304.jpg

Karena Kertas, Lingkunganku Hancur!

Kertas menjadi sahabat bagi para pelajar dan juga mahasiswa pada umumnya. Mengapa?, karena kertas adalah alat bagi mereka untuk belajar. Dalam bacaan sebuah buku, yang dipergunakan adalah kertas dan juga untuk menulis juga menggunakan kertas. 

Jadi, kertas begitu penting dan menjadi kebutuhan dalam meningkatkan pengetahuan dari masyarakat. Akan tetapi, kertas harus dipergunakan dengan baik. Jangan asal-asalan dibuang begitu saja, sehingga menjadi sampah. Itu sangat menjengkelkan!!.

Kertas sudah menjadi bagian penting, kok malah dibuang-buang. Harus dijadikan barang berharga, karena kertas sangat berguna bagi menunjang pendidikan anak masa kini. Siapapun harus mempergunakan kertas sebaik mungkin. Tidak menghalalkan segala cara juga untuk mendapatkan kertas.

Terkait dengan itu, miris melihat, karena untuk mendapatkan kertas seringkali alam, terutama hutan menjadi korban dari kekejian oknum penebang liar hutan atau ilegal logging. 


Dalam beberapa kesempatan, penulis melihat bagaimana pengangkutan kayu-kayu hasil penebangan liar diangkut menggunakan truk. Yang jelas dalam benak penulis, sudah pasti kayu tersebut dipergunakan salah satunya untuk pembuatan kertas.

Ini menjadi fakta yang buruk. Aksi penebangan liar hutan atau ilegal logging masih sering terjadi. Data menunjukkan Januari-November 2018 ditemukan ada 233 kasus perambahan hutan di Aceh Tenggara dengan luasan mencapai 1.038,4 hektar dan ilegal logging sebanyak 266 kasus dengan 641,92 meter kubik kayu. 

Secara keseluruhan, total kerusakan hutan di Agara mencapai 31.569 hektar. Sebanyak 12.892 hektar dirambah dalam rentang waktu tahun 2006 hingga November 2018. Sedangkan sisanya seluas 18.677 dirambah sebelum tahun 2006.

Dari kerusakan hutan seluas 31.569 hektar, seluas 19.948 hektar berada di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan 11.621 hektar di kawasan hutan Lindung. Akibatnya, luas kawasan hutan di areal TNGL menyusut menjadi 278.023 hektar dan Hutan Lindung berkurang menjadi 80.946 hektar (Serambinews.com).

Penelitian greenpeace mencatat tingkat kerusakan hutan di Indonesia mencapai angka 3,8 juta hektar pertahun yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas ilegal logging atau penebangan liar (Johnston, 2004). Sedangkan data Badan Penelitian Departemen Kehutanan menunjukkan angka Rp. 83 miliar perhari sebagai kerugian finansial akibat penebangan liar.     

Permintaan kertas tinggi

Permintaan atas kertas masih tergolong tinggi di dunia, bisa mencapai 394 juta ton dan akan terus meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. Karena permintaan atas kertas tinggi membuat permintaan akan kayu juga semakin tinggi. 

Tak dapat dipungkiri bahwa penebangan liar atau ilegal logging ini terjadi karena adanya kebutuhan dan keuntungan didalamnya. Banyak pihak yang mengharapkan itu, sehingga timbul keinginan untuk mendapatkannya dengan cara yang mudah. Daripada bayar, lebih baik memanfaatkan hutan sebagai pundi-pundi uang.

Pembuatan kertas sudah pasti menggunakan kayu diolah menjadi bubur kertas. Pembuatan kertas itupun tentu ada pihak perusahaan atau korporasi didalamnya. Jadi, bagi pihak perusahaan atau korporasi yang terlibat menggunakan kayu ilegal dalam pembuatan kertas harus dipersalahkan. Wajib mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan hukum tanpa adanya pandang bulu.

Kertas memang menjadi bagian penting dalam kehidupan, namun cara pembuatannya harus sesuai prosedur yang ada. Tidak bisa mengeksploitasi hutan untuk keuntungan dan kepuasan semata. Tidak bisa memanfaatkan hutan untuk uang, maupun harta dan menumbalkan makhluk hidup di dalamnya.


Ini yang harus ditentang oleh semua pihak termasuk pemerintah. Patut diusut tuntas kasus penebangan liar atau ilegal logging yang masih marak saat ini. Siapapun pihak yang terungkap melalui proses penyelidikan dan penyidikan wajib diproses hukum. Baik itu perusahaan atau korporasi yang besar dan kaya raya sekalipun harus diproses. 

Ini bukan masalah sepele, tetapi masalah besar ketika hutan telah hangus ditebang. Kehidupan akan terancam. Bencana melanda dan jiwa-jiwa mati tak berdaya, padahal bukan mereka yang salah.

Hukum dianggap remeh

Dengan adanya fakta mengenai maraknya penebangan liar membuktikan bahwa hukum masih tidak dianggap atau dianggap remeh. Hukum masih bisa disuap dan dipermainkan oleh oknum-oknum yang kaya raya. Terbukti bahwa penebangan liar tak pernah habis. Hutan dirambah, diangkut menggunakan truk dan diolah menjadi bubur kertas.

Sulit juga untuk memproses siapa pelakunya. Kalau hukum tegas dan tegak, tak mungkin penebangan liar terus terjadi. Omong kosong bila pelaku kejahatan dapat bertindak sesuka hatinya terhadap alam bila hukum di Indonesia ini tegak dan tegas. Selama ini kita hanya berkutat pada retorika, omongan dan janji-janji, sehingga yang terjadi tak ada perubahan di negeri ini.

Berjanji untuk menangkap dan menumpas pelaku penebangan liar serta oknum perusahaan yang turut serta didalamnya. Namun apa?, masih saja ilegal logging atau penebangan liar terjadi. Bencana alam seperti banjir dan longsor menimbulkan korban jiwa. Kemanakah pemerintah dan penegak hukum kita?. Apakah terlalu kuat pelaku penebangan liar atau ilegal logging, sehingga sulit untuk menyeretnya ke proses hukum?.  

Kertas memang penting bagi kehidupan terutama bagi pendidikan, tetapi jangan sampai karena kertas menimbulkan korban jiwa. Kertas harus menjadi sahabat bagi semua orang. Kertas harus menjadi sarana pengetahuan, bukan menciptakan penyakit maupun kematian. Pembuatan kertas harus ramah terhadap lingkungan. Kertas dan lingkungan harus menjadi sahabat sejati yang tak terpisahkan.

Oknum yang mencoba merenggangkan hubungan kertas dan lingkungan wajib diproses pidana. Mereka-mereka itu dapat dikatakan penjahat alam. Keuntungan menjadi patokan dan utama dan nyawa-nyawa dibiarkan saja melayang. Lebih penting keuntungan daripada nyawa. Begitulah kesimpulan dari semua tindakan penebangan liar atau ilegal logging yang melibatkan oknum perusahaan atau korporasi.

Masyarakat butuh kertas dan lingkungan. Tanpa keduanya, maka sulit untuk melanjutkan kehidupan. Perlu kesadaran masing-masing pihak agar lebih mengerti bahwa kertas dan lingkungan harus terjaga. Lawan segala bentuk keserakahan dan keangkuhan. Gunakan hukum sebagai senjata untuk menumpas segala kejahatan terhadap lingkungan. Dengan begitu, kita dapat hidup menjadi lebih baik lagi.

Saatnya sadarkan pula para perusahaan kertas yang ada di negeri ini agar mau menjaga lingkungan dengan tetap dapat memproduksi kertas. Sadarkan mereka dengan penegakan hukum yang tegas. Lakukan sosialisasi mengenai penegakan hukum bagi semua perusahaan kertas yang ada. Beritahu bahwa dampak negatif terhadap lingkungan akibat penebangan liar sangat membahayakan nyawa manusia. Produksi kertas harus tetap ramah terhadap lingkungan.


Saya, kamu dan kita menolak kerusakan lingkungan, terutama hutan dieksploitasi untuk membuat kertas. Kertas akan lebih berguna jika ada inovasi yang dibuat bagaimana membuat kertas tidak melukai alam atau hutan. Keuntungan bukanlah segala-galanya. Nyawa dari makhluk hidup lebih penting dari keuntungan tersebut.

Solusi yang baik agar lingkungan hutan tidak menjadi lahan bisnis dan keuntungan adalah lakukan produksi bahan pembuatan kertas dengan menggunakan lahan sendiri atau membeli bahan pembuat kertas dari pihak lain tanpa ilegal logging. Jangan sampai menggunakan hutan yang dimiliki oleh bangsa dan negara dieksploitasi agar keuntungan semakin melimpah ruah. Mari kita mencamkan bersama bahwa kertas penting dan lingkungan juga penting. Lakukan inovasi agar kertas dan lingkungan tetap bersahabat.

Artikel Terkait